
Nisa tengah duduk dalam keadaan begitu lemah dilantai tak beralas. Rambutnya berantakan, dan bibirnya berdarah, mungkin bekas pukulan dari beberapa orang yang ada disana.
Mereka preman yang sering menganggunya ketika pulang sekolah. Dan rupanya adalah suruhan Zia, karena kesal dengan Nisa yang selalu membela Ais.
"Kenapa gue?" tanya Nisa, lemah.
"Kenapa Loe? Karena Loe teman dia!" Zia menjambak rambutnya yang mendongakkan kepala Nisa menghadapnya..
"Kenapa Loe sedendam itu sama Ais? Bahkan dia ngga pernah punya salah sama Loe?"
"Dia ngga pernah punya salah? Dia satu-satunya orang yang berani lawan gue! Dan karna dia, yang lain pun ikut-ikutan berani nentang gue. Gue benci itu..." tukas Zia.
Nisa hanya menghela nafasnya panjang. Rasa perih, takut dan sakit. Tapi Ia yakin, jika Ais akan segera datang menemuinya.
" Mana temen Loe sekarang? Mana! Ngga berani lawan Gue sama semua temen gue?"
" Dia bukan temen Loe... Dia preman yang Loe bayar. Dan jika ada yang bayar lebih mahal, mereka akan berbalik hajar Loe." balas Nisa.
Zia hanya tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu atas ucapan yang Nisa berikan. Padahal, Nisa tahu sosok yang dekat dengan Zia itu.
" Alfin, preman kampung yang suka ganggu gadis disana. Jangan sampai, Zia jadi korbannya." fikir Nisa. Apalagi, Zia selalu bangga dengan harta Papanya.
Nisa sudah tampak lemah. Apalagi Zia tak henti mengerjainya. Tubuhnya tergelatak di lantai, menatap langit-langit gedung tua tempatnya di sekap.
__ADS_1
" Woy! "teriak Ais, datang dengan motornya.
" Ais?" lirih Nisa, melambaikan tangan lemah padanya.
"Nisa, Loe ngga papa?" tanya Ais dari kejauhan.
"Dateng, Loe? Kenapa sendiri? Ngga punya temen kan? Kayak gue dong, temennya banyak." Bangga Zia, memamerkan teman preman yang ada disekitarnya..
"Cuma preman bayaran aja bangga."
"Bacot! Serang..." Zia menginstruksi semua teman barunya itu.
Satu-persatu menyerang Ais, Ia dapat melawannya dengan mudah. Satu persatu preman itu pun jatuh dan tersungkur di lantai dengan segala memar yang ada.
Bughh! Seorag memukulnya dari belakang. Ais jatuh bersimpuh, dengan darah keluar dari hidungnya.
"Ais, hati-hati. Mereka, preman kampung." pekik Nisa, dengan sisa tenaga yang ada.
"Oke, preman kampung. Ngga tahu, gue anaknya mantan preman berpengaruh di kota." bangga Ais.
"Siapa Loe?" tanya Alfin, masih dengan balok kayunya.
"Gue Aishwa, Anak tunggal Papa Udin." Ais menyunggingkan senyum diujung bibirnya.
__ADS_1
"Udin?" Alfin berfikir sedikit keras. Mendengar saja hatinya sudah bergetar.
"Bodo, yang penting gue dibayar." ucapnya lagi.
"Seorang pria melawan gadis demi uang. Pria itu benar-benar telah kehilangan kehilangan kehormatan dan kejantanannya." cibir Ais.
Alfin seolah kehilangan akal dan fikiran. Ia tak mau mendengar apapun, dan langsung menyerang Ais secara bertubi-tubi.
"Aaaakkkhh!" Ais memekik, darah dihidung pun semakin banyak keluar.
Buuuggghhh! Sebuah balok kayu mendarat tepat dikepala Alfin. Seketika preman itu terjatuh dengan darah di dahinya.
"Woyy! Siapa berani nyerang gue?" pekik Alfin.
"Aku...."
Dua orang pria berjas datang berdampingan. Dengan aura tajam dan amarah yang besar. Apalagi, melihat Dua orang gadis terkapar karena dihajar dua orang pria lemah.
"Kak Lim..." lirih Ais.
"Kak Dim...." ucap Nisa.
"Siapa kalian?" pekik Alfin.
__ADS_1
"Fin, kabur!" ajak Zia yang tampak ketakutan.
"Kecir Loe! Padahal, yang datang cuma Dua orang. Sedangkan Loe, keroyok gue sama banyak preman. Lemah!" cibir Ais, dengan senyum mengembang di bibirnya.