Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Dia sudah mulai menunjukkan dirinya.


__ADS_3

Telepon berbunyi, tepat tengah malam ketika Lim tidur. Ais pun berada dalam pelukannya kala itu. Ia meraba Hpnya di nakas, lalu mengangkatnya.


"Ya, siapa?" tanya Lim, begitu lirih agar Ais tak terbangun.


"Hey, Lim. Apa kabar? Kau, masih ingat suaraku?"


Lim mendelik, jantungnya bergetar hebat. Bahkan, suaranya begitu mirip dengan Al, meski terganjal pada panggilan yang sering Al berikan padanya.


"Kau, siapa?"


"Hey, ini aku, Almira? Tak ingatkah, kau dengan suaraku?"


"Al sudah meninggal."


"Pasti, mereka bilang jantungku padamu. Tapi, aku disini. Aku datang menagih janjiku padamu. Janji dimana, kita akan menikah di tepi pantai dengan pemandangan yang begitu indah."


Dia bahkan tahu, rencana dan janji Lim pada Al kala itu.


"Semua tertunda, karena kecelakaan itu. Karena mobil bodoh, yang sengaja  menyerempet kita sat hari hujan yang begitu deras. Aku ingat semuanya. Aku bahkan tidur begitu lama, hingga akhirnya bertemu denganmu."


"Berhenti, dan diam. Kau bukan Al, hentikan semuanya."


"Lalu, aku siapa? Jika aku, bukan Al calon istrimu."


Lim mematikan teleponnya. Tak hanya itu, Ia bahkan mematikan Hpnya agar Ia berhenti mengganggu. Ia kemudian kembali pada Ais, memeluknya dengan erat dan membelai rambutnya yang lembut itu.


"Kenapa?" tanya Ais.


"Tak apa, hanya rindu." kecup Lim padanya.


***


"Hari ini kau ikut aku ke kantor."

__ADS_1


"Hah, ngapain?" tanya Ais, yang terkejut dengan permintaan suaminya itu.


"Nisa pergi, dan tak ada orang di rumah."


"Ada Bibik,"


"Ais, patuhlah. Semua rasa ini mengganggu isi kepalaku."


"Iya, Ais mandi."


Lim turun lebih dulu menemui yang lain untuk sarapan. Disana sudah disambut semua orang yang tak kalah rapi, serta Nisa yang telah siap untuk pergi.


"Kamu, pakai baju Ais?" tanya Lim, sedikit terkejut.


"Ais yang kasih. Katanya kurang nyaman pakai baju yang girly kayak gini." jawab Nisa.


"Haish, anak itu." Lim menggelengkan kepala.


"Ya, aku sangat menghargai itu. Banyak perubahan yang telah Ia berikan saat ini."


Semua mengangguk, termasuk Papi Tama yang memang tersanjung akan perubahan Ais yang lebih tenang dari biasanya.


Ais turun. Dengan setelan hitamnya, dan rambut yang Ia ikat rapi seperti biasa. Turun menghampiri semua yang menyambutnya. Mereka sarapan bersama, dengan masakan Nisa yang nikmat seperti biasanya.


"Nisa naik apa?"


"Naik taxi aja, Pi." jawabnya yang tengah menakar obat untuk Papi Tama.


"Dimas antar, oke?"


"Pi, Dimas ada rapat pagi sekali di sebuah hotel. Jauh tempatnya." potong Dimas.


"Udah, Nisa naik taxi aja. Semua pada. Sibuk dengan pekerjaannya, Nisa ngga mau ganggu."

__ADS_1


"Oh, baiklah.. Hati-hati di jalan. Ais, pesankan taxi untuknya."


"Udah, Pi. Tinggal tunggu dateng aja." jawab Ais.


Papi Tama mengangguk, memuji kerja kerja sama mereka.


Kini, semua telah siap dan rapi untuk tugasnya masing-masing. Papi dan Pak Wil duluan, disusul Ais digandeng Lim. Lalu Dimas menyusul di belakang.


"Kak Dim?"


"Ya, Nisa, ada apa?"


"Ngga papa, cuma ingin menyapa. Nanti, kalau Nisa sampai...."


"Jangan lupa kabari aku."


"Iya, siap..." Nisa mengacungkan jempol dengan begitu semangat nya.


Semua pergi. Sebuah taxi datang dan menjemput di rumah.


"Atas nama Aishwa?"


"Ya, itu pesanan kami." jawab Nisa.


Iapun segera naik, setelah pamit dengan Bi Narti.


"Jalan, Pak. Ke alamat yang sudah dijanjikan."


"Baik...." jawab Supir taxi itu.


Perjalanan terasa lengang. Hanya saja, seperti ada yang mengikuti taxi Nisa dari belakang.


"Siapa?" fikir Nisa, dengan jantung yang berdebar.

__ADS_1


__ADS_2