Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Belanja Bersama Cessa


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian keduanya sampai pada tujuan mereka selanjutnya yaitu salah satu mall terbesar milik keluarga Grissham untuk berbelanja. Lebih tepatnya, Cessa yang berbelanja, sedangkan Momo hanya menemani sahabatnya karena dia sendiri tidak suka berbelanja dan merasa semua kebutuhannya sudah tersedia dengan lengkap di rumahnya.


Setelah memarkirkan mobil, Cessa dengan semangat menarik tangan Momo untuk menemani dirinya berbelanja. Pertama-tama Cessa menarik Momo menuju salah satu brand toko tas ternama untuk memilih beberapa tas yang akan digunakannya selama di sini. Padahal tasnya sendiri sudah banyak di rumahnya, namun yang namanya wanita tidak pernah merasa cukup. Dia meminta pendapat Momo setiap mengambil tas yang disukainya sebelum membelinya.


“Moy, ini bagus ga? Atau yang ini?” Tanya Cessa sambil menunjukkan 2 tas berbeda kepada Momo untuk meminta pendapat sahabatnya.


“Dua-duanya bagus.” Jawab Momo karena merasa kedua tas itu cocok untuk Cessa.


“Okedeh, lanjut ke toko sepatu.” Kata Cessa dengan penuh semangat setelah membayar kedua tas tersebut lalu menarik Momo menuju ke toko sepatu.


Keduanya lalu masuk ke salah satu toko sepatu yang menjual berbagai jenis sepatu dari berbagai brand ternama. Setelah memilih beberapa sepatu yang dirasa cocok, Cessa langsung membayar sepatu tersebut. Momo tidak membeli sepatu apapun karena tidak ada yang disukainya.


“Moy, mau istirahat dulu atau lanjut ke toko pakaian?” Tanya Cessa pada Momo sebelum melanjutkan belanjanya.


“Lanjut aja.” Jawab Momo.


“Okedeh bebi.” Balas Cessa lalu menggandeng tangan sahabatnya itu menuju salah satu toko pakaian yang cukup ramai pengunjung. Terlihat para pengunjung toko tersebut adalah orang-orang berduit karena menggunakan barang-barang branded. Jelas saja, toko tersebut memang salah satu toko langganan para orang berduit karena tidak ada barang murah yang dijual di dalamnya.


Pertama-tama mereka menuju ke stand baju wanita. Setelah memilih beberapa, mereka lalu lanjut ke stand celana wanita untuk memilih beberapa juga. Momo juga ikut membantu Cessa memilih pakaian yang cocok. Setelah memilih, Cessa lalu mencoba semua pakaian yang mereka pilih di salah satu kamar pas yang disediakan. Ternyata semua yang mereka pilih cocok dipakai oleh Cessa sehingga dia segera membayar semuanya.


“Huft, capek banget. Tapi thanks ya Moy udah nemenin gua belanja lama banget sana sini tanpa ngeluh. Emang kesayangan gua.” Kata Cessa setelah keduanya keluar dari toko pakaian dengan membawa banyak tas belanjaan. Saking banyaknya, Momo pun ikut membawa sebagian tas belanjaan Cessa karena melihat sahabatnya itu kerepotan membawa belanjaannya.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul 17.30 sore, Cessa lalu bertanya kepada Momo.


“Moy, mau langsung balik atau makan dulu disini?” Tanya Cessa.


Keduanya ternyata menghabiskan hampir lima jam hanya untuk berbelanja. Lebih tepatnya Cessa yang berbelanja, karena Momo sama sekali tidak membeli apapun. Benar-benar hanya menemani sahabatnya itu.


“Langsung aja deh, Mami udah masak juga di rumah.” Jawab Momo karena melihat waktu yang sudah tidak memungkinkan untuk singgah makan terlebih dahulu.


“Okedeh, langsung ke rumah gua kan?” Tanya Cessa lagi.


“Iya. Lu aja nyetir.” Jawab Momo.


“Siap bosku sayang.” Balas Cessa.


Keduanya lalu meninggalkan mall tersebut dan langsung menuju kediaman keluarga Cessa. Dua puluh menit kemudian mereka akhirnya sampai di rumah yang cukup mewah milik keluarga Cessa. Tentu saja, karena keluarga Cessa juga merupakan salah satu keluarga kaya di kota ini walaupun tidak sekaya keluarga Momo. Design rumahnya bergaya klasik modern sehingga terlihat elegan dan mewah.


Setelah memarkirkan mobil, Cessa mengajak Momo masuk ke rumahnya.


“Yok, masuk Moy, anggap aja rumah sendiri.” Ajak Cessa pada Momo.


