Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Bertemu Rival


__ADS_3

Keenam orang itu akhirnya tiba di salah satu pantai terkenal di kota itu. Setelah memarkirkan mobil masing-masing, mereka segera memasuki wilayah utama pantai.


“Haah, akhirnya bisa nyantai lagi setelah sekian lama. Moy, sering-sering ngajakin jalan-jalan gini ya, hehe.” Kata Cessa sambil merentangkan tangannya dan memejamkan matanya pada Momo ketika mereka berdiri menikmati senja di pinggir pantai.


“Setuju, iya kan bos? Jarang-jarang bisa santai gini, sekalian ngilangin penat gitu.” Timpal Kevin yang ditujukan pada Cleo.


“Menurut Ayy gimana?” Cleo tidak menjawab ucapan Kevin tetapi malah bertanya pada Momo tentang pendapatnya, karena keputusan Momo adalah keputusannya.


“Hmm, boleh aja kalo free.” Jawab Momo singkat.


“Dicatat.” Balas Cleo semangat. Dengan jawaban Momo, bisa dia pastikan gadisnya tidak masalah jika diajak jalan-jalan atau sekedar bersantai asalkan tidak ada kesibukan. Dengan begitu, waktu kebersamaan mereka akan semakin intens dan dia bisa segera mengikat gadisnya ke hubungan yang lebih serius. Dia tersenyum lebar hanya dengan memikirkannya, namun hanya sebentar saja sebelum kembali ke ekspresi datar dan dinginnya.


Mereka lalu berjalan menyusuri pinggir pantai menikmati senja yang indah itu. Pantai itu sangat ramai dipenuhi orang-orang yang datang dengan tujuan mereka masing-masing. Ada yang berfoto, ada yang mengejar sunset, ada yang hanya sekedar melepas penat, ada yang quality time bersama pasangan, ada yang berjualan mencari sesuap nasi dari para pengunjung yang datang, dan berbagai alasan lainnya. Cleo dan Momo nampaknya tidak mempermasalahkan keramaian itu karena mereka benar-benar ingin menikmati suasana pantai dan juga ada Kevin dan lainnya yang selalu mencairkan suasana dan membuat keduanya merasa nyaman.


Sepanjang jalan, Cleo dan Momo selalu bergandengan tangan, lebih tepatnya Cleo yang menggandeng tangan gadis kesayangannya tanpa berniat melepasnya dengan alasan agar Momo tidak terpisah dari rombongan mereka, benar-benar konyol. Momo hanya menurut saja karena sudah pasrah dengan kekonyolan Kokonya.


“Ayy, mau jagung bakar?” Tanya Cleo saat melihat penjual jagung bakar.


Momo mengikuti pandangan Cleo ke arah penjual jagung bakar. Seketika kekaguman datang dari benak Momo karena melihat sang penjual yang sudah memasuki usia renta namun masih bersemangat mencari sesuap nasi dari berjualan jagung bakar.


“Boleh Ko. Panggil yang lain juga sekalian.” Jawab Momo tersenyum melihat Cleo dengan tatapan bangga. Kokonya yang selalu dingin namun punya jiwa sosial yang tinggi dibalik sikap tidak pedulinya. Sikap yang tidak pernah berubah sejak dia mengenal Cleo.


Keduanya pun berjalan menuju penjual jagung bakar setelah Cleo memanggil Kevin dan yang lainnya untuk bergabung.


“Misi Kakek, jagung bakarnya 6 ya Kek.” Kata Cessa pada Kakek penjual jagung bakar itu.


“Siap Neng.” Balas Kakek penjual itu dengan ramah.


“Kakek udah lama jualan disini?” Tanya Cessa memulai obrolan sambil menunggu sang kakek memanggang jagung pesanan mereka.


“Udah lama Neng, mungkin udah 30an tahun saya jualan jagung bakar.” Jawab Kakek itu.


“Wah, udah lama banget ya. Kakek kenapa gak istirahat aja di rumah? Umur kakek sekarang itu lebih baik kalau kakek fokus istirahat.” Balas Cessa yang merasa iba dengan kerja keras sang kakek.


“Saya udah betah jualan, Neng. Kalo gak jualan tuh rasanya ada yang kurang. Istri saya juga sakit jadi saya harus jualan buat beli obat untuk istri saya. Anak saya di luar kota semua dan jarang pulang, saya juga gak enak minta tolong ke mereka karna udah pada berkeluarga, kan kasian juga mereka.” Ucap si kakek menjelaskan alasan dirinya yang masih bersemangat untuk jualan di usia tuanya.


