Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Baju baru untuk istri


__ADS_3

Ais dan Lim pulang setelah mengantar Nisa. Rasa lelah menghampiri, apalagi nanti malam harus belajar lebih banyak untuk ujian esok hari.


"Zia bagaimana?"


"Apanya?"


"Anak seperti itu, dia ngga akan pernah puas membully orang. Mau pengawal?" tanya Lim.


"Ngga usah ah, lebay. Biarin aja, selama dia ngga macem-macem. Nanti kalau ada apa-apa, tinggal lapor 'kan?"


"Lapor Kakak suami lah." jawab Ais, yang tengah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong milik Lim.


"Bajumu habis?" tanya Lim, menatapnya heran.


"Baju Ais banyak. Tapi ini, baju paling nyaman." pujinya.


"Tapi, aku tak nyaman melihatnya. Itu, terlalu terbuka. Jangan pernah keluar rumah dengan pakaian seperti itu." pinta Lim.


"Hmmm..."


"Bagus..." Lim keluar lagi, kembali dengan segala pekerjaan yang menanti.


Biasanya Ais akan segere tidur siang selepas pulang sekolah. Tapi kali ini tidak. Meski telah banyak makan siang, Ais tetap tak dapat memejamkan mata sedikitpun. Ia mengambil buku dan belajar sesuai jadwal esok hari.


"Gila, kenapa dengan otak ini? Tumben sekali ngajak belajar." kagumnya pada diri sendiri.


***

__ADS_1


"Kau mulai mencintainya?" tanya Dimas.


Lim hanya memberi sedikit senyuman. Dan tanpa perlu dijelaskan, Dimas tahu apa maksudnya.


"Aku hanya merasa jantungku terlalu sakit ketika bersamanya."


"Lalu?" tanya Dimas lagi.


"Semacam, Dia lah penyembuhku nanti. Mungkin, karena dia yang selalu membuatku spot jantung, maka jantung ini akan semakin kuat."


"Jawaban aneh." balas Dimas.


"Jadi, perlukan menjadi aneh agar kita bahagia?"


"Entahlah... Suka-suka hatimu saja, Lim. Aku hanya bisa mendukung, asal kau bahagia. Setidaknya, tak lagi terjerat dengan masa lalu pahitmu itu."


Lim hanya mengangguk. Dimas tahu benar akan dirinya. Bahkan, Ia salah satu saksi hidupnya bersama Almira.


" Kak, Ice cream." pesan Ais padanya.


Lim langsung berhenti, ketika menemukan sebuah Minimarket dipusat kota. Ia masuk dan membelikan semangkuk besar Ice cream coklat untuk gadis kecilnya itu


Langkahnya terhenti, ketika menemukan sebuah toko baju disampingnya. Disana terpanjang sebuah gaun pendek berwarna hitam, lengkap dengan accesoris nya yang menambah cantik gaun itu.


"Apa, Dia mau memakainya?" tanya nya ragu.


Tapi akhirnya Ia masuk. Ia membungkus pakaian yang terpanjang tadi untuk Ais.

__ADS_1


"Entah kapan, dia akan memakai ini. Belikan saja."


"Buat istrinya, Tuan? Ada yang lain, silahkan dipilih." tawar sang pramuniaga.


Pada saat itulah, Lim baru sadar jika Ia masuk ketoko yang khusus menyediakan perlengkapan wanita.


"Astaga..." Matanya terbelalak, melihat semua patung wanita yang memakai lingerie begitu tipis menerawang.


Fikirannya kotor, sekilas membayangkan Ais memakai pakaian itu dihadapannya.


"Hehe.... Astaga. Otak ini."


Akhirnya, Ia pun membeli satu untuk sang istri dirumah.


Sepanjang jalan, Ia tak dpat membayangkan, bagaimana ekspresi Ais menerima hadiah darinya.


"Apakah, benda itu ku simpan dulu di mobil?" fikirnya.


Ia hanya tak ingin menodai kepolosan Ais. Apalagi, ujian akhir harus membuat nya fokus pada kelulusan,


"Dia anak yang serba ingin tahu. Jika Ia justru mencari info ditempat yang salah, akan bahaya nantinya." ucap Lim, dengan memisahkan lingerie itu di tas yang lain.


Ia kembali tancap gas, lalu pulang dengan cepat karena takut ice cream nya mencair.


Mendengar suara mobil memasuki halaman rumah, Ais bergegas keluar dan menyambutnya. Ia sudah mandi, wangi dan rapi. Tapi, masih saja mengenakan kemeja Lim sebagai daster nya.


"Nah...." Lim memberikan ice cream dengan baju barunya.

__ADS_1


"Heh, apa ini?"


"Buka saja, aku lelah dan ingin mandi. Segera siapkan bajuku." pinta Lim, berjalan naik ke kamarnya.


__ADS_2