
"Mana, dimana anak saya?" Ibu Nisa datang dengan tergopoh-gopoh.
"Bu, Nisa disini." panggil Nisa, yang masih di ruang tindakan.
Sang Ibu datang, dan langsung memeluknya. Apalagi, melihat banyaknya luka dan lebam yang di alami.
"Ya Allah, Nisa. Kok bisa begini?" tangisnya.
"Nisa ngga papa, kok. Luka dikit aja. Ais tuh, parah. Begitu demi nolongin Nisa."
"Mana dia?" tanya sang Ibu.
Nisa menunjuk ruangan sebelah, yang hanya berbatas dengan tirai. Ibu Nisa pun membukanya, dan tampak Ais tengah memggoda sang suami dan merangkul tangannya dengan mesra.
"Ais?"
"Eh, Ibu? Kesini?"
"Ya, mau jemput Nisa. Kamu, ngga papa? Dan ini?" Ibu Nisa menunjuk pria tampan yang ada di sebelahnya.
"Saya, suami Ais. Halim putra Pratama." jawab Lim, dengan menundukkan kepalanya.
"Tampan, meski beda jauh tapi apa yang dia inginkan dari Ais? Menikahinya di usia dini seperti ini?" fikir Ibu Nisa.
"Oh, ya... Saya, Ibu Nisa?" mereka berjabat tangan, dan sedikit ada rasa kagum darinya, pada sosok Lim.
"Nisa sudah baikan?" tanya seorang pria pada anaknya.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Ibu Nisa.
"Ini, Kak Dimas, Bu."
"Oh, ini yang namanya Dimas? Lumayan." batinnya dengan menatap pria itu.
Sosok sempurna, meski sedikit tampak lemah. Tak sekuat suami Ais, yang memiliki kedudukan tinggi, dan pewaris MC group.
"Saya, Asisten Tuan Lim." Dimas memperkenalkan diri.
"Nisa, ayo pulang." raih sang Ibu pada lengannya.
Tanpa banyak basa-basi, sang mama menariknya dan membawa Nisa keluar dari ruangan itu. Bahkan, tak memikirkan pembayaran untuk tindakan yang dilakukan pada pengobatannya.
"Ibu Nisa, galak?" tanya Lim.
"Oh...." Lim kemudian meraih tangan Ais, dan meletakkan nya di bahu. Ia kembali menggendong istrinya di belakang, lalu membawanya pulang kerumah.
***
"Dia ganteng."
"Siapa?" tanya Nisa.
"Suami Ais. Kenapa dia mau sama gadis seperti itu. Yang bahkan, katanya udah ngga perawan lagi."
"Ibu... Ais begitu karena jatuh dari pohon, bukan karena pergaulan bebas. Ais juga ngga mau begitu."
__ADS_1
"Tapi, siapa tahu itu hanya dijadikan kedok. Apa, Lim tak mempermasalahkan itu?"
"Engga... Kak Lim sudah sangat tahu Ais bagaimana. Kak Lim menerima Ais bagaimanapun adanya. Tidak bodoh, tapi dia sangat mengerti."
"Tahu sekali, kamu tentang dia." cibir sang Ibu, dengan tatapan yang sedikit aneh padanya.
"Ibu, jangan mikir macem-macem." ucap Nisa.
Mereka pulang dengan naik taxi. Sang Ibu pun memberitahu, jika Ais baru saja mengirim sebuah hadiah berupa sepatu baru untuknya.
"Ais selalu ingat Nisa. Dia tahu, Nisa juga butuh dengan sesuatu yang Ia beli. Nisa harus bersyukur, mendapat sahabat seperti dia." ucapnya.
Nisa pun segera membawa sepatu itu masuk ke kamarnya. Menyusunnya di rak sepatu, dan menatapnya dengan begitu bahagia. Ya, bersyukur sekali Nisa, ketika dipertemukan dengan orang baik seperti mereka. Meski, Ia masih harus Menaklukan hati Dimas.
"Berjuang seperti Nobita untuk Sizuka, atau harus menunggu seperti Hinata menunggu Naruto dalam diamnya?" fikir Nisa, menatap foto Dimas yang Ia ambil secara diam-diam di Hpnya.
***
"Ais kenapa?" tanya Papi Tama yang begitu kaget.
"Menantu kesayangan Papi, berkelahi lagi demi sahabatnya." jawab Lim, menurunkan tubuh Ais di sofa.
"Kalau ada sahabat kesulitan, Ais harus tolong. Iya kan, Pi?"
"Ya, seperti itulah menantu Papi. Papi bangga sama Ais." pujinya pada sang menantu.
"Haish, Dua orang ini sama saja." cebik Lim.
__ADS_1