Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Zia masih saja dendam


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak kejadian itu. Kini Ais fokus dengan ujian akhirnya. Lim pun tak membiarkannya lagi menyetir motor ketika berangkat kesekolah.


"Kenapa?"


"Bahaya...."


"Tapi motornya udah diservis. Jadi aman 'kan?"


"Sekali tidak, tetap tidak."


"Ais ngga mau berangkat kesekolah." ancam Ais dengan membuka sepatu dan tasnya.


"Gurumu yang akan kemari." balas Lim dengan begitu santai.


"Kenapa?"


"Karena kau ujian. Kenapa bertanya, jika kau tahu jawabannya?" tukas Lim.


Ais hanya menunduk lemah. Ia kembali meraih sepatu dan memakainya, lalu Lim membawa kah tasnya keluar.


"Cepatlah, hari sudah semakin siang." pekiknya dari luar.


"Segeralah berangkat, besok Papi belikan motor baru buat Ais." bujuk Papi Tama.


"Serius?"


"Iya dong. Apa yang tidak untuk menantu kesayangan Papi ini." coleknya di dagu Ais.


Seketika semangat terpacu, dan Ais keluar menghampiri sang suami di mobilnya.


"Kenapa?" tanya Lim.

__ADS_1


"Apanya?"


Lim mendekatkan wajah pada Ais, dengan begitu dekat. Ais sedikit mundur untuk menghindarinya.


"Ada sesuatu. Kalian mencurigakan." ucap Lim.


Ais hanya menjulurkan lidah, membuat Lim mencebik kesal padanya.


***


"Yang serius ujiannya. Meski bukan nilai terbaik, yang penting lulus."


"Iya..." Ais mencium tangan Lim sebelum keluar.


"Setelah ini, mau kuliah dimana?"


"Belum tahu, nanti deh. Daah Kakak suami."


Ais pun berlari, mengikuti rombongan yang berjalan memasuki gerbang sekolah. Lim tersenyum, menatap kepergian sang istri yang tampak semakin bersemangat


"Sudah dong. Sayangnya, kelas pisah." sesal Ais.


"Ngga papa. Cuma kelas doang 'kan? Nanti juga ketemu. Bye..." lambainta pada sang sahabat.


Ais duduk dengan tenang di bangkunya. Susunan bangku begitu jauh, hingga tak ada satu pun yang dapat saling berhubungan..


"Pengen lulus juga, Loe?" cibir Zia.


"Haish... Padahala A dan Z itu begitu jauh hurufnya. Tapi kenapa sekarang masih satu ruangan." Ais mencebik kesal.


Ujian dimulai, para pengawas masuk dengan membawa dokumen soal ujian. Satu persatu mulai di kerjakan dengan baik, begitu fokus dan serius. Hingga waktu habis, dan bel berbunyi.

__ADS_1


" Kumpulkan semuanya."


"Baik..." jawab mereka serentak.


Dua mata ujian kali ini, dan dapat ditangani dengan tenang. Meski tak tahu, bagaimana hasilnya nanti.


"Loe ngga bawa motor?" tanya Nisa.


"Dilarang bawa motor sama Kak Lim. Padahal, udah sehati sama tuh motor."


"Wajar. Kak Lim itu perduli sama Loe. Jangan pernah sia-siain dia." ucap Nisa.


"Kebalik ngga sih? Kan dia, yang cuek mulu ama gue?"


"Loe cuma ngga tahu aja, seberapa perduli dia sama loe, Ais. Tapi gue belum tahu, itu cinta atau bukan."


"Hhh, lucu." tawa renyah Ais, menggigit wafer ice cream di bibirnya.


Plaaaakkk! Sebuah pukulan mendarat di belakang kepala Ais.


"Woy!" pekiknya keras.


"Puas Loe, udah hancurin masa depan gue? Bokap gue sekarang dipenjara gara-gara Loe!!"


"Lah, kenapa Gue? Apa masalahnya?" tanya Ais, bingung.


"Pasti Loe, dan suami Loe itu yang ungkit masalah bokap gue 'kan? Gue lihat Asisten itu ketika Bokap gue ditangkap!" Zia semakin histeris.


Ia menjerit sekuat tenaga, membuat semua orang lari melihatnya. Ais hanya diam, karena memang tak tahu akan apa yang terjadi padanya.


" Kak Dimas sama Kak Lim, mencari tahu kasus Papa Zia. Dan segala bukti terkumpul, hingga Papa Zia akhirnya ditangkap." ucap Dimas, ketika Ais bertanya padanya via telepon.

__ADS_1


"Astaga, Kakaaaaaaak!" pekik Ais.


Ia tahu jika Lim perduli, tapi tindakan itu terlalu brutal. Ais bahkan merasa bersalah pada Zia. Apalagi, gadis itu tampak stres berat kali ini.


__ADS_2