
Lim melepaskan pelukannya. Ia tak ingin, jika hatinya nanti meminta lebih dari yang telah mereka sepakati. Ia takut, hubungan itu terjadi bukan karena cinta.
"Kenapa?" tanya Ais.
"Hanya menjaga hati. Tunggu, setelah kelulusan, dan ulang tahunmu yang ke Sembilan belas."
"Tapi, itu bukan sebuah moment yang..."
"Kau terjatuh dari pohon, bukan karena berhubungan dengan pria."
"Ah, bahkan Kakak sudah tahu itu. Ais kan, malu." sesal Ais.
"Tak apa... Aku hanya memenuhi janji, dan semoga setelah ini kita semakin erat." bisik Lim.
Hari semakin malam. Lim menemani Ais belajar sembari mengerjakan tugasnya. Sedikit berubah, meski aura dinginnya masih terasa. Tapi Ais begitu bahagia, karena setidaknya Lim mulai ramah sekarang.
" Huaaammhh! " Ais menggeliatkan tubuhnya.
"Tidurlah, hari sudah larut." ucap Lim.
"Tapi....."
Ais menyibakkan poninya kebelakang. Dan Lim mengetahui kode yang diberikan padanya. Ia pun menjentikkan telunjuknya agar Ais mendekat padanya.
Ya, Ais pun bergegas mendekat dan duduk tepat dihadapan Lim. Ia menatapnya dengan penuh harap.
Cuupp! Satu kecupan mendarat di kening Ais.
__ADS_1
Begitu bahagia, bahkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Karena, semakin hari semakin terasa indah baginya.
Ais pun naik ke tempat tidur, dan mulai menyelimuti tubuhnya dengan rapat.
"Al, kau baik disana? Aku sudah menikahinya, dan aku bertanggung jawab atas dirinya. Dan bukan berarti, aku melupakanmu seutuhnya." ucap Lim, menatap foto Almira yang tersisa di laptopnya.
***
"Ais ujian apa hari ini?"
"Sebenarnya ngga ada jadwal. Tapi, Ais ganti hari yang kemarin libur sakit. Mana sendirian ujiannya."
"Mau diantar?"
Ais menggeleng, "Engga, naik motor aja."
Mereka pun sarapan bersama, dan pergi dengan kendaraan masing-masing setelahnya.
"Nis, Loe ngga masuk?" tanya Ais..
"Eng-engga... Gue, ada urusan hari ini. Lagipula, ngga ada jadwal 'kan?" jawabnya.
"Ngga ada. Yaudah, bye." Ais menutup teleponnya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada sahabatnya itu.
"Seperti, sedang tertekan dan bingung?" fikirnya.
Tapi Ais mengesampingkan fikiran itu. Ia ingin fokus dengan ujian praktek terakhirnya, dan belajar untuk ujian tertulisnya beberapa minggu lagi. Meski bukan dengan nilai terbaik, tapi setidaknya Ia harus lulus bersama teman yang lain.
__ADS_1
" Haaah, selesai...." ucapnya.
"Tumben cepet?"
"Iya lah, Bu. Masa mau lambat terus." Sang guru pun hanya menggeleng dengan jawaban itu.
Memang sekolah tampak sepi. Ais hanya bersama beberapa orang yang telat dalam ujiannya. Itu pun, karena segala pertimbangan yang diberikan, sehingga mereka dapat mengulang ujian itu.
" Mumpung ngga ada kang rese, ke rumah Nisa, ah. Mau kasih sepatu ini." ucap Ais, dengan menatap sepatu yang Ia belikan untuk sahabatnya itu.
Ia pun bergegas pergi dengan motornya. Tak sabar, melihat reaksi Nisa yang pasti begitu senang menerima bingkisan darinya.
Tapi ketika tiba disana, rumah begitu sepi. Ia masuk, dan hanya ada Ibu Nisa disana.
"Lah, bukannya dia sekolah?"
"Hah, ngga ada, Bu? Katanya ada urusan keluarga?" jawab Ais.
Ibu Nisa langsung Syok, bahkan terjatuh lemah di lantai.
"Beberapa waktu ini, katanya Dia suka di ganggu preman. Ibu takut jika...."
"Tenang, Bu. Ais akan cari dia." Ais pun menatap Hpnya. Ia mencari-cari. Posisi Nisa lewat google mapsnya.
"Disana rupanya." ucap Ais.
Ia segera pamit dengan Ibu Nisa, dan pergi setelah meninggalkan sepatu yang akan Ia berikan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jaga diri, Ais!" pekik Ibu Nisa, menggenggam sepatu itu dalam pelukannya.