
“Momo telpon dokter ya?” Tanya Momo setelah dia melap keringat Cleo.
“Gak usah Ayy, abis minum obat juga nanti baikan kok, gak perlu manggil dokter.” Jawab Cleo yang tidak ingin waktu berduanya bersama Momo terganggu walau oleh dokter sekalipun. Lagian menurutnya kondisinya tidak separah itu sehingga perlu memanggil dokter.
Momo menganggukkan kepalanya lalu menuju ke walk in closet di kamar itu untuk mengambil kaos baru untuk Cleo.
“Ini Koko ganti bajunya ya, itu udah basah banget karna keringat. Momo tinggal bentar ke dapur buat masakin bubur.” Kata Momo sambil memberikan kaos yang diambilnya tadi pada Cleo.
“Terima kasih Ayy.” Balas Cleo sambil tersenyum lembut pada Momo.
Momo membalas senyumnya lalu keluar dari kamar itu menuju ke dapur untuk memasak bubur.
Di dapur, Momo mengeluarkan panic untuk memasak bubur, lalu mengambil beras dengan takaran dua gelas, lalu mencuci beras tersebut kemudian memasukkannya ke dalam panci lalu dia mengisi panci berisi beras itu dengan air yang banyak karena dia akan memasak bubur. Setelah itu, dia menyalakan kompor.
Sambil menunggu bubur matang, Momo beralih ke sayuran diantaranya wortel, kentang, brokoli dan kol. Sayuran tersebut dia cuci terlebih dahulu untuk membersihkan dari kotoran dan juga kuman. Dia lalu memotong kentang dan wortel menjadi bentuk dadu, sedangkan kol dan brokoli, dia memotongnya seperti potongan biasa pada umumnya. Kemudian dia memotong bawang merah dan putih masing-masing satu siung. Setelah semua bahan siap, dia lalu merebus semuanya hingga matang lalu diberi garam dan lada. Sop yang dibuat Momo tidak menggunakan daging ayam karena dia membuat makanan sehat non lemak untuk Cleo sehingga dia tidak menggunakan lemak maupun penyedap rasa (kaldu).
Momo juga memasak nasi menggunakan rice cooker yang ada di dapur Cleo untuk dirinya karena dia sendiri belum sarapan. Dia juga memasak telur mata sapi dan membuat susu yang dia beli tadi di supermarket.
Setelah masakannya matang, Momo langsung menyiapkannya di meja ruang makan lalu menuju ke kamar Cleo untuk memanggilnya. Sampai di depan kamar Cleo, Momo terlebih dahulu mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam sebagai bentuk sopan santun.
Tok, tok, tok.
Bunyi ketukan pintu membuat Cleo yang hampir ketiduran menjadi kembali sadar lalu mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk. Karena sudah dipersilahkan masuk oleh pemilik kamar, Momo lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.
Momo tersenyum melihat wajah Cleo yang sudah tidak sepucat sebelumnya. Dia pun memeriksa suhu tubuh Cleo lagi dan ternyata sudah turun dari 39 derajat menjadi 36 derajat, sudah mendekati suhu normal tubuh Cleo. Momo menghela napas lega lalu menyingkirkan handuk yang dipakainya untuk mengompres dahi Cleo karena suhu tubuhnya sudah turun dan hampir normal. Dia juga lega karena Cleo sudah mengganti bajunya, sehingga dia yakin Cleo sudah memiliki tenaga yang cukup.
“Syukurlah udah turun demamnya. Gimana perasaan Koko sekarang, udah mendingan?” Tanya Momo.
Cleo mengangguk dan tersenyum. Dia kemudian bangun dan duduk sambil menyandarkan dirinya di sandaran ranjang tidurnya.
“Iya, udah mendingan. Ayy, Koko lapar.” Adu Cleo dengan wajah memelas sambil mengelus perutnya yang rata. Dia memang benar-benar lapar sekarang karena semalam dia hanya makan sedikit.