Momo menganggukkan kepala sebagai jawaban. Mereka berdua masuk dengan menenteng tas belanjaan Cessa. Momo juga membawa dua tas lain untuk diberikan kepada Mama dan adik-adik Cessa sebagai oleh-oleh, karena menurutnya tidak baik datang bertamu tanpa membawa bingkisan, apalagi ini pertama kalinya Momo ke rumah Cessa.


“Mah, Pah, Nath, Kia, Cece pulang. Lihat siapa yang Cece bawa.” Teriak Cessa dengan kebiasaannya yang selalu heboh. Momo seperti biasa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya.


“Wah, Momo ya. Ya ampun, cantik banget sih. Kok bisa temenan sama Cessa yang kurang waras itu, hehe.” Sambut Mama Cessa yang bernama Nyonya Ayu saat melihat Momo.


“Ayo duduk sayang, Mama ambilin minum dulu ya.” Kata Mama Ayu mempersilahkan Momo duduk di ruang tamu.


Papa Cessa (Tuan Roy) yang melihat keduanya lalu bergabung dan mengobrol bersama Momo. Dia merasa kagum pada Momo yang semakin cantik, karena terakhir dia dan sang istri melihat Momo adalah saat Momo masih di usia sekolah menengah pertama.


“Papa kamu gimana kabarnya?” Tanya Papa Roy kepada Momo.


“Papa baik Om.” Jawab Papa Roy.


“Manggilnya Papa sama Mama aja biar akrab. Kan Cessa juga manggilnya gitu ke Papa dan Mamimu.


“Eh, iya Pah.” Balas Momo mengubah panggilannya.


“Nah gitu dong, kan kedengarannya akrab gitu. Ya sudah, kamu ngobrol sama Mama dan yang lainnya ya, Papa tinggal.” Ucap Papa Roy pada Momo.


“Ce, temenin sahabatmu ya. Kenalin ke adek-adek juga jangan lupa.” Pesan Papa Roy kepada Cessa.

__ADS_1


“Siap Pah.” Jawab Cessa.


Papa Roy lalu meninggalkan keduanya bertepatan dengan Mama Ayu yang membawa minuman untuk Momo.


“Silahkan diminum ya sayang. Ini ada kue buatan Mama juga tadi pas denger kamu mau datang.” Ucap Mama Ayu pada Momo.


“Wah, makasih Mah.” Jawab Momo segera menyantap hidangan yang disiapkan.


“Oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh buat Mama dan adek-adek.” Kata Momo sambil memberikan dua tas berisi bingkisan kepada Mama Ayu.


Mama Ayu lalu menerimanya dengan sungkan dan merasa bahagia anaknya mendapatkan sahabat yang sangat perhatian tidak hanya kepadanya tetapi juga kepada keluarganya.


“Waduh, gak usah repot-repot sayang. Mama jadi ga enak. Tapi makasih banyak ya oleh-olehnhya.” Ucap Mama Ayu menerima bingkisan tersebut.


“Gak papa Mah.” Jawab Momo sambil tersenyum.


Mereka lalu lanjut mengobrol dengan santai. Cessa kemudian meminta izin menyimpan belanjaannya ke kamar. Setelah menyimpan belanjaannya, Cessa segera memanggil adik perempuannya untuk menyapa Momo.


“Dek, ayo turun, sapa Cici Momo di bawah. Katamu pengen ketemu kak Momo kan.” Ajak Cessa pada adiknya yang bernama Kia. Kia sekarang berumur 14 tahun dan kelas delapan. Kia berwajah cantik dan mirip dengan Cessa tetapi lebih kalem disbanding Cessa yang selalu heboh.


“Asik, ayo Ce. Kia udah gak sabar ketemu Ci Momo.” Jawab Cessa dengan antusias. Dia memanggil Momo dengan sebutan Cici karena Papi Momo merupakan orang Tiongkok, dan keluarga Papanya sendiri juga berdarah tiongkok. Mereka semua di rumah ini juga memanggil Cessa dengan sebutan Cece karena merupakan anak perempuan pertama (Kakak sulung).


“Koko mana?” Tanya Cessa.


“Latihan basket, bentar lagi juga pulang.” Jawab Kia.


Keduanya pun segera turun ke ruang tamu dan bergabung bersama Mama dan Momo.


“Hallo Cici Momo, aku Kia adek Cece Cessa.” Kata Kia menyapa Momo sambil memperkenalkan dirinya dan menyalami Momo.


“Oh, halo Kia. Cantik banget sih, Cece kamu kalah cantik dari kamu. Sekolah yang pinter ya.” Balas Momo sambil menepuk kepala Kia pelan.


“Hehehe, siap Cici.” Jawab Kia yang bahagia diperlakukan manis oleh Momo yang selalu dikaguminya. Awalnya dia terpesona setelah pertama kali melihat Momo karena kecantikan Momo, sekarang ditambah dengan perhatian Momo, dia semakin kagum kepada cici cantiknya itu.