“Kakek hebat, sehat selalu ya Kek.” Balas Cessa yang tidak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


Mendengar ucapan si kakek, Cessa menjadi terharu sekaligus iba dengan kerasnya hidup si kakek. Dia juga merasa kesal kepada anak-anak si kakek yang terkesan tidak peduli dengan kehidupan orangtua mereka terlepas dari alasan bahwa mereka sudah memiliki keluarga sendiri, padahal sebagai anak tidak ada alasan untuk tidak peduli pada orangtua yang sudah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh perjuangan.


Momo juga merasa sedih setelah mendengar ucapan si kakek. Cleo yang melihat ekspresi Momo menjadi tidak nyaman karena dia tidak suka gadisnya bersedih untuk alasan apapun. Dia hanya ingin Momo tersenyum bahagia, sehingga dia menarik Momo semakin dekat dan mengeratkan pelukannya di pinggang Momo yang membuat Momo berbalik sambil mengernyitkan dahinya bingung. Cleo hanya tersenyum dan mengelus pipi Momo untuk menenangkan gadis itu dan itu berhasil, Momo akhirnya tersenyum.


Lain dengan Kevin yang memandang Cessa dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia kagum dengan Cessa, karena dibalik keceriaan dan ketidakwarasan gadis itu, ternyata ada sisi dewasa yang ada dalam dirinya. Dia menganguminya.


Ery dan Kylo juga terharu mendengar ucapan si kakek, dan dengan refleks membantu si kakek memanggang jagung pesanan mereka bahkan meminta si kakek untuk duduk beristirahat saja, biarkan mereka sendiri yang memanggang. Awalnya si kakek keberatan, namun karena mereka berdua bersikeras dan juga didukung oleh Kevin dan lainnya sehingga si kakek pun membiarkannya dan berterima kasih.


Puas menikmati jagung bakar, mereka pun pamit kepada si kakek dan berterima kasih untuk jagung bakar yang sangat nikmat itu. Cleo yang membayar dengan meminta Momo yang memberikan uangnya kepada si kakek, bahkan uang yang diberikan kepada si kakek sangat banyak membuat si kakek enggan untuk menerimanya dan hanya ingin menerima sesuai harga pesanan mereka.


“Terlalu banyak ini Neng, saya gak bisa nerima. Cukup bayar sesuai pesanan tadi saja Neng.” Kata si kakek yang melihat banyaknya uang yang diberikan Momo untuk membayar 6 jagung bakar yang mereka makan tadi.


“Gak papa Kek, ini rejeki Kakek, jangan ditolak. Jagung kakek benar-benar enak, dan kakek pantas menerima rejeki dari Tuhan. Saya hanya utusan Tuhan untuk menitipkan sedikit rejeki ini untuk Kakek, jadi jangan ditolak ya Kek.” Balas Momo meyakinkan si kakek untuk menerima uang yang dia berikan.


“Ya sudah, terima kasih banyak Neng, saya terima rejeki ini. Semoga Eneng dan teman-teman Eneng semua selalu sehat dan murah rejeki. Tuhan selalu melindungi kalian orang-orang baik. Saya sangat bersyukur dapat pelanggan seperti Neng dan teman-teman Neng hari ini. Sekali lagi terima kasih banyak.” Kata Kakek terharu dan sangat berterima kasih setelah menerima uang dari Momo. Uang itu sangat banyak dan dia bahkan berpikir itu bisa untuk kehidupannya dan sang istri selama satu tahun.


“Oh iya, ini kartu nama saya Kek. Kalau Kakek butuh bantuan apapun, Kakek bisa hubungi saya atau datang langsung aja ke restoran saya. Kebetulan saya lagi nyari penjual jagung bakar, kakek bisa sekalian jualan di restoran saya.” Tawar Momo pada si kakek. Sebenarnya dia tidak benar-benar mencari penjual jagung bakar, itu hanya alasannya untuk membantu si kakek.


“Terima kasih banyak Neng.” Jawab si kakek dengan tersenyum bahagia. Dia sangat terharu dengan kebaikan Momo dan yang lain.


Momo mengangguk dan tersenyum kepada si kakek lalu pamit bersama yang lain. Si kakek yang melihat punggung mereka yang pergi menggenggam erat kartu nama yang diberikan Momo. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya. Yang pasti, dia sangat bahagia dan bersyukur hari ini.


Di sela-sela mereka menunggu pesanan datang, ada seseorang yang menghampiri meja mereka.


“Hai Momo, udah lama gak ketemu, kamu makin cantik aja.” Kata orang itu.


