
Ais memgganti pakaian, dan langsung mencuci wajahnya. Helaan nafasnya begitu berat, di sertai hatinya yang terasa begitu perih.
"Hey, kenapa? Kau orang baru, maka wajar jika Kak Lim punya masa lalu. Apalagi, begitu jauh darimu." gumam Ais.
"Ais, kamu dikamar mandi?" ketuk Lim dari luar.
"Iya, kenapa?"
"Keluarlah... Aku ingin bicara."
Ais kembali menghela nafas. Itu jalan yang diajarkan Papi Tama untuk menahan seluruh bentuk emosi yang ada.
"Kenapa?" tanyanya, lalu duduk di sofa.
"Menangis?"
"Engga... Mana ada." tukasnya.
"Kenapa diam?" tanya Lim.
"Kan udah bilang, Ais capek. Mau istirahat." Ais berdiri, menghindari Lim yang duduk disampingnya.
Namun, Lim menarik tangannya hingga Ais hampir jatuh di pangkuannya. Ais berusaha menahan agar tak terbawa ke dalam perasaan cemburunya.
"Katakan, atau...."
"Apa? Mau ancem lagi? Mau apain? Ais capek, Kak. Disini, Ais kayak orang bego yang bahkan ngga pernah tahu apapun tentang Kakak. Masa lalu, masa sekarang. Bagaimana perasaan Kakak sama Ais yang sebenarnya. Ais tuh, serasa orang asingĀ disini, tau ngga."
__ADS_1
"Apa yang mau kamu tanyakan. Aku akan menjawabnya." ucap Lim.
"Itu tadi siapa?"
"Dokter jantungku dan Papi."
"Kenapa akrab banget? Kalian pernah pacaran, deket banget. Sama dokter, harusnya ngga begitu amat."
"Dia sahabatku... Dan Almira."
Nama yang pernah Ais dengar, selalu hadir dalam igauan Lim. Bahkan, Lim menangis ketika memimpikannya.
"Kalau Kakak udah punya pacar, kenapa mau nikahin Ais!" tanyanya, dengan suara lantang.
"Apakah, aku harus menunggu wanita yang bahkan sudah tak ada di dunia ini? Apakah aku harus gila hanya untuk menunggu? Apa aku harus ikut mati bersamanya dan membuat seluruh keluargaku sakit karena tingkahku?"
Dada Ais terasa semakin sesak.
Lim berdiri, kemudian membuka jasnya. Ais sedikit gugup, terutama ketika Lim mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Ais, pernah menanyakan ini?" Lim menunjuk luka panjang di dadanya.
"Ya, Ais pernah nanya."
"Bagaimana aku bisa lupa tentangnya, jika jantungnya saja terus bersemayam ditubuhku? Setiap detaknya, selalu membuatku mengingat tentang dia."
"Kakak?" lirih Ais, merasa bersalah seolah membuka lagi luka yang menganga lebar.
__ADS_1
"Setiap bersamamu, denyutnya begitu cepat. Bahkan, terasa sangat sakit. Maka, aku bertanya pada Aura."
"Maaf..." tunduk Ais.
"Selama ini, aku terlalu menjaga agar detaknya normal. Tak perduli, dengan emosi yang selalu naik turun. Apalagi, ketika ada didekatmu."
Ais berdiri. Ia mengusap luka itu dengan lembut, lalu mengecup bekasnya. Ia pun memeluk tubuh Lim, dengan begitu hangat.
" Ais minta maaf. Ais, terlalu banyak curiga. Ais hanya gamang, karena menjadi orang yang paling tak tahu apapun dalam hubungan ini. Sedangkan Kakak, tahu semuanya tentang Ais." ucapnya..
Lim mendekapnya erat. Menempelkan kepala Ais tepat di dekat jantung itu. Terasa, iramanya memang begitu kuat jika Ais disana.
" Aaaakkkkhhh!"
" Kakak sakit?" Ais mendongakkan kepalanya.
" Tetaplah disana. Dia akan terbiasa denganmu. "
Ais mengangguk, dan semakin memeluk erat suaminya itu. Terasa hangat, bahkan Ia tak ingin lepas untuk saat ini.
"Udah, Tuan. Mereka ngga berantem lagi." bisik Pak Wil.
"Apakah, batu es kita mulai mencair?" tanya Papi Tama.
"Entahlah. Yang jelas, saya lelah mengintip seperti ini."
"Ya, saya juga. Ayo, kita turun kebawah. Siapa tahu, mereka mau....."
__ADS_1
"Ah, jangan diucapkan."
Pak Wil pun membawa Papi Tama turun kebawah.