Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Suami istri Prik.


__ADS_3

Ais pulang lebih cepat, karena jadwal telah selesai. Ia pergi menggunakan taxi dan menuju kantor Lim.


"Ikut..." ucap Nisa yang masuk ke taxi itu.


"Loe nggapain? Gue ada urusan sama Kak Lim, ngga ada main-main."


"Gue bertugas meredam emosi Loe. Supaya Loe kagak macem-macem dikantor orang."


"Itu kantor suami Gue." sergah Ais.


"Bodoo..."


Ais menghela nafas panjang, lalu meminta supirnya agar segera berjalan ketempat tujuan.


"Loe jangan bikin malu suami, nanti bisnisnya anjlok."


"Bikin malu apaan? Cuma mau nanya, dia apain Papa Zia?"


"Ya, kenapa ngga lewat telepon saja?"


"Ngga sopan, Gue mau ngomel." jawab Ais.


Nisa hanya menggerak-gerakkan ujung bibirnya. Mendelik kepada sahabatnya yang sudah terlanjur aneh itu.


Tiba di MC group. Nisa dan Ais turun setelah membayar taxi. Mereka terkagum, akan besar dan megahnya perusahaan tersebut.


" Gede banget..." ucap Nisa..


"Ya, Gue baru lihat. Ayo masuk." gandeng Ais pada Nisa.


Mereka berjalan bersama menuju pintu masuk, namun dihadang satpam yang tengah berjaga. Mungkin karena seragam yang mereka pakai kala itu.


"Dek, mau kemana?"


"Adek, adek... Nyonya nih." tunjuk Nisa pada Ais.


"Nyonya?" sang satpam memicingkan mata.


Untung saja, Lara datang dan melihat mereka berdua disana. Lalu Ia menghampiri dan menyapa Ais dengan ramah.


"Nyonya, kenapa kemari?"

__ADS_1


Nisa menjulurkan lidah pada sang satpam, membuatnya tertunduk malu.


"Ruangan Kakak suami, mana?"


"Mari, saya antar." ajak Lara.


Mereka pun menelusuri seluruh ruangan, dan segera menuju ruangan Lim setelah menaiki Lift ke lantai Dua puluh.


"Ini, silahkan masuk." ucap Lara.


"Gue?" tanya Nisa.


"Ikut ayok, Engga ya sana." Ais tampak kurang mood kali ini.


Ia pun membuka pintu ruangan. Ia melihat Lim dalam mode serius, tengah menatap laptop bergatian dengan beberapa file miliknya.


"Auranya beda. Kenapa, seperti lebih tampan?" fikir Ais.


"Kakak." panggilnya kuat.


"Hmmm? Kenapa kesini?" tanya Lim, tanpa menatap kedepan.


"Apa?"


"Lihat Ais dulu. Ngga sopan, ngomong tanpa lihat orangnya." tegur Ais, kesal.


"Sopankah, masuk tanpa mengetuk pintu dan memberi salam?"


"Maaf...."


"Ulangi..." pinta Lim.


Ais memutar matanya, lalu keluar sejenak.


"Kok keluar?" tanya Nisa, yang rupanya masih menunggu.


Ais hanya diam, lalu mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan.


"Masuk." jawab Lim dari dalam.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..." sambut Lim, dan kali ini memberi sedikit senyuman.


"Dasar, suami istri Prik!" sewot Nisa, menggelengkan kepalanya dan pergi.


Ais masuk kembali dengan tatapan Lim kali ini. Sedikit ramah, lalu mempersilahkannya duduk di sofa.


"Ada apa?" tanya Lim.


"Papa Zia?"


"Oh, Dia korupsi. Semua bukti yang telah di sembunyikan, berhasil di temukan. Kenapa?"


"Apa hubungannya sama MC Group?" tanya Ais, dengan mode seriusnya.


"Salah satu proyek itu bekerja sama dengan MC group. Merugikan perusahaan Ratusan juta. Money laundry, dengan cara mendirikan sebuah yayasan."


Ais hanya diam, Ia mengerti dengan segala yang dijelaskan. Dan tak mungkin, jika Lim bekerja tanpa perhitungan yang matang.


" Kepala Ais, di tonyor Zia. "


" Hah?"


" Dia nyalahin Ais, dikira balas dendam sama dia. Karena perkara lalu" ucap Ais.


"Mana, lihat?" ucap Lim.


Ais pun membuka ikat rambutnya. Lalu merubah posisi membelakangi Lim. Ia pun menunjuk bagian yang telah sakit karena Zia barusan.


"Ngga melawan?" tanya Lim..


"Engga... Mau kasihan sama Zia, tapi ternyata memang salah." jawab Ais.


Lim mengusap bagian yang sakit itu. Dengan lembut, dan sesekali mengecupnya.


"Sembuh?"


"Lagi..." pinta Ais manja.


"Mau di tonyor lagi?"


"Ciumnya, Kakak!" gemasnya.

__ADS_1


__ADS_2