Momo hampir tertawa melihat wajah memelas Cleo yang seperti anak kucing yang kelaparan. Dia mengelus wajah Cleo dan mencubit pipinya dengan gemas. Cleo tertegun sesaat karena perlakuan Momo yang membuat jantungnya berdebar kencang dan pipinya memerah, untung saja Momo mencubit pipinya sehingga dia tidak akan mencurigainya karena malu. Cleo saat ini merasa berada di atas awan, dia sangat ingin memeluk dan mencium gadis di hadapannya namun menahan diri karena tidak ingin gadisnya terganggu dengan tindakannya. Dia hanya terenyum bahagia pada akhirnya.
“Koko tunggu disini, Momo ambilin dulu makanannya.” Kata Momo
Cleo menggelengkan kepala sebelum berkata.
__ADS_1
“Gak usah, Koko makan di dapur aja (dapur Cleo memang sekalian dengan ruang makan). Ayy udah pesen makan? Kalau belum Koko pesenin.” Balas Cleo sambil mengambil hpnya ingin menghubungi petugas restoran apartemen untuk mengantarkan sarapan, namun Momo menghentikannya.
“Gak usah Koko, tadi Momo udah sekalian masak buat sarapan Momo. Ya sudah, ayo Momo papah.” Jawab Momo sekaligus memapah Cleo yang masih lemas.
Cleo sebenarnya sudah cukup kuat untuk berjalan sendiri, namun karena ditawari dengan sukarela oleh kesayangannya, sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya. Dia malah tambah berpura-pura semakin lemas dan memeluk erat pinggang Momo yang sedang memapahnya. Cleo tersenyum tipis merasa bersalah karena membohongi gadisnya, namun dia segera menepis rasa bersalahnya karena sesekali dia merasa perlu berpura-pura untuk meningkatkan kedekatan keduanya, di saat-saat seperti ini memang harus dimanfaatkan pikirnya.
Sedangkan Momo yang tidak tahu Cleo sedang berpura-pura malah semakin mengeratkan pegangannya pada pinggang Cleo dan melambatkan langkahnya karena khawatir Kokonya akan jatuh, kejeniusannya benar-benar tidak bermanfaat sekarang karena rasa khawatirnya pada Cleo.
Setelah sampai di meja makan, Momo membantu Cleo untuk duduk lalu membuka penutup makanan dan memberikan bubur dan sop kepada Cleo. Cleo menerimanya dengan sukacita, terlihat dari senyum lebar yang diberikan pada Momo yang juga balas tersenyum.
“Thank you Ayy.” Kata Cleo menerima makanannya.
“Iya, buburnya dihabisin ya biar Koko cepet pulih, sopnya juga kalau bisa diabisin.” Kata Momo lagi sambil mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
Cleo segera memasukan satu suapan bubur ke dalam mulutnya, tidak lupa juga dengan sopnya. Dia tersenyum karena rasa enak yang sudah lama dirindukannya akhirnya bisa dia nikmati lagi hari ini.
“Masakan Ayy emang selalu gak berubah dari dulu, rasanya selalu enak.” Puji Cleo karena rasa masakan yang dimasak Momo memang sangat enak walaupun sederhana, mungkin karena kecintaannya pada Momo juga yang membuat rasanya semakin nikmat. Bahkan masakan Maminya juga kalah jika dibandingkan dengan masakan gadisnya pikirnya.
“Syukurlah kalau Koko suka.” Balas Momo tersenyum senang. Dia tidak terlalu bahagia dengan pujian Cleo karena dirinya sadar masakan yang dia masak memang enak, lagipula dia sudah cukup terbiasa dengan segala pujian dan kata-kata manis dari Kokonya itu.
“Nanti Koko gemuk, trus badan Koko gak six pack lagi. Trus nanti julukan tuan muda tampan dengan tubuh sempurna Koko jadi rusak dan diganti jadi Tuan Muda Gendut, hahaha.” Balas Momo bercanda.
“Hm, kan bisa olahraga Ayy. Lagian kalaupun gendut juga Koko tetep ganteng, hehehe.” Balas Cleo lagi tidak mau kalah.
“Hadeh, iya iya Koko ganteng. Mending abisin dulu makanannya trus minum obat.” Kata Momo yang tidak ingin melanjutkan perdebatan konyol dengan Koko narsisnya itu.
Cleo tersenyum penuh kemenangan karena Momo yang mengalah padanya. Dengan begitu, dia bisa meminta Momo untuk sering-sering memasakan makanan untuk dirinya. Momo juga tidak terlihat keberatan karena permintannya sehingga dia sudah merancang segala macam rencana di otak briliannya.
