Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Firasat Ais.


__ADS_3

Dimas dan Lim saling diam dan termenung. Tak mungkin jika itu Al, Karen AL sudah meninggal. Dan Al, tak Memiliki saudara bahkan kembar.


"Aku sendiri, yang mengantar ke pemakamannya. Aku sendiri pula, yang ikut mengkafaninya." ucap Dimas.


Li sadar betul, jika Dimas tak akan mungkin berbohong padanya. Karena kala itu, Lim masih dalam keadaan tak sadar diri pasca kecelakaan dan donor jantung itu.


" Aura, yang memindahkan jantungnya disini." Lim memegangi dadanya, dan merasakan detak jantungnya yang sedikit cepat kali ini.


Seketika teringat akan peristiwa itu. Peristiwa yang sangat ingin Ia lupakan selama ini. Dengan begitu sulit, bahkan harus mematikan perasaannya sendiri.


" Aku, harus menemui Aura." ucap Lim.


"Nanti, kau akan ku temani. Tapi saat ini, kita berkumpul dulu seperti biasanya. Ais, sudah menunggu kita bersama yang lain."


Lim mengangguk, lalu mendahului Dimas menuju meja makan.


"Kakak darimana?" tanya Ais.


"ngobrol dulu sebentar, dengan Dimas. Kenapa?"

__ADS_1


"Tadi Hpnya bunyi. Ais angkat, tapi ngga dijawab. Malah di matiin, ngga sopan." Ais memberikan Hp itu pada Lim.


"Nomor baru, siapa?" fikir Lim, yang mulai penuh tanda tanya.


Ais tak perduli. Ia menggandeng mesra suaminya untuk duduk bersama. Ia pun melayani suaminya dengan sebaik mungkin seperti biasanya.


"Kak Dim, mau ini?" Nisa pun melayani Dimas dengan baik.


"Nisa, aku bisa sendiri."


"Ngga papa, Nisa kan memang harus melayani semua orang disini."


Lim  meatap Ais tampak Murung, memainkan makanannya dan memanyunkan bibirnya. Lesu, seperti ada sesuatu yang tengah mengganjal hatinya.


"Ais kenapa?" Lim meraih piring itu, dan menyuapi sang istri perlahan.


"Ngga tahu... Perasaan, ngga enak banget. Pengen sedih, tapi ngga tahu apa yang mau di sedihin." jawabnya.


Lim dan Dimas hanya saling lirik. Agaknya, Ais merasakan apa yang tengah terjadi. Apalagi, hal itu juga akan memperngaruhi hubungan merek nantinya. Meski Lim sendiri telah meyakini Al telah tiada.

__ADS_1


Usai makan malam. Lim pamit dan pergi bersama Dimas. Ais bertanya, tapi Dimas menjawabnya santai. Hanya tak ingin Ais terfikir sesuatu yang berat baginya.


"Hanya ingin keluar, mencari angin segar. Sudah lama, kami berdua tak berkumpul seperti ini." ucap Dimas.


Ais hanya mengangguk, dan mencium tangan Lim ketika Ia pergi.


"Dia, begitu sensitif."


"Ya, tak tahu kenapa, tapi... Aku bahkan tak tega mengatakan ini padanya." balas Lim.


Mereka menuju kerumah Aura, dan menemui nya disana.


"Kapan kalian ketemu? Bagaimana, tingkat kemiripannga?" tanya Aura.


"Kalau mirip, hampir Delapan puluh persen. Tapi, kami belum pernah bertemu dia secara langsung." ucap Lim.


"Aku, hanya berpas-pasan dengannya, tadi. Hanya melihat, rambutnya, wajahnya, tapi matanya tertutup kaca mata hitam. Tinggi dan warna kulitnya pun sama." terang  Dimas.


Kata yang diucap Aura, persis yang diucap Dimas mengenai kematian Al. Bahkan, Aura menunjukkan surat donor yang di tandatangani langsung oleh Almira kala itu.

__ADS_1


" Ini, beberapa jam sebelum dia meninggal. Awalnya, ku fikir hanya bercanda dan aku nyaris membuang ini ke tong sampah. Buat apa? Karen aku yakin dia dapat bertahan, sebentar saja. Setidaknya sampai pernikahan kalian digelar. Meski hanya ijab qabul di brankar masing-masing."


__ADS_2