
“Udah lama banget ga berdua bareng Ayy.” Kata Cleo memulai percakapan sambil keduanya berjalan.
“Iya. Koko apa kabar?” Balas Momo.
“Sebelum hari ini kabar Koko jauh dari kata baik.” Jawab Cleo.
“Eh, Koko sakit?” Tanya Momo dengan raut wajah khawatir.
“Iya, sakit hati karna nahan rindu. Ayy baik-baik aja kan selama di luar?” Jawab Cleo.
“Hm. Iya, Momo baik. Ada Mbak Naya dan Cessa yang nemenin, jadi Momo gak kesepian.” Balas Momo.
“Ayy, selama di luar apa kamu pernah merindukan Koko? Kamu bahkan gak pernah hubungi Koko.” Tanya Cleo.
“Ya rindu. Tapi Momo emang mau fokus ke pendidikan aja jadi gak kepikiran buat hubungin Koko. Lagian kan Koko juga sibuk bangun perusahaan kata Mami.” Jawab Momo.
Saat keduanya sampai di taman, Cleo menarik tangan Momo untuk duduk di kursi taman dan melanjutkan percakapan keduanya.
“Ayy, apa rencanamu kedepannya?” Tanya Cleo setelah keduanya duduk.
“Momo rencananya kerja di kantor Papi sambil mempersiapkan diri buat ngambil alih perusahaan nanti. Momo juga pengen buka galeri dan bangun resort di Bali. Untuk resort baru di tahap perencanaan, lokasinya udah dapat, designernya masih dicari.” Jelas Momo.
“Good girl. Ayy selalu mengagumkan. Kalau butuh bantuan Koko, bilang ya. Koko siap dua puluh empat jam buat princess tersayang.” Balas Cleo sambil mengelus rambut Momo.
“Hehe, siap bos. Oh iya, kantor pusat design kak Kevin masih sama kan? Besok Momo mau ke sana siapa tau ketemu designer yang cocok sama konsep resort.” Tanya Momo.
“Iya, masih. Besok Koko antar ya, mau jam berapa Ayy kesananya?” Tanya Cleo.
“Gak usah, Momo nanti detemenin Cessa aja. Koko kan sibuk, Momo gak mau ganggu waktu Koko.” Jawab Momo menolak tawaran Cleo.
“Oh, baiklah. Kalau belum ketemu yang cocok, kabari Koko. Nanti Koko kenalin ke teman designer andalan Koko. Dia yang rancang salah satu villa Koko di Bali. Orangnya bisa dipercaya.” Kata Cleo. Dia tidak memaksa Momo, karena dia tau Momo tidak suka dipaksa. Momo lebih suka dihargai pendapatnya.
“Okedeh. Koko, Momo boleh jalan-jalan ke kantor Koko?” Tanya Momo.
Cleo kaget dengan pertanyaan Momo karena ini pertama kalinya Momo berinisiatif seperti ini. Biasanya dia tidak akan bertanya jika tidak ditanya.
“Of course Ayy. Ayy bisa datang kapanpun. Tidak akan ada yang melarang tuan putrinya Koko.” Jawab Cleo romantis.
Momo tersenyum mendengar jawaban Cleo. Tidak bisa dipungkiri dia bahagia mendengarnya. Dia selalu menikmati perhatian dan kelembutan yang diberikan Cleo. Dan hanya Cleo yang bisa membuatnya bahagia dan menjadi dirinya sendiri.
“Okedeh, nanti Momo kabari kalau mau ke sana.” Ucap Momo.
Cleo mengangguk sambil tersenyum. Selama mengobrol, tatapannya tidak pernah lepas dari gadis cantiknya. Sudah lama sekali dia tidak pernah sebahagia ini. Terkahir kali adalah hari sebelum mereka berpisah karena masa depan masing-masing. Mulai sekarang dia berharap mereka tidak akan terpisah lagi. Dia akan memastikan hal itu. Namun, siapa yang akan tahu masa depan.
“Ayy, selama di luar, apa ada cowok yang deketin kamu?” Tanya Cleo yang tiba-tiba membahas topik percintaan.
“Seingat Momo gak ada. Mungkin karena Momo selalu cuek, jadi mereka males duluan sebelum deketin Momo.” Jawab Momo sambil mengangkat bahunya tidak peduli. Dia hanya punya beberapa teman pria yang sama-sama peretas dan tulus kepadanya.