Cleo yang mendengar segera mendongakkan kepalanya menatap orang itu dengan ekspresi kesal dan marah, sedangkan Momo merasa bingung setelah melihat orang itu karena seingatnya dia tidak mengenal orang itu.


“Maaf, siapa ya?” Tanya Momo pada orang itu.


Cessa dan Kevin menahan tawa mendengar pertanyaan Momo, sedangkan Ery dan Kylo menahan kedinginan karena aura buruk dari Cleo yang sepertinya marah karena kehadiran tidak diundang itu. Orang itu yang mendengar pertanyaan Momo menjadi malu dan salah tingkah namun akhirnya memaklumi karena dia memang belum berkenalan dengan Momo sebelumnya.


“Uhuk, lupa ngenalin diri. Aku Jay, rival si Cleo dari jaman SMP. Aku udah kenal kamu dari SMA dulu, dan kamu gak berubah, selalu cantik.” Jawab orang itu yang ternyata adalah Jay, rival basket Cleo sejak SMP dulu.


“Oh.” Balas Momo singkat memutuskan obrolan itu. Dia tidak nyaman dengan tatapan dan kata-kata Jay yang seperti sudah akrab dengan dirinya padahal dia bahkan tidak mengenalnya dan tidak peduli dengannya.


“Eh, ah, iya. Cleo, kamu apa kabar? Makin sukses aja sekarang.” Sapa Jay pada Cleo setelah melihat ekspresi tidak nyaman dari Momo.

__ADS_1


Cleo yang sudah tidak dalam suasana hati yang baik semakin jengkel dengan sapaan Jay padanya. Dia benar-benar muak dengan orang itu yang selalu menganggapnya rival padahal Cleo sendiri tidak pernah menganggapnya.


“Pergi.” Kata Cleo singkat dengan nada yang sangat datar menunjukkan ketidaknyamanannya atas kehadiran Jay.


Jay yang malu diusir Cleo pun akhirnya pergi karena tidak ada yang mempedulikannya. Dia sangat malu dan marah pada Cleo dan berjanji akan segera merebut Momo darinya.


‘Setelah aku dapetin Momo, lihat gimana aku akan ngancurin kamu, s*alan.’ Batin Jay sambil mengepalkan tangannya dengan marah.


Akhirnya pesanan Cleo dan lainnya datang. Mereka lalu menikmati makanan mereka dengan damai. Setelah makan mereka beristirahat sebentar dan keluar dari restoran setelah membayar tagihan makanan mereka.


“Moy, siapa sih si Jay Jay itu? Sok asik banget orangnya.” Tanya Cessa penasaran.


“Gak tahu.” Jawab Momo yang memang tidak mengenal Jay.


“Lawab basktet dulu jaman kita sekolah. Timnya selalu kalah dari kita, makanya dia ngeklaim Cleo sebagai rivalnya. Emang gak pernah bener orangnya.” Kevin menjelaskan identitas Jay karena Cleo tidak berniat menjelaskan.


“Oalah, tapi kok tadi malah nyapa Momo bukannya kalian? Momo kan gak kenal sama dia?” Tanya Cessa bingung.


“Gak tahu, gila kali.” Jawab Kevin.


Mereka lalu terdiam dengan pikiran masing-masing sampai di tempat parkir lalu mengambil kendaraan dan kembali ke kediaman masing-masing setelah saling berpamitan.


Di dalam perjalanan tidak ada percakapan antara Cleo dan Momo karena Momo yang tertidur karena kelelahan. Saat ini, Cleo pertama kalinya merasa terancam dengan kehadiran Jay yang sepertinya menaruh perasaan pada Momo. Apalagi berdasarkan sifat orang itu, dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia akan memperingatkan Momo agar tidak terlalu dekat atau menanggapi Jay. Cleo tidak khawatir Momo direbut karena tidak mudah mendapat perhatian gadisnya, yang dia khawatirkan adalah jika Jay berniat jahat pada gadis kesayangannya. Dia berjanji akan menghancurkan Jay jika dia berani melukai gadis yang paling dia cintai itu.


Setelah mengantar Momo, Cleo langsung kembali ke apartemen. Setelah membersihkan dirinya, dia lalu menghubungi Jabby untuk menyelidiki seluruh informasi Jay dan juga menyusun rencana untuk berjaga-jaga sebelum akhirnya tidur.


Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.


Para readers sekalian… Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author, agar Author menjadi makin semangat nulisnya.


.


Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..


Salam hangat Author receh.. hehe


.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2