Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Jadilah dirimu sendiri, aku suka.


__ADS_3

Terdengar suara brankar, keluar dari ruang tindakan. Ais, Lim dan Dimas, segera menghampiri Dokter yang menanganinya dan bertanya pasal keadaan Nisa saat ini.


"Untung meleset, jadi tak terkena jantung. Dan, mungkin yang menembak dalam keadaan kacau jadi tak terlalu dalam. Semua aman, tak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya, Dia masih akan tidur pulas karena obat bius." ujar sang Dokter.


Semua menarik nafas lega, terutama Dimas yang hingga kini wajahnya masih begitu pucat.


Lim pun menggandeng Ais, untuk mengurus segala administrasi milik Nisa. Dan membiarkan Dimas mengikuti suster membawa Nisa ke ruangannya.


" Biarkan mereka berdua." ucap Lim.


"Tapi, mau tahu keadaan Nisa." Ais melipat bibirnya.


"Tak ingin tahu keadaanku?"


"Kakak baik-baik saja, nyatanya. Tak kurang satu apapun."


"Aku, nyaris kehilangan kesetiaanku padamu." ucap Lim, dengan wajah canggungnya. Tertunduk, tanpa mampu menatap mata sang istri seperti biasanya.


Ais maju, mengalungkan lengan ke pinggang Lim. Ia membenamkan kepala di dada sang suami yang begitu nyaman baginya. Lalu, mendongakkan kepalanya menatap Lim dengan tatapan manjanya.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku... Tak tahan melihatnya." ucap Lim, gugup.

__ADS_1


"Kakak suami?"


"Ya? Ada apa?"


"Maaf, Ais belum bisa dewasa seperti yang Kakak inginkan. Ais sudah mencoba, tapi...."


"Kenapa harus memaksa menjadi seperti itu, jika aku suka dirimu yang begini?"


Lim mendekap Ais, dan mengecup rambutnya dengan lembut. Andai tak ditempat umum, ingin rasanya menyergap bibir yang menggemaskan itu untuk Ia lahap dengan brutal. Tapi, Ia masih dapat menahannya saat ini.


Terdengar langkah kaki masuk dan melangkah dengan cepat. Mereka bertiga, datang untuk mencari tahu kabar dari Nisa. Bu Ratna, Papi Tama, dan Pak Wil. Tampak begitu khawatir saat ini. Lim pun melepas dekapannya, dan menyambut mereka semua.


"Untung kamu ngga papa. Nisa mana?"


"Diruang perawatan, Bu. Sudah dipindah, karena lukanya tak parah."


"Alhamdulillah," tangis Bu Ratna pecah. Ia bahkan sudah terbayang yang tidak-tidak mengenai anak semata wayangnya itu. Tapi, kali ini Ia begitu lega meski air matanya terberai begitu deras.


"Bu, sudahlah... Kak Dim menemaninya sekarang. Ayo, kita kesana. Meski mungkin, belum diizinkan masuk karena Nisa butuh istirahat." gandeng Ais padanya.


*

__ADS_1


Sementara itu, di ruangan Nisa. Dimas tengah duduk tepat di sampingnya. Menatap tubuh lemah yang tertidur dengan begitu pulas itu, dengan tatapan yang begitu penuh perhatian. Ia sadar, selama ini, Nisa membutuhkan itu darinya.


"Hey, gadis kecilku. Kau kuat? Maaf, telah begitu lama mengabaikanmu. Aku hanya ingin bilang, jika kau menang. Kau menang telah melumpuhkan rasaku padamu. Bahkan, kini aku yang menangis karena takut kehilanganmu." belai Dimas pada rambut nya yang lembut.


"Ais, Dimas?"


"Bu, mereka saling suka sejak lama. Meski Kak Dimas tampak cuek sama Nisa. Tapi, Nisa selalu setia menunggu Kak Dimas."


"Ta-tapi....."


Ais menggenggam tangan Bu Ratna, dan memberikan senyum padanya.


"Kata Mama, ngga ada yang tahu kapan jodoh itu datang. Kalau cepet, ya bersyukur dan jaga dengan baik. Kalau lama, artinya Allah sedang cari yang terbaik dari yang baik buat kita."


"Hhh, pintar ngomong juga, kamu."


"Kan, kata Mama." ucap Ais.


Bu Ratna menghela nafas panjang, lalu mengeluarkannya dengan lega.


"Semoga Dimas menerima Nisa apa adanya." ucap Bu Ratna.

__ADS_1


__ADS_2