Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Ais sudah menjadi istri yang baik.


__ADS_3

Lim dan Ais semakin liarr untuk aktifitas mereka. Ketika Lim mendapat kesempatan menumpahkan segala hasrat yang terpendam selama berbulan-bulan, dan mendapat respon positif dari Ais.


Pergumulan keduanya kian memanas. Lim mengangkat tubuh Ais ke tengah ranjang agar geraknya semakin leluasa. Menyesap setiap lekuk tubuh yang indah itu dengan begitu rakusnya. Ais mencengkram rambut Lim, dan menggeliat sesuka hatinya.


"Kau benar-benar siap?" tanya Lim lagi.


"Kita sudah sampai di titik ini, apakah masih mungkin berhenti?" jawab Ais.


Pakaian sudah berserakan di lantai. Mereka sama-sama polos saat ini. Hanya saja, Lim menutupi tubuh Ais dengan selimut mereka.


Ais merintih manja, bahkan menggelinjang dengan hebat ketika Lim telah mulai memainkan benda pusaka itu di syurganya, mulai memaju mundurkan tubuhnya dengan gairah yang semkin memuncah.


Dinginnya AC, kalah dengan gairah mereka yang membakar dengan begitu panasnya. Bahkan, mereka telah bermandi keringat lagi malam ini.


Keduanya berteriak lembut, tatkala tuntas semua rasa. Lim mengecupi kening, pipi dan bibir Ais berkali-kali sebagai ucapan terimakasihnya.


"Ais sudah menjadi istri yang baik." bisiknya. Membuat gadis kecil itu tersenyum dengan begitu bahagia.


Lim segera bangun dan membersihkan diri. Kemudian merapikan pakaiannya kembali.


"Kakak mau kemana?" tanya Ais yang berselimut rapat hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"Masih ada pertemuan, aku keluar dulu."kecupnya.


Ais pun kembali berbaring di ranjang. Kesadarannya utuh saat ini, dan Ia membayangkan apa yang baru saja Ia lakukan bersama sang suami.

__ADS_1


" Astaga... Begini kah rasanya? Meski sedikit sakit, tapi...... Aaaaaahh, Kakak suami." pekiknya, cekikikan sendiri di dalam kamar.


***


Hari ini masih libur. Tapi Ais begitu sibuk mempersiapkan pakaian yang akan dibawa Lim keluar kota. Wajahnya murung, karena Ia baru saja merasakan bahagianya menjadi seorang istri.


" Kenapa?"tanya Lim.


" Baru aja bisa mesra, udah mau ditinggal aja. Nanti kangen gimana?"


" Hanya sebentar, setelah itu kita menemui Mama. "


" Iya... "jawab Ais.


Lim meraih dagunya, lalu menegakkannya. Ia pun memberi kode dengan bibirnya, agar Ais tersenyum. Ya, jurus itu manjur untuknya. Ais tersenyum, meski dalam hatinya masih begitu sedih.


"Dirumah aja ngapa, jadi ibu rumah tangga?" rengek Ais.


"Aku tak pernah melarang itu. Tapi, ilmu juga penting."


Lim menyeret kopernya, menggandeng Ais keluar dari rumah itu. Berpamitan dengan sang Papi, dan segera pergi menaiki mobilnya yang sedari tadi sudah dipanaskan.


Kecup hangat pun mendarat kembali di kening dan bibir Ais. Sebagai ucapan selamat tinggal meski hanya beberapa hari.


"Kakak...."

__ADS_1


"Apa?"


"Ajak Nisa nginep, boleh?"


"Ya, ajak lah. Ajak Dimas menjemputnya nanti."


Ais mengangguk, dan Lim pun pergi.


***


"Gimana, bisa?" tanya Ais pada sahabatnya.


"Tanya Ibu lah. Loe yang nanyain."


"Ya, Gue nanti kesana sama Kak Dim."  jawab Ais.


Ia kemudian beralih menelpon Dimas. Dan seperti biasa, Dimas langsung siap ketika Ais meminta sesuatu padanya. Tanpa fikir panjang, Dimas bergegas menjemputnya di rumah.


"Ais mau kemana?" tanya Papi Tama.


"Jemput Nisa, Ya? Nanti Ais sama Nisa tidur dikamar bawah, berdua."


"Ya, asal Ais bahagia dan nyaman saja." ucap Sang Papi.


Dimas telah menunggu, dan Pak Wil mengantar Ais untuk menghampirinya.

__ADS_1


"Jaga baik-baik, jangan kebanyakan mampir."


"Baik, Pak Wil." jawab Dimas.


__ADS_2