
"Bu, Nisa mohon. Nisa ngga akan macem-macem di luar sana. Nisa akan kerja dan kuliah dengan baik." Nisa bahkan berlutut di hadapan sang Ibu dengan tangisnya.
Ibu Nisa terlihat semakin tertekan. Ia menghela nafas begitu panjang, hingga urat-urat di lehernya menampakkan diri begitu jelas. Dimas menatapnya dengan penuh tanya. Ia tahu, ada sesuatu yang dengan sudah payah sedang Ia tahan kali ini.
"Apa, semua berkaitan dengan Ayah?" Nisa mengangkat kepala dan menatap Ibunya dengan tajam.
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Karena Ibu, bahkan ngga pernah memberitahu mengenai Ayah, pada Nisa. Ayah bagaimana pun, Nisa ngga tahu rupanya bagaimana."
Deg! Seketika Dimas menatap sekeliling rumah Nisa. Memang, disana tak ada foto keluarga, bahkan foto pernikahan lawas sang Ibu dengan Ayahnya.
" Ya, Aku baru sadar jika tak pernah dengar mengenai Ayah Nisa." fikirnya.
" Kalau mau pergi, pergi saja. Buktikan perkataanmu, sama Ibu." ucap Sang Ibu, yang memang masih mau menutupi semuanya.
"Bu?" Nisa menatapnya nanar.
__ADS_1
"Pergilah, bereskan pakaianmu. Katakan pada Tuan Tama, terimakasih atas semua tawarannya.
Nisa mengusap air matanya. Ia segera berlari ke kamar dan membereskan semua pakaian yang diperlukan. Pertanyaannya mengenai sang Ayah dapat segera teralihkan. Meski sebenarnya, Ia masih sangat bertanya-tanya hingga saat ini.
"Kalau udah keluar sendiri, pasti bisa cari Ayah. Kumpulin dulu petunjuknya." ucap Nisa, dengan begitu antusias.
Dimas masih diam disana. Dengan banyaknya pertanyaan yang nenggelayut di dalam fikirannya..
"Ibu? Seberapa benci dengan orang kaya?" tanya Dimas.
"Maaf, untuk apa bertanya?"
"Ya, saya tahu. Tapi Satu pengalaman saja membuat sesakit ini. Apalagi, dengan banyak orang. Trauma yang saya alami, jangan sampai menurun ke anak saya." Ibu Nisa meminun air putih nya di meja. Tangannya gemetar, dan wajahnya pucat.
Obrolan terhenti manakala Nisa keluar dengan koper besarnya. Menyeretnya sendiri meski berat, dan sama sekali tak memanggil Dimas untuk meminta pertolongan.
" Kamu, ngga pernah mau kembali lagi?" tanya sang Ibu.
__ADS_1
"Ibu bilang, Nisa harus fokus. Tapi, ketika Nisa bertemu Ibu, pasti Nisa akan sulit kembali kesana. Jadi, Nisa minta izin untuk menetap. Nisa akan berusaha mengunjungi Ibu, nanti."
"Panjang lebar. Katakan saja, kamu ngga mau kembali."
"Buuuu..."
"Nisa, Ayo." Dimas membawa kopernya, mengajaknya untuk segera pergi. Ia sudah sangat tak nyaman dengan keadaan yang Ia temui saat ini.
Nisa mencium tangan Sang Ibu, lalu pamit lagi untuk pergi. Tak ada yang terucap dan bibir Ibunya. Hanya tatapan kosong, bahkan tangis pun tak ada untuk melepas kepergian sang putri. Entah, apa sebenarnya yang Ia rasakan saat ini. Nisa pun bingung harus bagaimana.
Nisa mengikuti Dimas dari belakang. Mereka pun masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di halaman rumah. Beberapa orang, menjadikan itu sebagai tontonan dengan segala pertanyaan dalam benak mereka. Tapi, Nisa sudah kebal dengan semua itu.
"Sudah?" tanya Dimas, bersiap menyetir mobilnya.
Nisa hanya mengangguk, mengusap air matanya meluruskan tatapannya fokus ke depan.
"Ya... Anakku akhirnya pergi. Akhirnya semua orang pergi meninggalkan aku. Tak hanya dia! Dia yang tak pernah punya pendirian untuk dapat mempertahankan anak dan istrinya."
__ADS_1
Tangis Ibu Nisa akhirnya pecah. Terisah, tersungkur di lantai meraung dengan begitu pedih. Mengingat masa lalu nya yang perih, yang membuat segala trauma dalam hidupnya hingga saat ini.
"Aaaaarrrrgghhh! Mas Wili, Aku benci kamu, Mas. Aku sangat benci kamu, bahkan hanya dengan memikirkan bayanganmu dalam fikiranku!"