
Ais dan Lim membawa semua duduk di kursi. Mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan. Apalagi, mereka juga harus menjaga Papi Tama dan Bu Ratna agar tetap dirumah dengan segala pengawalan yang ada.
"Kalian, jangan pernah kemanapun tanpa izin dariku. Sebentar lagi, pengawal akan datang menjada setiap sudut rumah ini."
"Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, siapa dia? Tak mungkin itu Al." sambung Dimas.
"Memang, itu bukan Al. Maka dari itu, aku butuh bantuanmu, Dim. Ikut aku sekarang."
"Baik...." Dimas pun mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.
"Ais, ikut...."
"Ais dirumah. Jaga mereka, dan jangan pernah pergi. Kemanapun kamu, aku akan tahu." ucap Lim.
"Iya...." Ais pasrah, dan kembali duduk manis di samping Bu Ratna.
Lim dan Dimas pergi. Bukan ke tempat Aura lagi, melainkan kerumah bekas tinggal Al dan Ayu kala itu.
"Untuk apa kemari?" tanya Dimas.
"Mencari segala info. Bahkan, info yang terburuk sekalipun."
Lim perlahan masuk, dengan sebuah kunci yang sempat di titipkan Almira padanya. Ia membuka rumah itu, dan jantungnya berdenyut dengan begitu kuat, dengan segala kenangan yang ada.
__ADS_1
"Aaaakkkhhh!" Lim jatuh tersungkur memegangi dadanya.
"Lim, kau tak apa?"
"Tidak... Lanjutkan pencarian, dimana saja ada celah. Aku, akan segera menyusul."
Lim menarik dan menghirup nafasnya beberapa kali. Mengoptimalkan kerja jantungnya. Kemudian, Ia mulai memasuki kamar yang sempat Almira tinggali.
"Sudah hampir Tiga tahun, dan masih dengan kondisi seperti ini." kagumnya, ketika semua fotonya dengan Al masih terjejer rapi di dinding.
Lim memberanikan diri, membuka lemari dan semua isinya. Bahkan laci, tempat dimana diary Al di simpan dengan rapat.
" Dimana? Kenapa tak ada? Dan, sepertinya ada yang membuka secara paksa." Lim mencari-cari, dan memperhatikan semua benda yang ada disana. Apalagi, ketika menemukan lubang kunci yang telah rusak.
Lim segera menjawab, dan Dimas pun menghampirinya di kamar Al saat itu.
" Lim, lihatlah." Dimas menunjukkan beberapa foto Al, yang rupanya telah disobek.
Foto yang awalnya bersama Lim, terpotong di bagian pinggir. Hanya menyisakan bagian Almira, dengan bagian wajah yang penuh coreta.
"Dimana?"
"Di-di kamar Ayu." tunduk Dimas.
__ADS_1
Lim segera berlari ke kamar itu. Suasanya begitu berantakan, padahal orangnya pergi. Foto Al, dipotong. Hanya menyisakan foto Lim dan Ayu diantara mereka. Bahkan, pakaian kesayangan Ayu berhamburan disana, seperti telah di bajak dan dirusak.
"Ayu? Apakah dia, mungkin?"
Semua dugaan bersambut. Aura menghubungi nya beberapa saat setelah itu. Aura yang juga curiga mengenai kemunculan Al palsu, akhirnya mencari info keberadaan Ayu di luar negri.
"Dia tak ada di Rumah sakit manapun. Baik Dokter, atau bahkan pasien. Tapi, aku menemukan fakta lain tentangnya."
"Katakan, Aura. Ada apa?" pinta Lim.
"Ayu terbang ke korea selatan, dan mendatangi klinik kecantikan disana."
"Apa artinya, dugaan kita benar?" tanya Dimas.
"Aku, sedang mencari info lagi. Tunggulah beberapa waktu. Akan sgera ku cari buktinya."
"Baiklah... Kami menunggu disini." ucap Lim, dengan segala kegalauan yang ada.
Lim terus memainkan Hpnya, mencari riwayat panggilan yang nyaris tenggelam dengan riwayat lain. Ia mencari nomor, kemungkinan dapat menghubungi Al palsu itu. Tapi, rupanya Ia lah yang menghubungi terlebih dulu.
"Sayang, kau mencariku? Apa kau merindukan aku?"
Lim menarik nafasnya panjang, lalu mempersiapkan dirinya untuk menjawab.
__ADS_1
"Ya, Al... Aku, sangat merindukanmu. Hatiku sakit, ketika kau ada, tapi aku tak dapat memelukmu. Datanglah, dan temui aku. Aku rindu mencumbumu, menikmati setiap sentuhan yang kau berikan. Aku, rindu semuanya." ucap Lim.