Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Lebih baik jadi pengecut, dari pada membahayakanmu


__ADS_3

Ais hanya mendelik kesal. Padahal Ia sudah berusaha tampil cantik, tapi Lim menghapusnya.


Perjalanan kembali di mulai. Lim menyetir dengan cepat, apalagi jalanan lengang. Ia begitu fokus, bahkan nyaris tak bicara sama sekali hingga membiarkan Ais mengantuk dan tidur dengan sendirinya.


"Muka bantal." ucap nya.


Perjalanan Tiga jam. Lim menyetir sendiri tanpa ada yang menggantikan. Ia menghentikan mobil, dan beristirahat sejenak meluruskan pinggangnya.


"Udah sampai?" tanya Ais..


"Sebentar lagi."


"Lama banget...." keluhnya, sembari merenggangkan otot.


"Besok belajar menyetir, supaya tahu lelahnya perjalanan jauh."


Lim memutar mutar lengan dan bahunya, lalu menggerakkan lehernya hingga mengeluarkan bunyi.


"Kakak suami..." panggilnya manja.


"Apa?"


"Capek?"


"Kenapa tanya, kalau sudah tahu jawabannya?"


Ais pun menegapkan duduknya, meminta Lim sedikit memutar badan membelakanginya. Ia memijat punggungnya dengan lembut, hingga terasa begitu nyaman.


"Enak?" tanya Ais.


"Ya, terimakasih." ucap Lim.


Mereka tak melanjutkan perjalanan. Ais justru turun dari mobilnya. Lim berhenti tepat disebuah tempat yang indah, dengan pemandangan yang menakjubkan.

__ADS_1


"Mau kemana?" panggil Lim.


"Menikmati pemandangan. Sesekali refreshing, apalagi Ais baru aja ujian. Ayok, Kakak." ajaknya..


Lim menurutinya. Mereka berjalan lebih jauh menuju ke sebuah taman. Ais sedikit ingat tempat itu, melalui ingatan masa kecilnya.


"Kayaknya, disana ada jembatan. Sana yuk?"


"Mau cari apa? Perjalanan masih jauh."


"Sebentar," tariknya pada lengan sang suami.


Ya, ucapan Ais benar adanya. Persis ditempat yang Ais tunjuk, ada sebuah jembatan gantung yang melewati sungai besar di bawahnya.


"Ini, kalau diturutin, tembus ke kampung Mama. Tapi, jalan kaki. Mana panjang banget jembatannya." jelasnya.


"Ayo, kita coba."


"Ayo?"


"Takut..."


"Katanya preman, pemberani dan tangguh." ledek Lim. Ia pun berjalan, melewati jembatan itu.


Tak terlalu kecil, karena lebarnya 1,5 meter. Tapi karena jarak yang jauh, mejadi begitu mengerikan. Apalagi jika di terpa angin, maka jembatan itu akan bergoyang-goyang dengan syahdunya.


" Kak, tunggu." panggil Ais, yang masih diam dibelakangnya.


Lim menatapnya, dan melambaikan tangan agar Ia segera menyusul. Ais mulai melangkah dengan ragu. Satu persatu dengan berpegangan pada pinggiran jembatan itu.


"Jangan lihat kebawah, kau akan mual." ucap Lim.


"Fokus ke depan, Ais. Fokuslah ke depan dan kejar suamimu." gumamnya.

__ADS_1


Langkahnya terbata-bata, seakan ingin terhenti di tengah jalan.


Takkk! Lim menghentakkan Satu kakinya. Menciptakan sebuah goyangan di jembatan itu.


"Aaaarrrghhh! Kakaaaaak!" pekik Ais, memegang pinggiran jembatan semakin erat.


Melihat ketakutan itu. Lim bukan berhenti, justru menggoyangnya semakin kuat. Bahkan, tangannya ikut andil membuat guncangan di jembatan itu.


"Aaarrrghh! Kakaak! Makin lama makin jadi, ngeselin."


Ais semakin memekik sejadi-jadinya. Wajahnya semakin pucat, hingga akhirnya Ia nekat lari menghampiri Lim yang ada ditengah jembatan.


Buughhh! Pukulnya di bahu Lim dengan kuat.


"Aaakhhh,"


"Makanya, jangan main-main. Ais jatuh, jadi duda entar."


Lim hanya tersenyum. Tapi tampak lebih lepas dari biasanya. Ia kemudian menggandeng tangan Ais, berbalik arah kembali ke jalan utama.


"Kenapa naik mobil lagi? Katanya, mau tantangan?"


"Jika tantangan itu membahayakanmu, maka aku lebih baik di bilang pengecut."


"Kenapa?"


"Karena, aku tak ingin kau menjadi resiko terbesar dalam hidupku." ucap Lim, kembali pada tatapan tajamnya yang begitu mempesona.


Ais tersipu malu, tangannya pun gemas mencubiti dada Lim yang tampak kekar berdiri di hadapannya itu.


"Sudah?" tanya Lim.


Ais mengangguk, lalu berjalan menuju mobil mereka.

__ADS_1


__ADS_2