Cleo berteriak senang dalam hatinya mendengar jawaban Momo. Dia tahu banyak yang mendekati gadisnya, tapi tidak ada yang masuk ke mata gadis itu.
“Syukurlah.” Balas Cleo singkat.
Momo hanya tersenyum menanggapi ucapan Cleo. Dia tahu perasaan Kokonya padanya. Dia juga mengangumi Kokonya dan merasa nyaman, namun belum terpikirkan untuk memulai hubungan yang serius. Masih banyak hal yang lebih penting yang perlu dilakukannya dibandingkan perasaan romantis. Cleo tahu itu, dan tetap sabar menunggu gadisnya. Untuk saat ini, Cleo sudah cukup dengan adanya Momo di dekatnya. Dengan kepribadian Momo, dia yakin tidak memiliki saingan cinta.
“Ayy, Koko bahagia.” Ucap Cleo.
“Why?” Tanya Momo.
“Ayy udah gak jauh. Sekarang Koko bisa kapanpun ketemu Ayy. Koko gak perlu nahan rindu lagi.” Jawab Cleo sambil menatap dalam wajah Momo. Rasanya dia ingin segera menjadikan Momo istrinya agar selalu bisa dekat dengannya.
Momo hanya tersenyum menanggapinya. Dia tidak tahu bagaimana membalas ucapan Cleo karena dia memang tidak bisa berkata manis.
“Hadiah dari Koko untuk kepulangan Ayy.” Ucap Cleo sambil memberikan kotak hadiah kepada Momo.
__ADS_1
“Wah, thank you Koko.” Jawab Momo senang sambil menerima hadiahnya.
“Boleh buka sekarang?” Tanya Momo lagi.
Cleo menganggukkan kepala sebagai jawaban. Momo lalu membuka kotak itu, dan terpesona dengan isinya. Itu adalah kalung edisi terbatas dari designer favoritnya, yang hanya ada tiga di seluruh dunia. Dia tidak menyangka hadiah dari Cleo ternyata seberharga ini. Dia menatap haru pada Cleo.
“Suka?” Tanya Cleo yang melihat raut wajah gadisnya.
“Hm, thank you Ko.” Jawab Momo bahagia.
“Sini Koko pakaikan. Jangan dilepas ya Ayy.” Kata Cleo sambil memakaikan kalung itu di leher gadis kecilnya.
Momo menatap kalung yang dipakaikan Cleo dengan raut wajah bahagia. Ini adalah kalung yang diinginkannya namun tidak dapat dibelinya karena terlambat. Dia tidak menyangka ternyata salah satu pembeli kalung itu adalah Cleo, dan sekarang kalung itu sudah menjadi miliknya. Cleo yang melihat senyum bahagia gadisnya ikut merasa bahagia. Tidak sia-sia dia menghubungi designer itu secara langsung untuk membeli kalung itu. Jika Momo mengetahui itu, dia pasti akan merasa takjub karena Kokonya ternyata mengenal designer itu secara pribadi.
“Ayy, jangan jauh-jauh ya. Koko gak bisa jamin bakal bisa nahan rindu lagi.” Ucap Cleo lagi dengan raut wajah memohon.
Momo menatap wajah Kokonya, mengulurkan kedua tangannya untuk memegang wajah tampan Kokonya sebelum menjawab.
“Ayy ga bisa janji, karena kita gak tahu masa depan. Tapi Momo bisa pastikan, Momo gak akan kemana-mana lagi.” Balas Momo sambil tersenyum.
Cleo tersenyum mendengar ucapan Momo. Dia merasa lega, seakan batu yang menahan hatinya telah terangkat. Dia memegang tangan Momo yang berada di wajahnya lalu menariknya ke dalam pelukannya. Cleo memeluk erat Momo, menghirup wangi khas gadisnya, dan sesekali mencium puncak kepala Momo sayang. Momo membalas pelukan Cleo sambil tersenyum dan membenamkan wajahnya pada dada bidang pria tampan itu. Kedua berpelukan cukup lama dalam keheningan. Kunang-kunang menari-nari di bawah langit malam berbintang, menambah pemandangan indah kedua sejoli yang sedang dalam suasana bahagia. Bahkan alampun mendukung kebahagiaan itu.
