Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Momo Khawatir


__ADS_3

“Halo Ayy.” Jawab Cleo dengan suara serak khas orang sakit sambil tersenyum mendengar nada khawatir gadis kesayangannya.


Momo menghela napas lega setelah mendengar suara Cleo, namun tidak mengurangi rasa khawatirnya setelah mendengar suara serak pria di seberang telpon itu.


“Koko dimana? Koko sakit?” Tanya Momo lagi dengan nada yang masih sama khawatirnya ingin memastikan kondisi pria itu.


Cleo tersenyum sebelum menjawab pertanyaan yang membuat hatinya menghangat itu.


“Koko di apart, Ayy. Koko baik-baik aja, cuma pusing dikit. Maaf Koko ganggu kamu tengah malam gini.” Jawab Cleo menjelaskan situasinya namun berbohong mengenai sakit yang dirasanya, sekaligus meminta maaf pada Momo karena mengganggu waktu tidurnya.


“Bohong, suara Koko serak gitu mana bisa sakit kepala doang? Koko demam? Koko abis mimpi buruk?” Balas Momo yang tahu bahwa pria itu sedang berbohong. Dia sangat hafal bagaimana suara Cleo saat sakit karena dulu dia yang selalu membantu Mami Clarissa merawat Cleo. Apalagi dengan fakta Cleo yang menghubunginya di tengah malam, sudah pasti Cleo mengalami mimpi buruk. Kebiasaan Cleo ketika sakit adalah bermimpi buruk, itu sudah menjadi rahasia umum untuk orang-orang yang dekat dengannya.


Cleo tertawa ringan mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari gadis kesayangannya itu sebelum menjawabnya.


“Beneran Ayy. Koko sakit kepala aja abis kena ujan kemarin, gak demam kok. Dan untuk mimpi buruk, iya, Koko tadi mimpi buruk tapi lupain aja, Ayy lanjut tidur ya, Koko tadi kangen aja sama kamu jadi nelpon, maaf ya.” Jelas Cleo agar Momo tidak lagi khawatir dan tidak ingin membahas masalah mimpi buruknya lebih lanjut.


“Koko beneran gak papa?” Tanya Momo lagi.


“Iya Bebe. Udah, sana tidur.” Jawab Cleo sekaligus meminta gadisnya untuk lanjut beristirahat, dia merasa bersalah sudah mengganggunya.


“Hm, ok. Night Koko.” Ucap Momo langsung memutuskan panggilan telepon itu tanpa menunggu jawaban Cleo lagi seperti biasanya dan lanjut tidur.


Karena panggilan sudah diputuskan oleh Momo, Cleo hanya bisa menghela napas pasrah. Gadisnya bahkan lebih dingin darinya, namun dia tidak mempermasalahkannya. Dia justru senang, karena dengan begitu, gadisnya tidak akan mudah didekati oleh pria lain dan otomatis mengurangi jumlah saingannya.


Setelah menenangkan dirinya sebentar, Cleo pun melanjutkan tidurnya karena sakit kepalanya tidak juga reda.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Momo sudah terlihat sibuk di kamarnya, entah apa yang dilakukannya. Setelah membersihkan diri, lalu bersiap-siap, dirinya langsung buru-buru berpamitan pada sang Mami yang sedang memasak sarapan untuk suaminya alias Papanya.

__ADS_1


“Mih, Momo gak sarapan ya, Momo mau ke apartemen Koko.” Pamit Momo dengan buru-buru menyalami sang Mami membuat sang ibu heran dan ingin bertanya namun putrinya sudah lari keluar rumah dengan tegesa-gesa.


“Ngapain pagi-pagi buta kesana? Sarapan dulu sayang.” Teriak Mami Via yang jelas tidak terdengar lagi oleh Momo yang sudah jauh berlari keluar rumah menuju garasi mobil.


Nyonya Alexandra akhirnya hanya menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala melihat tingkah aneh putri kesayangannya. Apalagi ini bahkan baru jam setengah enam, namun putrinya sudah pamit keluar, dan lagi ke apartemen Cleo katanya, apa yang akan dilakukannya. Dia merasa Momo mungkin hanya ingin mengganggu Cleo saj, atau mereka berdua memiliki urusan. Entahlah, setidaknya putrinya sudah berpamitan padanya, dan dia juga akan tenang jika Momo bersama dengan Cleo yang notabenenya ingin dia jadikan menantunya jika memungkinkan. Memikirkannya saja sudah membuatnya tersenyum sendiri sampai tidak menyadari tatapan heran dari para pembantu rumahnya yang membantunya menyiapkan sarapan.


Setelah sadar diperhatikan, Nyonya Alexandra akhirnya terbatuk untuk menghilangkan kecanggungan dan rasa malunya.


“Apa yang kalian lihat? Lanjutkan saja pekerjaan kalian, saya tinggal dulu, uhuk.” Kata Nyonya Via dengan nada yang digalak-galakan namun terlihat lucu karena salah tingkahnya itu. Dia langsung melepas apron yang dikenakannya dan berjalan pergi dari dapur menuju kamarnya.


