Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Tragedi lingerie nyasar


__ADS_3

Lim pulang tanpa sambutan dari sang istri. Ia tak heran lagi, karena pasti Ia tertidur sore ini. Ia pun naik, dan langsung menghampirinya dikamar.


"Ais, sudah sore, bangunlah." ucap Lim.


Ais pun menggeliatkan tubuhnya, lalu bangun dengan mata yang masih terpejam. Rambutnya pun begitu berantakan, apalagi seragamnya masih Ia pakai.


"Hhh, untung aku sudah terbiasa." fikirnya.


"Ayo bangunlah, dan segera mandi. Aku akan mengajakmu pergi setelah ini."


"Malas, nanti saja." keluhnya.


Tanpa aba-aba, Lim bergerak meraih bantal kecil Ais. Tapi Ais tak kalah cepat. Ia yang faham, langsung memeluknya dengan erat.


"Oh, tidak bisa." ucap Ais, mengibaskan jari telunjuknya.


"Cepat mandi, atau...."


"Iya...." Ais beringsut, lalu berlari ke kamar mandi dengan begitu cepat.


Lim duduk sejenak, menunggu giliran sembari menatap laptopnya.


"Kak!" pekiknya dari dalam..


"Hmmm?"


"Handuk Ais ketinggalan. Tolong dong."


"Keluar saja, aku tak melihatnya."

__ADS_1


"Mana mungkin. Tatapanmu itu, setajam burung elang yang sedang mencari mangsa." jawabnya lagi.


Lim mendelik seketika, "Pandai juga dia merangkai kata."


Ia pun berdiri, lalu mengambil handuknya untuk sang istri.


"Ini..." ketuknya.


"Kok handuk ini? Handuk kimononya?"


"Itu saja. Sama saja, namanya handuk."


"Makin banyak omong, makin ngeselin." cebik Ais.


Lim sepertinya lupa, jika handuk yang Ia berikan adalah handuk yang pendek. Ketika Ais memakainya, maka handuk itu menutupi hanya sebagian kecil tubuhnya. Begitu tinggi diatas lutut, dan bagian dada nya begitu turun. Menampakan dengan jelas, dadanya yang membusung dengan begitu indah.


Lim menelan salivanya kasar, lagi dan lagi.


Lim menghampirinya, mendekatinya dengan begitu dekat. Bahkan, menghimpit tubuh Ais yang menempel ke dinding.


"Kakak, mau apa?" tanya Ais.


"Kau siap?"


"Siap, dari awal menikah pun siap. Eh, siap apaan?" tanya Ais lagi.


"Siap untuk pergi ke pesta. Segelah ganti baju, dan berdandan yang cantik. Setelah itu, hantarkan handuk padaku." ucapnya, lalu membuka pintu kamar mandi yang tepat ada dibelakang Ais.


"Kirain mau apa?" tangisnya semu.

__ADS_1


Ais mengganti pakaiannya dengan sebuah gaun. Meski sederhana, tapi tampak begitu indah ketika terpasang di tubuhnya. Ia mengurai rambutnya, dan memberi beberapa jepitan lucu, serta memberi aksen ikal ke ujung rambutnya yang hitam berkilau itu.


"Baju ku, mana?" tanya Lim.


Ais segera mengambilnya. Ia pun membantu Lim memasang semua di tubuhnya. Semakin terbiasa, dan Lim semakin nyaman dengan itu semua.


"Sudah..." ucap Ais, yang sukses membuat suaminya makin tampan.


Mereka bergendengan keluar dari kamar, dan berpamitan dengan Papi Tama yang tengah menikmati makan malam.


"Mau kemana?" tanya Sang Papi.


"Ada pertemuan, sekaligus pesta peresmian. Bawa Ais untuk mulai memperkenalkan dia ke para kolega." ucap Lim.


"Oh, bagus sekali itu. Ais, harus ramah pada mereka. Setidaknya senyum, tapi jangan terkesan genit."


"I-iya, Pi. Pamit dulu." ciumnya ditangan sang mertua.


Gandengan tangan tak lepas, bahkan hingga tiba di mobil Lim. Ais pun masuk, dan dengan semangatnya menuju sebuah pesta.


"Eh, apa ini?" Ais menemukan sebuah paper bag. Ia tahu, ada isi di dalam nya. Dan karena penasaran, Ia membuka dan mengeluarkan isinya.


"Ieeewwwh... Apa ini?" ucapnya, yang justru membuka lebar-lebar pakaian dalam itu.


"Ais, sudah si..... Lah, itu apa?" tanya Lim, yang tak kalah kagetnya.


"Kenapa tanya Ais? Ini ada di mobil kakak. Hayo ngaku, ini punya siapa?" omel Ais, yang tampak begitu meradang.


Ais memukuli bahu Lim dengan brutal, membuat mobil bergoyang dengan begitu kuat. Lim hanya diam sembari mengingat milik siapa itu.

__ADS_1


"Will, mereka mau berangkat. Kenapa justru kelepasan di dalam mobil?" tanya Papi Tama.


"Biarkan saja. Toh, Anda sudah kebelet punya cucu. Lagipula, mereka masih dirumah. Bukan di taman atau ditempat umum." ujar Pak Wil.


__ADS_2