Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Dia anak tiri gue.


__ADS_3

Bel pulang berbunyi. Ais segera membereskan tasnya dan menggandeng Nisa untuk keluar. Tanpa sadar, beberapa orang mengikutinya dari belakang.


"Ya, Ais, maaf..." sesal Nisa.


"Kenapa?"


"Ibu, nyuruh cepetan pulang. Katanya ada urusan. Gue temenin nunggu aja deh."


"Oke...." Ais mengacungkan jempolnya.


Mereka duduk di pos satpam, sedikit lama dan sekolah sudah tampak sepi. Tapi Lim belum juga datang. Hingga suara klakso berbunyi, dan sebuah mobil mewah menghampiri mereka.


"Ayo...." ajak Lim, membuka kaca dan masih dalam mobilnya.


"Iya..." jawab Ais, memakai tasnya di pundak.


"Heh, siapa tuh? Asisten lakik loe lagi?" tanya Zia yang mendadak datang menghampiri.


"Saya...."


"Dia anak tiri gue. Cakepkan?" potong Ais pada ucapan Lim.


Seketika Nisa dan Lim melotot menatap Ais dengan jawabannya yang aneh.


"Anak tiri?" fikir mereka.


"Kok bisa?" tanya Zia, mulai gagap. Apalagi, menatap wajah Lim yang membuat hatinya bergetar.


"Bisa lah. Kalau Lakik gue aki-aki, berarti Anak tiri gue ya ini. Napa, naksir? Berani punya ibu mertua kayak gue?" cibir Ais.


Ia pun masuk ke dalam mobil, meninggalkan Zia yang masih bengong. Sedangkan Nisa, mulai mencari ojeknya di ujung gerbang sekolah.

__ADS_1


" Ais apa-apaan? Dia siapa?" tanya Lim.


" Salah seorang, yang paling Ais hindari buat debat."


"Musuh?"


"Jangan dipertegas. Udah di halusin, juga."


"Oh..." jawab Lim, kembali fokus dengan setirnya.


"Yang tadi pagi?"


"Yang mana?" tanya Ais, meminum air mineral yang tersedia di mobilnya.


"Yang.... Lelaki." jawab Lim.


"Temen..."


"Cieeeee... Cemburu, ya?" ledek Ais. Wajah Lim pun sedikit memerah, meski masih memperlihatkan wajah tegasnya.


"Jangan main-main."


"Mana ada. Ais ngga main-main, temen aja ngga punya." jawab Ais.


Ia meneguk minumannya dengan cepat. Tampak oleh Lim, ketika kerongkongannya bergerak naik turun, dan beberap air menetes keluar dari mulutnya.


"Minum jangan berantakan. Ngga sopan." tegur Lim, setelah meneguk salivanya.


"Ais ngga sengaja, kan minum sambil jalan. Ada guncangan tadi. Tisu mana lagi?" cari nya di tas.


Lim menghentikan mobilnya, lalu meraup bibir Ais yang basah dengan bibirnya. Ais yang kaget, hanya bisa diam dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Lim, melepas sergapannya.


"Belum..." jawab Ais.


"Lim meraih tengkuk leher Ais, lalu kembali menempelkan bibirnya disana. Sedikit bermain, meski Ais belum dapat membalasnya."


"Sudah, bersih." jawab Lim, sedangkan Ais masih diam seribu bahasa. Meski, rasa dalam hatinya berjingkrak kegirangan.


Lim kembali pada mode senyap. Menyetir mobil dengan pandangan fokus ke dapan. Entah bagaimana perasaannya kali ini, tapi tatapan ya tetap datar.


***


Tiba di sebuah mall besar. Mereka turun dan Lim segera menggandeng tangan Istrinya. Masuk dan naik eskalator pun, genggaman Lim tak pernah Ia lepas sedikitpun. Meski, semua orang menatapnya dengan sedikit aneh.


"Dikira Om sama keponakannya kali, ya?" fikir Ais.


Tiba di sebuah toko sepatu branded, baru lah Lim melepaskan gengaman itu dari Ais.


"Pilihlah, aku tunggu disini." duduknya di sofa.


Ais terbelalak, dengan semua yang Ia lihat. Semua yang dipajang begitu tampak mewah, apalagi merknya yang Ia tahu begitu terkenal.


"Mahal ini?" tanyanya.


"Mahal, tapi awet. Bisa dipakai lama."


"Tapi, Ais sekolah tinggal Sebulan lagi."


"Jika tak mau, kita pulang."


"Iyaaa... Ais pilih sekarang." larinya, menuju semua yang ingin Ia coba. Meski, entah harus membeli yang mana.

__ADS_1


"Kakak suami, memang sangat tahu selera istrinya ini. I Love You Kakak suami..." ucap Ais, sembari memberi finger kissnya dari kejauhan.


__ADS_2