Keduanya kemudian menghabiskan sarapan dengan damai setelah perdebatan konyol yang dimenangkan oleh Cleo. Momo pun membereskan bekas mangkuk dan piring yang keduanya gunakan setelah memberikan obat pada Cleo untuk diminum. Cleo dengan senang hati menerima perawatan dari gadisnya, bahkan sampai merasa obat yang diminumnya menjadi manis karena diberikan oleh tangan Momo, benar-benar bucin tak tertolong. (Author aja ampe geleng-geleng kepala dengan kebucinan pemeran utama pria ini)
Momo senang karena Cleo menghabiskan bubur dan sop yang dimasaknya dan juga meminum obat yang dia berikan dengan patuh. Dengan begitu dia akan lebih cepat pulih. Menurutnya Cleo menjadi lebih dewasa sekarang dibandingkan dulu saat keduanya masih bersekolah, dimana Cleo akan menjadi sangat rewel dan susah diatur jika sedang sakit sehingga membuat Mami Clarissa kerepotan, dan hanya dirinya yang bisa membuat Cleo menurut. Yang tidak dia ketahui adalah kebiasaan Cleo itu sebenarnya masih sama sampai sekarang, dia cukup bodoh sehingga tidak sadar bahwa dirinyalah yang bisa membuat Cleo menjadi penurut. Jika saja saat ini Cleo di kediamannya, Nyonya Grissham pasti akan pusing mengurusnya yang tidak menurut jika sedang sakit. Parahnya lagi ketika Momo berada di luar negeri dulu, Cleo akan memiliki waktu yang lama untuk sembuh walau hanya demam atau flu biasa karena dia tidak mau minum obat dan dikompres apalagi dirawat oleh dokter, dan membuat Kevin terpaksa mengancamnya untuk melaporkan pada Momo baru Cleo mau meminum obat. Sejak itu, mereka semua menjadi sangat protektif dengan kesehatan Cleo. Sekarang, mereka semua pasti akan lebih lega karena sang pawang sudah kembali.
Melihat Momo yang mencuci piring, Cleo dengan setia menunggunya. Dia masih duduk di kursi meja makan sambil memandangi punggung Momo. Rasanya seperti melihat istrinya yang sedang mencuci piring, benar-benar pemandangan indah di pagi hari pikirnya. Dia berharap pemandangan ini bisa dilihatnya setiap hari. Dan dia juga merasa cukup percaya diri harapannya itu cepat atau lambat akan terwujud dengan perkembangan kedekatan mereka sekarang.
Keduanya memilih beristirahat sambil menonton di ruang tengah setelah Momo selesai membereskan dapur. Cleo sebenarnya diminta Momo untuk kembali beristirahat di kamarnya, namun Cleo menolak karena dia ingin menghabiskan waktu bersama Momo jadi berakhirlah dengan keduanya menonton bersama. Mereka menonton berita bisnis dan politik sambil mengobrol dan saling bercanda tawa.
Sampai jam menunjukkan pukul sebelas pagi, Cleo memutuskan untuk membersihkan dirinya karena merasa tubuhnya sudah pulih dan badannya juga cukup lengket karena keringat. Sedangkan Momo memilih untuk memasak makan siang. Dia masih membuatkan bubur lagi untuk Cleo dan juga makanan lain penambah stamina namun sehat, dan untuk dirinya dia memasak ayam asam manis dan tumis sawi.
__ADS_1
Cleo yang sudah selesai mandi lalu menuju ke dapur untuk membantu Momo memasak namun tidak diijinkan oleh Momo karena dirinya masih butuh istirahat, sehingga dia akhirnya hanya menemaninya saja sambil mengajak gadisnya mengobrol.
Saat jam dua belas siang, masakan Momo juga sudah siap dinikmati. Cleo membantu Momo menyiapkan makan siang, dan kali ini Momo terpaksa mengizinkannya karena Cleo yang bersikeras bahwa kondisi dirinya sudah pulih.
Makan siang berjalan dengan lancar dan damai seperti biasanya. Setelah selesai makan, Momo akan mencuci piring dan juga membersihkan dapur seperti yang dilakukannya pagi tadi. Sedangkan Cleo meminum obatnya lalu ke ruang tengah untuk bersantai.