“Koko.” Panggil Momo tiba-tiba sambil mendongakan kepala menatap wajah Cleo.
“Hm?” Jawab Cleo membalas tatapan gadisnya namun masih belum ingin melepas pelukannya.
“Momo lapar.” Jawab Momo dengan wajah memelas. Ya, dia memang lapar karena belum makan apapun sejak siang tadi. Dia sibuk mempersiapkan acara sampai lupa makan.
Cleo merasa lucu melihat wajah memelas gadis kecilnya, lalu berkata dengan tersenyum.
“Ayo makan. Kebetulan Koko juga belum makan malam.” Balas Cleo sambil mengelus wajah cantik gadis di pelukannya.
Momo menganggukan kepala dengan semangat. Kemudian Cleo melepaskan pelukannya dan menarik tangan Momo untuk Kembali ke dalam dan makan malam. Dia tidak ingin gadisnya kelaparan lalu sakit. Dia tidak tahu saja Momo sudah menahan lapar sejak siang tadi, jika dia tahu dia mungkin akan marah pada tukang masak yang membiarkan gadisnya kelaparan.
“Moy, sini.” Panggil Cessa sambil melambaikan tangannya dengan heboh.
Orang-orang yang melihat kelakuannya merada dia gadis yang sembrono, namun tidak dengan Momo dan keluarganya karena mereka sudah hafal dengan tabiatnya yang apa adanya.
Ketika keduanya sampai di meja utama dan duduk untuk bergabung, kebetulan Mbak Naya mengantarkan makanan untuk disantap oleh mereka.
“Silahkan dimakan Non dan Aden semua. Jangan malu-malu, anggap aja rumah sendiri, hehe.” Ucap Mbak Naya sambil menaruh segala jenis hidangan di atas meja itu.
“Wah, kebetulan Momo udah laper banget ini. Makasih Mbak Nay pujaan hatinya Mang Udin.” Balas Momo.
“Non Momo bisa aja. Ini makan yang banyak Non, udah dari tadi siang belum…” Ucap Mbak Nay sebelum dipotong oleh Momo.
“Hahaha, tenang aja Mbak. Itu Mang Ujangnya nyari, katanya laper minta disiapin.” Momo dengan cepat memotong ucapan Mbak Naya dan mengalihkan perhatian Mbak Naya, lalu mengedipkan matanya memberi isyarat untuk tidak menyebutkan kelanjutan kalimatnya.
Mbak Naya yang peka akhirnya tersadar dan memukul kepalanya pelan menyesali keteledorannya, padahal sudah diingatkan oleh Momo tadi saat Momo menerima hadiah dari para tamu dan dia memanggil Momo untuk makan terlebih dahulu. Pada saat itu Cleo sedang menyapa rekan bisnisnya sehingga tidak mengetahui bahwa Momo belum makan apapun sejak siang tadi.
‘Hampir aja Mbak Nay keceplosan. Bisa berabe kalau Koko denger. Huft, selamat.’ Batin Momo merasa lega.
‘Ini mulut emang perlu dikasih alarm peringatan biar bisa berhenti sebelum kejadian.’ Batin Mbak Naya sambil menghela nafas lega.
Cleo yang melihat keduanya merasa ada yang tidak beres, namun sebelum dia bertanya, Momo sudah terlebih dahulu menyuapinya untuk mengalihkan perhatiannya.
“Koko cobain ayam asam manis buatan Mami featuring Momo, spesial buat Koko tertampan.” Kata Momo sambil menyuapi Cleo mencegahnya bertanya lebih lanjut.
Cleo dengan senang hati menerima suapan dari Momo dan mengurungi niatnya untuk bertanya. Daripada gadisnya yang balik marah pikirnya. Dia tidak tahu saja Momo bahkan lebih takut pada kemarahannya.
‘Untung aja.’ Batin Momo sambil terus menyuapi Cleo dan dirinya sendiri.
Cleo juga mengupas udang dan menyuapi Momo, karena udang adalah makanan kesukaan Momo. Momo dengan senang hati menerimanya.
__ADS_1
“Dih, iri banget gua dibucinin cowok ganteng kek lu Moy. Beruntung banget hidup lu. Jadi kesayangan kedua keluarga besar, kesayangan gua juga. Beh beh beh, sempurna idup.” Ucap Cessa yang mengiri dengan keharmonisan Momo dan Cleo.