Para pembantu yang merasa lucu dengan tingkah nyonya mereka hanya bisa tersenyum dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa ada yang merasa tersinggung, karena mereka tahu nyonya tidak benar-benar marah pada mereka.


Sedangkan di sisi lain, Momo sudah sampai di parkiran gedung apartemen yang ditempati Cleo. Dia juga menyempatkan diri untuk membeli beberapa obat saat lewat apotek tadi di perjalanan untuk berjaga-jaga. Dia juga membeli beberapa bahan untuk membuat bubur dan sop karena dia tahu Cleo tidak akan repot menyimpan bahan-bahan masakan di apartemennya.


Dia langsung menuju resepsionis untuk meminta bertanya nomor dan lantai unit kamar milik Cleo. Resepsionis itu langsung memberikan kartu akses yang diminta tanpa banyak bertanya karena sudah diarahkan oleh asisten Kevin sebelum Momo datang, bahkan dari sejak Cleo menempati apartemen itu, dia sudah diberitahu oleh asisten Kevin jika ada gadis dalam foto yang dia tunjukkan yang datang bertanya mengenai unit yang ditempati Cleo langsung berikan kartu akses padanya, sehingga setelah melihat Momo, dia langsung mengenalinya dan segera memberikan kartu akes unit apartemen milik Cleo.


Momo langsung masuk ke dalam unit apartemen milik Cleo menggunakan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis tadi. Saat masuk, ruangan yang didominasi warna abu-abu dan hitam itu langsung masuk ke dalam pandangannya. Ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku dan berbagai benda antik, juga lukisan klasik dengan dekorasi modern, benar-benar perpaduan yang sempurna dan sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya.


Momo menyimpan tasnya di sofa ruang tamu dan segera ke dapur untuk menyimpan belanjaannya tadi. Setelah meletakannya, dia segera menuju ke salah satu kamar yang merupakan kamar utama ruangan itu. Dia bisa memastikan bahwa itu adalah kamar Cleo.


Tok, tok, tok.


Momo mengetuk pintu kamar Cleo sambil memanggilnya. Lama tidak mendengar jawaban dari dalam kamar itu membuat Momo khawatir. Dia mencoba membuka kamar itu dan ternyata tidak dikunci sehingga dia langsung masuk ke dalam kamar dan menuju tempat tidur.


Momo sangat terkejut melihat kondisi Cleo yang terlihat sangat pucat dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Dia segera memeriksa suhu tubuh pria itu dengan meletakkan tangannya di dahi pria itu. Wajahnya terlihat terkejut karena suhu badan Cleo sangat panas.


Cleo yang merasakan sentuhan dingin dan nyaman dari kulit seseorang merasa kaget dan segera membuka matanya untuk melihat orang yang berani menyentuhnya.

__ADS_1


Dia baru saja akan menyerang orang itu, namun langsung tertegun karena sosok yang berdiri di depannya dan menatapnya khawatir. Wajah cantik itu tampah mengernyitkan dahinya sambil membersihkan keringat yang ada di wajah Cleo dengan lembut dengan tangan cantiknya. Tidak ada rasa jijik yang kelihatan dari wajah cantik itu, hanya ada tatapan khawatir disana.


Seketika hati Cleo menghangat dan tersenyum lebar, nemambah ketampanannya dibalik wajah pucatnya yang tidak mampu menurunkan pesonanya. Sedangkan Momo yang melihat Cleo sudah bangun segera menanyakan keadaannya.


“Apa yang Koko rasakan? Di mana yang gak nyaman? Demam Koko tinggi banget ini, ya ampun.” Tanya Momo sekaligus mengomel pada Cleo yang membohonginya semalam.


Cleo tersenyum sebelum menjawab.


“Koko baik-baik aja Ayy. Emang lagi apes aja ini, hehe.” Balas Cleo yang bahagia karena tidak menyangka akan didatangi oleh gadis kesayangannya secara tiba-tiba.


“Apanya baik. Momo udah tahu pasti Koko sakit makanya pagi-pagi ke sini, dan bener kan ternyata, malah separah ini. Lain kali kalau Koko sakit itu bilang, jangan bohong terus, kebiasaan buruk.” Rasanya Momo tidak cukup mengomeli pria itu yang sangat menyebalkan menurutnya.


“Hehehe, iya, maaf Bebe, Koko salah.” Cleo akhirnya meminta maaf.


Momo tidak membalas ucapan Cleo lagi dan fokus melap keringat dari wajah dan leher Cleo dengan handuk. Setelah itu dia mengompres dahi Cleo untuk menurunkan suhu panas tubuh pria itu. Cleo membiarkan dirinya dilayani tanpa banyak protes. Dia hanya tersenyum dan memandang gadis kesayangannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, dan berharap dia sakit setiap hari saja agar diperhatikan oleh gadisnya.


Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.


Para readers sekalian… Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author, agar Author menjadi makin semangat nulisnya.


.


Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..


Salam hangat Author receh.. hehe


.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2