Momo menyusul Cleo setelah selesai dengan urusannya di dapur. Keduanya menghabiskan waktu dengan menonton film dan mengobrol santai sampai Momo merasa mengantuk. Dia langsung tertidur begitu saja sambil menyandarkan tubuhnya di sofa karena sudah tidak bisa menahan kantuk yang dirasanya. Dia tidak cukup tidur semalam ditambah bangun terlalu pagi tadi karena khawatir sehingga dia butuh tidur sekarang. Dia tidak mendengar lagi apa yang diucapkan Cleo karena dirinya sudah tertidur begitu saja.
“Gimana perkembangan restoranmu Ayy? Ada rencana nambah cabang lagi gak? Di kantor Koko misalnya?” Tanya Cleo yang tidak tahu dirinya sudah ditinggal tidur oleh Momo karena fokus menonton film di televisi depan mereka.
Merasa tidak ada jawaban dari gadisnya, Cleo menoleh dan mendapati wajah cantik gadisnya itu yang ternyata sudah terlelap dengan damainya. Dia tersenyum tidak berdaya dan merasa bersalah pada gadisnya karena membuatnya kelelahan dengan merawatnya.
Cleo lalu mendekati gadis itu, menatap lama pada wajah cantik dengan mata tertutup yang damai itu, lalu mengusap pipinya, alisnya, kemudian hidungnya. Cleo menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Momo, menatapnya lama dan berakhir pada bibir tipis merah alami yang menggoda imannya itu. Ingin sekali rasanya untuk mencici[I rasa manis bibir itu, tapi dia tidak akan bertindak kurang ajar pada gadis yang dicintainya sehingga dia hanya bisa menahan dirinya.
Cleo menghembuskan napas kasar tidak berdaya setelah puas memandangi wajah cantik ciptaan Tuhan tersebut. Dia lalu dengan pelan dan berhati-hati memperbaiki posisi tidur gadis itu. Menurunkan kepala gadis itu lalu menempatkannya pada sofa dengan bantal yang menyangga kepalanya, lalu Cleo meluruskan kaki gadisnya. Setelah itu dia menuju kepala Momo, mengangkat kepala Momo, lalu duduk dan menempatkan bantal kecil di pahanya kemudian meletakkan kepala Momo pada bantal yang dipangkunya.
Momo yang merasa terganggu dalam tidurnya lalu bergerak mencari posisi yang nyaman. Dia berbalik dan menghadap perut Cleo, menenggelamkan wajahnya pada perut rata dan hangat itu, lalu memeluk pinggang Cleo dengan tidak sadar karena yang dikiranya adalah guling.
Cleo yang mendapati serangan tiba-tiba itu terpaku dan tertegun. Tubuhnya kaku dan otaknya berhenti bekerja sesaat. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya memerah, dan dia merasa udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi panas.
Setelah menenangkan diri, Cleo akhirnya membiarkan Momo di posisinya setelah melihat gadisnya terlihat nyaman. Cleo tidak berani bergerak sedikitpun karena takut Momo terbangun padahal dia belum menyandarkan diri. Pada akhirnya dia meraih dua bantal sofa di sampingnya lalu diletakkan di belakang punggungnya untuk dia gunakan sebagai sandaran. Setelah bisa bersandar, Cleo akhirnya bisa bernapas lega.
Cleo hanya bisa mengelus lembut rambut gadis kesayangannya sambil tersenyum hangat. Dia juga sangat menikmati memon-momen berdua bersama gadisnya seperti ini, apalagi dipeluk oleh gadisnya. Walaupun menyiksa batinnya, namun dia cukup menikmati kehangatan ini. Hayalan-hayalan indah berkeliaran di otaknya membuatnya tidak fokus lagi pada film yang sedang ditontonnya. Lama berhayal, Cleo akhirnya merasa ngantuk dan ikut tertidur dengan Momo yang masih tidur di pangkuannya sambil memeluknya dengan nyaman.
Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.
Para readers sekalian… Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author, agar Author menjadi makin semangat nulisnya.
.
Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..
Salam hangat Author receh.. hehe
.
Sampai jumpa di episode berikutnya.
__ADS_1