“Mau aku suapin?” Tanya Kelvin menanggapi ucapan Cessa.
“Gak, makasih. Udah kenyang.” Balas Cessa kesal.
“Tadi katanya pengen disuapin juga sama cowok ganteng, sekarang gak mau. Kurang ganteng apa coba aku? Haduh, menyia-nyiakan ketampanan seorang Kevin.” Ucap Kevin dengan segala kenarsisannya.
“Ada ya orang senarsis Kakak.” Balas Cessa sambil menggelengkan kepalanya. Dia bahkan tidak sadar dengan kenarsisannya yang sebelas dua belas saja dengan Kevin.
Momo hanya tertawa menyaksikan perdebatan keduanya. Sedangkan Cleo hanya menatap Momo dan mengabaikan kedua semut itu.
Mereka lalu mengobrol dengan penuh canda tawa. Satu persatu tamu mulai meninggalkan kediaman karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 23.00. Sampai hanya tinggal tuan rumah dan keluarga Grissham saja.
“Karena udah jam segini, aku dan Clarissa juga pamit pulang. Kapan-kapan berkunjunglah ke rumah kami. Titip salam buat Momo.” Pamit Tuan Grissham pada Tuan dan Nyonya Alexandra.
“Baiklah, hati-hati di jalan.” Jawab Tuan dan Nyonya Alexandra sambil mengantar kedua sahabat mereka pulang.
Di meja utama.
“Ayy, udah jam segini. Koko dan Kevin pamit pulang ya. Jangan lupa berkunjung ke kantor nanti kalau senggang.” Pamit Cleo.
“Iya Koko. Hati-hati di jalan. Oh iya, Koko aja yang nyetir, Kak Kevin udah mabuk tuh.” Ucap Momo sambil mengantar keduanya.
“Merepotkan.” Ucap Cleo yang melihat sahabatnya dalam kondisi mabuk dan dipapah oleh Cessa.
Setelah sampai ke mobil Cleo yang dipakai keduanya tadi, Cleo membantu Cessa memasukkan Kevin terlebih dahulu ke mobil.
“Koko pulang, Ayy.” Pamit Cleo yang memeluk Momo lagi dan mencium puncak kepala gadis kecil itu.
“Hati-hati.” Balas Momo sambil tersenyum.
Cleo lalu masuk ke mobil dan segera mengendarainya dan meninggalkan kediaman keluarga Alexandra. Momo dan Cessa pun segera masuk dan menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Cessa diberikan kamar sendiri di rumah Momo oleh Mami Via.
“Selamat malam Moy, sampai jumpa besok.” Ucap Cessa sebelum keduanya berpisah untuk menuju ke kamar masing-masing. Kamar keduanya bersebelahan.
“Malam.” Balas Momo.
Di mobil Cleo dan Kevin tampak berisik karena Kevin yang melantur tidak jelas. Begitulah kelakuannya kalau sedang mabuk. Untungnya dia tidak terlalu banyak minum tadi sehingga mabuknya tidak akan sampai menyebabkan dia muntah. Cleo yang melihat sahabatnya seperti orang gila hanya menggelengkan kepala dan memutuskan untuk membawanya ke rumah agar diurus oleh Pak Nan (pengurus keluarga Grissham). Dia tidak tega membiarkan Kevin yang sedang mabuk sendirian di apartemen.
25 menit kemudian, keduanya pun sampai di kediaman Grissham. Cleo segera memapah Kevin dan masuk ke dalam rumah. Saat melihat Pak Nan, Cleo segera menyerahkan Kevin untuk diurus.
“Maaf merepotkan Pak Nan.” Ucap Cleo setelah menyerahkan Kevin.
“Sudah kewajiban saya Tuan Muda.” Jawab Pak Nan.
Cleo menganggukkan kepala menanggapi Pak Nan lalu berlalu menuju kamarnya untuk beristirahat dan membiarkan Kevin diurus oleh Pak Nan dan yang lainnya.
Di dalam kamar Cleo, setelah dia mandi dan berganti pakaian, dia segera naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat. Dia tidak sabar menjalani hari-hari selanjutnya bersama gadis kecilnya.
Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.
Para readers sekalian… Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author, agar agar menjadi makin semangat nulisnya.
.
Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..
Salam hangat Author receh.. hehe
.
Sampai jumpa di episode berikutnya.
__ADS_1