Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Balas dendam Kak Lim


__ADS_3

Lim membawa Ais kekamar setelah Papi Tama selesai bertanya. Wajah Ais masih begitu banyak luka lebam, dan hidungnya masih sedikit meneteskan cairan merah. Belum tahu di bagian lain, karena seperti nya para preman itu tampak brutal.


"Mana lagi yang sakit?" tanya Lim, dengan sekotak perlengkapan P3K.


"Ada, tapi....."


"Kalau malu denganku, kenapa meminta pulang? Harusnya meminta perawat saja yang mengobatinya."


"Ais takut suntik. Jangan ngomel terus lah. Di sayang, Kek. Istri lagi luka begini." sergah Ais.


"Mau ku sayang? Jadilah gadis yang manis, meski tak seperti Nisa."


"Bandingin terus!"


"Karena ada yang dibandingkan." jawab Lim datar.


Ais yang memang tengah berhadapan dengan Lim akhirnya kesal. Ia meraih bahu sang suami, dan menggigitnya dengan kuat.


"Aargh!" erang Lim, pelan.


Ia tak berteriak, meski rasanya begitu sakit. Tetap diam, hingga Ais melepaskan gigitannya.


"Puas?" tanya Lim.


Ais kemudian membuka kotak P3K itu, dan mengambil beberapa helai kasa dan alkohol.


"Lebih baik Nacl."


"Sok tahu."


"Almira dokter, jadi aku tahu."

__ADS_1


"Dia lagi." Ais mengela nafas.


Ais seolah lupa dengan sakitnya, lalu membersihkan luka gigitannya di bahu Lim.


"Besar, Lukanya?"


"Lumayan, maaf." jawab Ais.


"Apa dengan begitu, bisa meredakan emosimu yang suka meledak sembarangan?"


Ais hanya menggeleng. Ia bahkan tak tahu, apa yang Ia rasakan saat ini. Marah, kesal, dan Ia tak suka jika di bandingkan. Karena Ia tahu, setiap orang pasti berbeda.


"Buka bajumu..."


"Hah, buat apa?" tanya Ais, menutupi dadanya.


"Kau tak bis mengobati luka mu sendiri, bukan? Berputarlah." Lim memutarkan jarinya pada Ais.


Ais perlahan membuka kancing bajunya, dan menurunkan nya sedikit. Tapi, Lim justru menurunkan baju itu hingga kebawah.


Lim hanya menegapkan bahunya, agar tak bergerak kemana-mana.


Luka, lebam itu masih tampak merah. Siang ini belum terasa, pasti Ia akan merintih ketika malam hari. Lim membersihkannya, dan mengoleskan salep di pinggiran nya agar tak terlalu sakit.


"Jaga diri, jangan sampai tubuhmu luka lagi." ucap Lim, memakaikan baju itu kembali.


"Harus mulus, kayak Almira? Kakak udah lihat?"


"Pernah...."


"Aaaarrrrghhh! Menyebalkan!" gerutu Ais dalam hati.

__ADS_1


"Hanya saja, aku ingin ketika moment spesial kita nanti tubuhmu yang mungil ini tampil dengan sempurna." bisik Lim di tengkuk Ais, sembari merangkul tubuh Ais dari belakang..


Gleeek! Ais menelan salivanya kuat-kuat. Apalagi, pelukan itu membuatnya merinding hebat.


" Mo-moment spesial?" lirih Ais.


"Tidurlah. Istirahat, dan nanti ku bangunkan." Lim berdiri dan meninggalkannya keluar.


"Kenapa, Kakak suami semakin begitu? Ya, aku tahu karena itu. Tapi..... Ah, sudah lah. Mending tidur." Ais melempar tubuhnya ke ranjang dengan kuat.


"Pi, Lim kembali ke kantor."


"Ais mana?"


"Tidur, nanti kalau sudah sore, minta Narti membangunkannya."


"Baiklah." ucap papi Tama.


Lim dijemput Dimas, yang datang belakangan karena mengurus motor Lim.


"Rekamannya, bagaimana?"


"Aman, sudah ku simpan. Mereka keroyokan, dan memang gadis kecil itu yang mulai." jelas Dimas.


"Cari tahu siapa Dia."


"Sudah... Dia anak seorang pejabat daerah. Dan bahkan katanya, menjadi salah seorang terduga kasus korupsi tambang di daerahnya."


"Terduga?"


"Ya, belum ada bukti kongkrit. Atau, dia pandai memanipulasi data." balas Dimas, yang ternyata sudah begitu jauh melangkah.

__ADS_1


"Jadikan Dia tersangka." perintah Lim.


Dimas hanya menoleh, lalu menganggukkan kepalanya.


__ADS_2