
"Pak, terimaksih ya." Nisa turun dari taxi tanpa membayar. Karena Ais telah memasukkan semua ke dalam tagihannya.
Mobil taxi mulai pergi, sedangkan Nisa berjalan menuju rumah Ibunya yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Tapi, rupanya mobil tadi memang mengikutinya. Berhenti tepat di depan Nisa dan salah seorang turun membekapnya.
"Eeeehmm, siapa kalian?" pekik Nisa.
"Diam, dan ikut masuk." pria itu menarik Nisa ke dalam mobilnya.
Salah seorang diantara mereka dengan sigap mengikat bagian mata Nisa, hingga tak dapat melihat apapun.
"Siapa kalian?"
"Bukan siapa-siapa. Hanya diminta menyingkirkanmu, sebagai istri Tuan Lim."
"Hah, salah sasaran rupanya. Ais terget mereka." fikir Nisa.
Seseorang pun menelpon, tak lama setelah setelah itu. Bercakap mengenai target yang mereka incar dan telah mereka dapatnkan.
"Bagus, jaga baik-baik aset kita. Jangan sampai terluka sedikitpun." ucap seorang wanita yang berbicara dengan nada merdu dari sebrang.
"Suruhan siapa kalian?" tanya Nisa.
"Ngga usah ikut campur. Nanti kalian akan ketemu."
Nisa pun di bawa kesebuah rumah kosong yang sepi. Bahkan, tetangga pun begitu jarang disana, hingga Ia tak akan mungkin bisa meminta tolong hanya dengan berteriak.
"Barang-barang gue, mana?" tanya Nisa lagi.
"Ada, ngga usah berisik. Barang kagak berguna juga."cibirnya.
Nisa hanya mencebik bibir, berusaha melawan meski Ia tertahan dua orang pria berbadan kekar.
__ADS_1
"Duduk disini, dan jangan kemanapun." orang itu kini membungkam mulut Nisa dengan lakban.
***
"Ih, mana sih Nisa?" Ais berulang kali menghubungi hpnya.
"Nisa banyak kegiatan, Ais. Tak hanya mengurusmu saja. Apalagi sedang bertemu dengan Ibu. Mungkin, sedang diberi ceramah habis-habisan sekarang." tegur Lim.
Ais mendengarkan, tapi tak mengindahkan. Di letakkan nya Hp diatas meja, disusul kepalanya yang berbantal dengan tangan.
" Ngga tahu, perasaan Ais... Sekarang sedikit aneh. Sering berprasangka buruk, bahkan suka curiga dengan orang baru."
Lim mendelik. Ia menoleh pada Ais lalu memeriksa dahinya.
"Ngga panas."
"Iiih, kenapa malah diperiksa begini? Ais ngga demam."
Semua orang melihat nya begitu heran, beberapa orang khawatir, begitu juga Dimas yang berpas-pasan di lift.
"Kalian? Ais kenapa?" tanya Dimas, yang melihat Ais dalam gendongan lim.
"Ngga tahu, Ais malah digendong begini. Kayak orang sakit." jawab Ais.
Lim hanya diam, menatap Ais dan memintanya juga ikut diam. Entahlah, Ais begitu merasa aneh dengan suaminya itu.
"Kakak mau bawa Ais kemana?"
"Dokter."
"Ais ngga sakit."
__ADS_1
"Cek aja dulu. Ikut saja, siapa tahu feelingku benar."
"Apa sih?" Ais memicingkan menatap aneh pada Kakak suaminya.
Di jalan, Lim pun menyetir dengan begitu hati-hati. Membuat jenuh, dan mual pada Ais yang memang pemabuk.
"Kapan sampainya?"
"Sebentar lagi, sabarlah. Jalanan sedikit bergelombang karena polisi tidur."
"Ya ampun, kenapa sih Kakak?" Ais semakin kesal dengan tingkah Lim saat ini.
Tiba di sebuah klinik. Lim membukakan pintu, dan membawa Nisa agar turun bersamanya.
"Hah, klinik Ibu dan anak? Ini, klinik dokter kandungan?" Ais mendelik, ketika melihat papan nama yang terpajang disana.
"Iya, ayo masuk."
"Kak, tapi Ais ngga hamil."
"Darimana tahu? Bahkan kita belum periksa." tanya Lim, yang melangkah yakin kedepan. Tapi, Ais menarik ujung jasnya.
"Kakak?"
"Ya, ada apa?"
"Maaf, Ais belum hamil. Ais, sedang datang bulan." Ais tertunduk lesu. Tak enak hati, mematahkan semangat Lim yang sudah begitu membara.
"Hhh, ternyata aku salah." tampangnya begitu kecewa. Tapi, tetap berusaha tersenyum di depan istrinya.
"Maaf..."
__ADS_1
"Sudah, ayo kita pulang." kecup Lim, dikening Ais.