Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Donor jantung milik Almira


__ADS_3

"Lapor, ada korban Laka lantas di jalan lintas kota. Korban ada Dua orang berpasang. Sang wanita terluka dikepala, dan tampaknya koma. Sedangkan pria mengalami pembengkakan di jantung akibat benturan hebat."


Suara itu terngiang-ngiang ditelinga L yang bahkan sulit membuka mata kali ini. Remang-remang, terasa ketika Ia diangkat dengan sebuah tandu menuju ambulance. Dan tampak Al dibawa dengan tandu yang lain di ambulance yang satunya.


" Al, kenapa kau diam saja?" batin Lim, yang melihatnya terkulai begitu lemah dan kepala penuh darah.


Pintu di kunci, Ia dibawa ke Rumah sakit dengan begitu cepat. Selang oksigen, tensi darah, dan semua nya terpasang ditubuhnya begitu lengkap. Ingatan terakhirnya adalah, Ia masuk ke dalam ruang IGD dan berdekatan dengan Al kala itu. Menatap remang ketika semua orang melakukan tindakan gawat darurat pada sang kekasih.


Bahkan, Ia tak ingat jika dirinya kesakitan hingga pingsan dan koma selama beberapa minggu. Ia bahkan tak banyak mengingat setelah itu.


*


Perlahan Ia membuka mata, merasakan sakit yang teramat perih di dada dan jantungnya. Bernafas pun begitu sulit, hanya dapat memberi isyarat pada Dimas yang setia menunggunya disana.


"Lim, kau sudah sadar?" Dimas menghampirinya dengan begitu bahagia.


"Al?" pertanyaan dan panggilan pertama setelah Ia sadar.


"Al, tidur di kamarnya." jawab Dimas. Bukan ingin menipu, hanya ingin memulihkan kesadarannya terlebih dulu untuk saat ini.

__ADS_1


Seminggu pasca sadar, Lim tak juga dipertemukan dengan Al. Sejuta tanda tanya, menggelayut dalam fikirannya. Hingga akhirnya, Aura sendiri menemuinya kala itu.


"Ra, mana Al?" lirih Lim.


"Lim, Al ada dalam tubuhmu." Aura menunjuk dada, tepat pada luka bekas operasi itu.


"Hey, kau bicara apa? Kau fikir, Al hantu yang bisa masuk ke dalam tubuhku?" Lim masih belum mengerti maksudnya.


"Bukan jiwanya, tapi jantungnya."


Aura memberi sepucuk surat, dimana terdapat cap jempol dari Al disana. Terlalu sulit membubuhkan tanda tangan, hingga hanya cap jempol yang Ia berikan. Dan sebuah rekaman suara terakhir dari Al.


"Al ingin kau hidup, dan menjaga detak jantung itu dengan baik." ucap Aura.


Lim mengusap dadanya beberapa kali. Luka itu tampak menonjol, dan mungkin akan berbekas selamanya. Setelah itu, raut wajah Lim berubah dari biasanya. Bahkan Ia tak menangis, hanya diam memasang wajah datarnya.


" Sedikit sedih saja, sudah begitu sakit. Apalagi, jika aku menangis. Al pasti akan merasakannya. Aku... Akan selalu menjaga ritme jantung nya agar selalu normal."


"Lim, bukan begitu. Kau tetap harus menjadi dirimu sendiri. Kau tak boleh menahannya."

__ADS_1


"Tak apa, Aura. Dia telah memberi hidupnya. Sedangkan aku, hanya akan menjaganya, disisa hidupku


" Lim....." lirih Aura.


Tangan Dimas menaik Aura. Memintanya agar sejenak membiarkan Lim dengan sikapnya. Dan meski khawatir, Aura menurutinya.


Sejak saat itu, sikap Lim menjadi dingin pada semua orang. Menahan emosi yang datang berlebihan dalam dirinya, agar jantung itu bergerak dengan ritme normalnya.


***


Back.


"Lalu siapa dia?" Lim dan Dimas berfikir begitu keras.


"Dimana Ayu?" tanya Dimas pada Aura.


"Ayu dapat penawaran tugas di luar negri. Dia masih sering menghubungi. Hanya saja, jadwalnya padat disana." terang Aura.


Ia pun memberikan foto Ayu, dengan segala aktifitasnya di tempatnya yang baru.

__ADS_1


__ADS_2