Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Aku, mencintainya.


__ADS_3

Satu tembakan, tepat di dada kiri Nisa. Ayu adalah seoranh dokter. Meski Ia bukan penembak handal, tapi Ia faham organ vital yang akan begitu mematikan.


Nisa pun jatuh tersungkur, dengan kucuran darah segar mengalir dari tubuhnya.


"Nisa!" pekik Lim, Ais, dan Dimas secara bersamaan.


Bahkan, Dimas langsung menghampiri dan memeluknya dengan erat.


"Dasar, manusia palsu!" teriak Ais. Ia pun berlari ke arah Ayu, lalu memberikan sebuah bogem mentah ke pipinya, dan sedikit mengenai hidungnya.


"Aaaaaaarrrgghhh! Hidungku! Kau tahu, betapa mahal dan sakitnya membuat yang seperti ini?" teriak Ayu begitu histeris.


"Biar patah sekalian." tukas Ais dengan penuh amarah.


"Lim, jangan seperti ini, Lim! Aku sudah mengorbankan semuanya untukmu. Kau bahkan tak tahu, betapa sakitnya aku, berjuang selama setahun demi menjadi Almira!"


"Tapi kau bukan Dia. Kau Ayu! Kau tak akan pernah bisa menjadi Dia, meski kau rubah semuanya," Lim membalas semuanya dengan kesal.


Polisi dan satpam kemudian membawanya. Meski Ayu masih berteriak, bahkan mencoba melawan dengan segala tenaga yang ada. Tapi, mereka lebih kuat.


" Nis, Nisa bangun, Nis. "

__ADS_1


" Kak Dim? Kak Dim peluk Nisa?"


" Iya... A-aku memelukmu sekarang. Dan aku, aku akan terus memelukmu hingga nanti, kapanpun kau mu."


"Kakak serius?" tanya Nisa, dengan nafas terengah menahan segala sakitnya.


"Iya, serius. Sekarang, kita ke Rumah sakit. Kakak akan gendong kamu sampai kesana. Bersabarlah, Ibu menunggu..."


Nisa hanya berkedip, begitu lemah dengan mengulas senyumnya. Dimas kemudian berusaha mengangkat tubuh mungil itu dan membawa nya turun menuju mobil mereka.


" Biar aku yang menyetir." Lim mengambil kunci di saku celana Dimas. Sementara itu, Ais ikut dengan mereka dan meninggalkan motornya di hotel itu.


"Disini aman, masih milik salah seorang temanku."


"Ais, terimakasih."


"Untuk?"


"Karena kau, tak akan pernah melepas aku untuk siapapun."


"Karena Ais sadar, meraih hati Kakak itu susah. Tak mungkin, Ais memberikan dengan mudah, pada wanita palsu itu."

__ADS_1


"Ya, Dia palsu. Dan dia gila, karena telah bertindak sejauh itu. Tugasku, untuk membersihkan nama Al setelah ini. Kau mengizinkan?" liriknya pada sang istri.


"Tentu, itu tanggung jawab Kakak, karena Al, adalah masa lalu yang telah menyatu dalam tubuh Kak Lim."


Tiba di Rumah sakit. Dimas kembali menggendong Nisa untuk turun. Ais pun membantu memapah tubuhnya, dan menidurkannya di brankar yang di bawa oleh para perawat.


"Tolong, selamatka dia." Dimas memohon dengan sangat.


"Kami akan mengusahakan semuanya. Tolong, Bapak tunggu saja disini.


" Baik...." jawab Dimas.


Ais dan Lim mengajaknya duduk, dan membersihkan beberapa noda darah di lengan Dimas.


" Kak, jasnya di lepas aja dulu. Biar Ais yang pegang. "


Dimas hanya tertunduk lesu. Mengusap wajahnya dengan kasar, dan bahkan air matanya berlinang tak tertampung lagi. Tersedu, dengan peluk hangat dari Lim yang berusaha menenangkan dirinya.


"Kau, menyukainya?" tanya Lim, dan mendapat anggukan Dimas.


"Aku berdosa, karena telah mengabaikannya selama ini. Hanya agar dia, bisa mengerti dan faham akan posisiku. Aku, bukan orang yang perhatian, dan penuh kasih sayang. Aku hanya tak ingin, jika dia terlalu banyak berharap nantinya." ucap Dimas panjang lebar.

__ADS_1


" Nisa itu, sayang sama Kakak. Nisa tahu, bagaimana Kakak. Dan Nisa, sudah terima Kakak sedari awal. Makanya, dia tetap menunggu, meski Kakak dingin terhadapnya. "


__ADS_2