Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Antara masa kini dan masa lalu yang kelam


__ADS_3

Dimas ke kampus Nisa. Ia bertanya pada semua teman kampusnya disana. Meski kadang seolah tak memperhatikan, tapi Ia mendengar semua curhatan yang diucap Nisa padanya. Bahakan, mengenai siapa saja teman akrabnya di kampus itu..


"Permisi, Aldo?" sapanya pada seorang mahasiswa.


"Ya, saya sendiri, kenapa?" jawabnya ramah.


Dimas menanyakan mengenai Nisa padanya. Tapi, memang Nisa tak ada ke kampus hari ini karena jadwalnya kosong.


"Ini, Pak Dimas?" tanya Aldo balik.


"Ya, saya. Ada apa?"


"Wuuiih, ganteng pula pujaan hati Nisa. Gagah, dewasa, mantaplah."


"Pujaan hati?" Dimas memicingkan mata.


"Iya, Pak Dimas pujaan hati Nisa. Sudah sejak setahun lebih, katanya sih."


"Oh, baiklah. Terimakasih atas infonya." Dimas pun pergi, menuju rumah Ibu Nisa. Ia akan di bawa ke rumah utama dan mengungsikannya disana.


**


Rumah tampak sepi. Dimas mengetuk pintunya perlahan dan kemudian Ibu Nisa membuka pintunya.


"Pak Dimas, kenapa kemari?"

__ADS_1


"Saya...."


"Nisa dimana?" tolehnya.


"Nisa.... Ehmm, Ibu ikut saya dulu. Saya akan bawa Ibu pulang ke rumah utama."


Meski penuh tanda tanya, Ibu Nisa pun Tetap ikut dengan Dimas.


"Ada apa?" Tanya Bu Ratna.


"Belum tahu, tapi....."


Bu Ratna nemotong ucapan Dimas. Ia memberikan sesuatu padanya. Sebuah dompet, yang kebetulan jatuh di depan.


"Bu, maaf. Sepertinya, salah sasaran."


"Lalu, Nisa dijadikan tumbal? Untuk apa lagi? Masalah harta, cinta, atau apa?" Bu Ratna menatap kedepan dengan wajah datar. Tanpa ekspresi, tapi air matanya mengalir dengan deras disana.


"Maaf, nanti akan kami jelaskan. Maaf." hanya itu yang dapatĀ  Dimas katakan.


Perjalanan berlanjut, hingga mereka tiba di rumah utama. Ais menyambut, mencium tangan dan memeluknya.


"Bu Ratna, kami minta maaf." Lim menghampirinya.


"Bagaimana, dengan anak saya? Dia menjadi korban permasalan keluarga kalian! Bisakah, kalian tak melibatkan orang awam dalam masalah ini?"

__ADS_1


"Kami, akan jelaskan semuanya." sesal Lim.


Papi Tama datang. Ia tak kalah syok dengan yang lain, apalagi Ia sudah terlanjur menyayangi Nisa seperti anaknya sendiri.


"Lim, bagaimana dengan....." ucapanya terhenti, ketika mantap Bu Ratna, tepat ada di depan matanya.


"Ratna? Kamu kesini?" kagetnya.


Bu Ratna menoleh, dan menatapnya dengan tajam. Tak kalah syok, dengan tatapan yang di berikan Papi Tama padanya..


"Mas Tama, dimana dia?" tanya Bu Ratna dengan mata yang mulai memerah. Tatapan itu berpindah pada Pak Wil, yang baru saja datang menghampiri semuanya.


"Mas Wildan?" panggil Bu Ratna.


"Rat? Kamu disini? Aku sekian lama mencarimu." ucap Pak Wil.


Semua menatap bingung. Bertanya-tanya akan hubungan mereka semua. Hanya Bu Ratna, diam seolah terpojok oleh keadaan. Anaknya hilang, dan Ia justru bertemu dengan masa lalunya yang kelam.


Ya, Pak Wil dan Papi Tama. Mereka adalah bagian dari masa lalunya. Yang membuatnya jatuh terpuruk dan nyaris tak berani menampakkan diri ke dunia luar.


"Aaaaaarrrrghhh! Kenapa begini? Kenapa aku justru bertemu dengan kalian? Aku sudah sekian lama berusaha melupakan, kenapa sekarang muncul?" Bu Ratna histeris, tak dapat terkendali.


Ais menghampirinya, mesku berkali-kali di tepis dan di dorong hingga jatuh. Lim berusaha menolong, tapi Ais mencegahnya.


" Bu... Ini Ais. Ais akan menemani Ibu hari ini. Nisa akan segera di temukan, Ais janji." bujuknya dengan begitu lembut.

__ADS_1


__ADS_2