Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Pemalsuan identitas Al.


__ADS_3

Almira kemudian memberikan Hpnya. Ia enggan mencarikan Hp Nisa yang entah dimana tempatnya.


"Sini, aku hafal nomornya. Aku akan langsung menghubunginya." rebut Nisa pada hp itu.


"Baiklah..." ucap Almira. Dia kini tengah berdandan, begitu cantik mengenakan gaun yang cukup seksi dengan bagian paha atas terbuka. Bagian dada pun, tampak menyembul padat.


"Benar-benar mau godain Kak Lim rupanya." geleng Nisa.


Nisa kemudian mengetik nomor Ais. Lalu mulai menelponnya. Hari yang semakin senja, Ia khawatir jika masalah semakin rumit dan tak ingin mengulur waktu lebih lama.


"Hallo, Ais."


"Nisa?" Ais yang sedari tadi menunggu kabar, akhirnya bisa bernafas dengan sedikit lega.


"Ais, gue diculik. Mereka mau Loe datang kesini. Mereka... Salah culik, dan mau kita bertukar posisi."


"Apapun gue lakuin buat loe. Apapun itu. Dan sekarang, katakan Loe dimana?"


Nisa pun menyebut alamatnya, sesuai dengan yang dikatakan oleh Almira padanya.


"Gue bakal kesana, tunggu."


"Ais, jangan bawa siapapun. Loe harus sendiri bawa motor Loe, atau... Gue akan mati." Nisa mengeluarkan suara, seolah Ia ketakutan saat ini.


"Ya...."

__ADS_1


Ais segera mematikan teleponnya. Ia pun bergegas menghampiri motor yang ada di garasi untuk menghampiri Nisa di tempatnya.


"Ais mau kemana?" tanya Pak Wil.


"Keluar, sebentar."


"Ais jangan gegabah, suasana sedang panas." ucap Pak Wil.


"Langkah Ais, pasti Kak Lim tahu. Bapak tenang saja, jaga Ibu dan Papi dirumah."


Ais mencium tangan Pak wil, lalu pergi dengan motornya. Ia hanya fokus pada Nisa, karena terfikir sang Ibu yang  begitu perih hatinya.


"Kadang ais fikir, Ais sudah paling menderita. Tapi rupanya tidak. Nisa lebih malang dan lebih kesepian dari pada Ais. Ais beruntung, Mama sayang, Papi, dan Kak Lim yang sudah mulai mencintai Ais." fikirnya.


***


"Pasport, semua ktpnya bagaimana? Apa sudah dirubah atas nama Al?"tanya Lim pada Aura, yang memang bertugas menyelidiki itu semua.


"Iya... Dan entah siapa yang membantunya merubah semua itu."


"Ini termasuk, pemalsuan identitas." sergah Lim.


"Iya, aku tahu. Aku juga sedang menyelidiki yang lain. Kau tunggu saja." bujuk Aura.


"Baiklah, terimakasih." Lim mematikan Hpnya. Ia letakkan diatas meja, dan terdapat pesan Wa disana.

__ADS_1


"Wanita itu?" Lim segera membuka pesan itu.


"Hotel Nala, kamar 204. Almira."


"Aaaaarrrrghhhh! Kau sudah merusak nama Almira ku!" pekik Lim, yang tampak begitu emosi kali ini.


"Bagaimana? Haruskah aku yang kesana?" tanya Dimas, yang menghampirinya duduk.


"Dia mau aku, Dim. Dia, tak akan pernah bicara dengan yang lian. Kita tahu, Ayu bagaimana."


"Ya, aku faham." Dimas menepuk bahu Lim, berusaha menenangkannya dan agar Ia dapat befikir dengan jernih saat ini.


Suara Hp Lim kembali berbunyi. Pelacaknya menunjukkan sebuah pergerakan.


"Ais, kenapa keluar rumah?" tanya Lim.


"Dia kemana?"


"Aku tak tahu dia kemana. Dia tak izin atau bahkan memberitahuku, Dim. Aku takut, jika dia nekat melakukan sesuatu." Lim makin cemas kali ini.


Isi kepala semakin berat. Lim hanya bisa diam sejenak dan memejamkan matanya. Itu cara dia berfikir agar sedikit memiliki ketenangan.


" Kau bawa Hp ini, ikuti dia. Aku, akan menemui Al. "


" Lim, kau sendirian? "

__ADS_1


" Aku bisa, dan aku tak akan pernah membiarkan Ais terluka hanya karena masa laluku."


__ADS_2