Tiba-tiba suara anak laki-laki menghentikan suata tawa mereka. Lalu terlihatlah seorang anak laki-laki tampan berusia 17 tahun menggunakan kostum basket dan sepertinya baru pulang dari latihan.


Melihat orang-orang yang sedang duduk di ruang tamu, dia menjadi penasaran. Ketika matanya jatuh pada Momo, dia tercengang dan terpesona dengan kecantikan Momo. Dalam hatinya sudah menebak itu adalah Momo sahabat Cecenya karena sudah pernah melihat fotonya. Namun dia tidak menyangka aslinya akan secantik itu. Cessa yang melihat adiknya termangu sudah menebak akan seperti itu reaksi adiknya saat melihat Momo. Karena siapapun yang pertama kali melihat Momo pasti akan memberikan reaksi yang sama yaitu terpesona. Cessa hanya tersenyum melihat tingkah adik laki-lakinya. Nathan lalu tersadar kembali ketika dipanggil oleh Mamanya untuk menyapa Momo.


“Nah, anak laki-laki Mama akhirnya pulang. Sini, sapa Cici Momo.” Panggil Mama Ayu pada anak laki-lakinya itu.


Kemudian Nathan pun mendekat dan menyapa Momo setelah menyalami tangan Mamanya.


“Hai Cici, aku Nathan, adik Cece Cessa.” Sapa Nathan sekaligus memperkenalkan diri dan menyalami tangan Momo.


“Halo Nathan. Tinggi banget ya anak basket.” Puji Momo yang melihat tinggi Nathan.


Nathan menjadi salah tingkah mendengar pujian Momo.


“Hehe, Cici bisa aja. Udah lama?” Tanya Nathan pada Momo setelah duduk di samping Cessa.


“Lumayan.” Balas Momo singkat sambil tersenyum.


“Cici kok mau temenan sama Cece. Otaknya kan rada-rada.” Kata Nathan bercanda pada Momo dan sengaja memancing amarah Cecenya.


“Dih, sirik aja lu.” Balas Cessa menanggapi candaan adiknya.


Momo hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Dia cukup iri pada Cessa yang punya adik-adik yang bisa diajak main, karena dia adalah anak tunggal. Tapi dia bahagia karena sekarang dia punya kesempatan merasakan memiliki adik dan akan memanjakan mereka karena dia selama ini sudah merasa cukup dimanjakan. Keduanya secara alami menjadi akrab.


Di tengah obrolan, Nathan tiba-tiba mendapat ide untuk memanas-manasi teman-temannya yang selalu mengejeknya jomblo. Dia lalu memanggil Momo dan mengajaknya selfie berdua lalu menguploadnya di sosial media miliknya.


“Ci, foto yok berdua. Nath mau manas-manasin temen-temen karna pada ngejek Nath jomblo, pasti pada heboh. Boleh kan CI?” Tanya Nathan pada Momo dan berharap Cicinya menerima usulannya.


“Boleh. Dasar nakal.” Jawab Momo sambil mengacak-acak rambut Nathan gemas.

__ADS_1


“Pada heboh tuh pasti, apalagi si Jamal.” Kata Cessa menimpali. Cessa memang mengenal semua teman dekat Nathan karena sering ke rumah mereka dan mereka juga sudah bersahabat sejak sekolah dasar.


Nathan dan Momo lalu berfoto ria dengan mesra. Momo yang berwajah imut tidak akan menimbulkan kecurigaan kalau ternyata Momo seumuran Cecenya. Dia lalu mengupload foto tersebut di akun sosial media miliknya dengan caption emote hati putih. Dia tertawa jahat menanti reaksi para sahabatnya. Dia sengaja mematikan hpnya setelah mengupload foto tersebut, sengaja membiarkan para cecunguk (sahabatnya) penasaran. Mama Ayu, Momo, Cessa, dan Kia hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kekanak-kanakan Nathan. Pantas saja jomblo, pikir Cessa dalam hati melihat adiknya itu.


Setelah cukup lama mengobrol, Momo pun pamit karena sudah malam. Dia takut Maminya khawatir karena dirinya belum kembali dan belum memberi kabar apapun.


“Mah, Momo pamit pulang takut Mami khawatir, ini udah malem juga.” Pamit Momo pada Mama Ayu.


“Gak nginap aja sayang? Udah Mama siapin kamar juga di atas.” Tawar Mama Ayu.


“Gak dulu Mah, kapan-kapan aja. Kasian Mami di rumah udah nungguin soalnya.” Jawab Momo.


“Oalah, ya udah kamu hati-hati ya sayang. Kabari kalo udah nyampe rumah.” Kata Mama Ayu.


“Siap Mah.” Jawab Momo.


