
Lim mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Rasanya begitu lelah, hingga Ia ingin beristirahat mesku hanya sejenak.
"Astaga...." kagetnya, ketika keluar dan melihat Ais mengenakan gaun yang Ia belikan.
Apalagi, ketika Ia duduk bersila dengan memangku ice creamnya yang besar. Rambutnya terurai, tapi begitu berantakan.
"Kenapa?" tanya Ais.
"Tak apa..." jawab Lim. Kenapa, mending di patung daripada dia yang pakai?.
Lim bergegas memakai pakaiannya. Ais yang telah menyiapkan semuanya dengan rapi. Setelah itu, Ia merebahkan dirinya di tempat tidur dan memejamkan matanya.
"Kak..." panggil Ais.
"Hmmm?"
"Kakak, lihat dulu." Ais menghampiri Lim dan mencubiti pipinya agar terbangun.
"Apa?"
"Kenapa ngga bilang Ais cantik?"
"Kenapa harus bilang? Toh semua wanita cantik." jawab Lim datar.
"Kakaaaaak!"
"Apa sih?"
"Look at my eyes..." pinta Ais.
__ADS_1
"Ya, terus?" Lim berdiri dan menunduk, agar dapat menatap mata Ais dengan lebih dekat.
Lim berdiri tegap, lalu meminta Ais memutar badan. Ais menurut, hingga Ia kembali menghadap Lim saat ini. Lim mengusap wajah Ais dengan kedua jarinya, lalu ke bibirnya.
" Cantiknya istriku. Apalagi kalau rapi seperti ini." puji Lim.
Sesuatu yang membuat hati Ais kian berdebar, bahagia tiada tara. Andai tak terlanjur mengenakan dress itu, pasti Ais sudah melompat kegirangan saat ini.
"Terimakasih, Kakak suami." senyumnya.
"Abis ini belajar masak."
"Hah? Susah."
"Aku yang ajarkan."
"Ish...." cebik Ais.
"Mau apa?"
"Ganti lah. Ngapain dirumah pakai dress?"
Lim tak berkata apapun, hanya menggambil guling kecil Ais dan membuka tong sampah yang ada di sebelahnya. Tatapannya penuh dengan ancaman.
"Oke, fine...." Ais menutup lemarinya lagi.
Lim pun kembali melempar guling itu di kasurnya. Ia pun kembali berbaring, menemani Ais belajar dan menunggu makan malam tiba.
***
__ADS_1
"Nisa sekolah yang bener, abis itu pergi keluar negri jadi TKW."
"Lah, kok gitu, Bu? Nisa mau kuliah lah. Kerja di kantor, minta Kak Lim masukin Nisa kesana."
"Atas dasar apa? Nanti setelah kelulusan, Ais bakal lupa sama kamu. Dia akan sibuk dengan rumah tangganya. Syukur2, kalau dia di izinin kuliah sama suaminya." jawab sang Ibu bernada datar.
Nisa hanya bisa diam, sembari berdoa agar apa yang dikatakan sang Ibu tidaklah benar. Ia yakin jika, Ais bukanlah orang yang gampang lupa pada sahabatnya.
" Nisa punya keputusan Nisa sendiri untuk masa depan. Meski, Nisa harus jadi pembantu dulu ngga papa. Yang penting Nisa tetep kuliah."
"Ngeyel kalau dibilangin. Pembantu disini gajinya berapa sih? Kamu cuma mau deket sama Asisten itu 'kan?"
"Ibu!" sergah Ais dengan suara lantang.
Sang Ibu hanya meliriknya kesal.
***
"Ais cantik sekali dengan gaun itu? Baru?"
"Ah, senangnya di puji Papi mertua. Iya baru, Kakak suami belikan."
"Tumben, Lim?" lirik sang Papi padanya.
"Sesekali, ingin lihat dia feminim. Meski ekspetasi tak sesuai dengan realita." jawab Lim, dengan menyantap makan malamnya.
"Terus aja kurang... Aku tak pernah menjadi sempurna dimatamu." ucap Ais, memasang wajah sedih nya.
Lim hanya mengedikkan bahunya. Tanpa beralih dari santap malamnya yang nikmat. Ais semakin kesal seakan ingin mencubit nya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Sabar Ais, sabar. Besok tunjukan, jika kamu akan menjadi cantik seperti yang Ia inginkan." batinnya kesal.