“Nath, Kia, Cici pamit ya. Nanti kapan-kapan main ke rumah Cici, oke.” Pamit Cici sambil memeluk Kia dan menepuk bahu Nathan.


“Siap Ci. Hati-hati ya, jangan ngebut.” Balas Nathan dan Kia.


“Siap. Titip salam buat Papa Roy.” Ucap Momo lalu segera ke parkiran mengambil mobilnya.


Setelah itu dia membunyikan klakson dan segera meninggalkan kediaman keluarga Cessa. Sepeninggalan Momo, Mama Ayu segera memberikan oleh-oleh yang diberikan Momo kepada Nathan dan Kia. Keduanya sangat senang menerima bingkisan tersebut. Setelah dibukan, Kia mendapat kalung yang sangat cantik dengan mainan berlian sebagai hiasannya, sedangkan Nathan mendapat jam tangan mewah edisi terbatas yang cocok untuk usianya. Keduanya bahagia dengan hadiah mereka membuat Cessa ikut bahagia melihatnya. Dia tidak menyangka sahabatnya akan seroyal ini pada keluarganya.


Kia memutuskan untuk memakan kalung tersebut di saat-saat atau acara penting saja karena menurutnya terlalu berharga. Nathan memutuskan untuk menggunakan jam tangan itu setiap hari karena itu merupakan oleh-oleh dari Cici cantiknya. Sedangkan untuk Mama Ayu, oleh-olehnya adalah sebuah tas mewah edisi terbatas juga yang tidak ada di Indonesia membuat Mama Ayu tidak berhenti tersenyum sambil memeluk tas tersebut. Teman-teman arisannya pasti sangat iri melihat tasnya tersebut. Mama Ayu sudah menantikan ekspresi mereka saat melihat tas ini nanti.


Kembali ke Momo, saat di tengah perjalanan, dia memutuskan menelpon Cleo untuk menemaninya karena dia merasa takut dan belum terbiasa dengan jalanan di sini.


Cleo yang melihat gadisnya menelponnya pun segera mengangkatnya dan meninggalkan pekerjaannya membuat Kevin heran melihatnya. Keduanya sedang lembur karena beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan malam ini. Melihat gelagatnya, Kevin langsung tahu pasti Momo yang menelpon, karena hanya gadis itu yang mampu membuat Cleo menjadi bersemangat setelah sebelumnya cukup suram karena banyak pekerjaan yang mengharuskannya lembur.


“Halo Ayy.” Sapa Cleo lembut pada gadis di seberang telpon.


“Koko temenin Momo ya. Momo takut sendirian nyetir mobil pulang ke rumah.” Kata Momo setelah mendengar suara Cleo.


“Ayy abis darimana emang? Kok baru pulang?” Tanya Cleo penasaran. Jarang sekali Momo setelat ini pulang ke rumah. Dia segera mengaktifkan sistem pelacak untuk mengawasi perjalanan Momo. Dia sudah meminta izin menyelipkan cip pelacak di hp momo karena khawatir pada gadis itu, dan Momo juga menyetujuinya.


“Tadi abis dari restoran, Momo nemenin Cessa belanja lama banget jampir lima jaman, abis itu anterin Cessa pulang, pas di rumah Cessa ngobrol bentar ama keluarganya, baru deh sekarang pulang ke rumah.” Jelas Momo panjang lebar.


“Kenapa gak minta jemput Koko aja atau Mang Ujang kalau emang takut?” Tanya Cleo setelah mendengar jawaban Momo. Dia yakin gadis itu pasti sangat kelelahan sekarang.


“Gak papa, Momo masih bisa sendiri kok, kan emang harus terbiasa.” Jawab Momo.


Keduanya lanjut mengobrol sampai Momo tiba di rumahnya.


“Koko, udah dulu ya, Momo udah sampe rumah, mau makan malam abis itu langsung istirahat, capek banget hari ini. Thank you Koko udah nemenin Momo pulang.” Pamit Momo pada Cleo.


“Sama-sama Ayy. Ya udah, abis makan langsung istirahat ya. Malam Ayy.” Jawab Cleo.


Momo pun mengakhiri telpon mereka dan segera masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya. Di dalam ternyata dia sudah ditunggu oleh Papa dan Maminya untuk malam. Tadi saat keluar dari kediaman Cessa, dia sudah mengirimi Maminya pesan bahwa dia dalam perjalanan pulang.


Setelah mereka makan malam dengan damai, Momo pamit untuk segera beristirahat karena kelelahan. Dia langsung menuju kamarnya, lalu mandi terlebih dahulu kemudian beristirahat.


Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.


Para readers sekalian… Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author, agar agar menjadi makin semangat nulisnya.


.


Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..


Salam hangat Author receh.. hehe


.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2