
Setelah membersihkan diri masing-masing, keduanya sama-sama
kembali berkumpul di ruang tengah dengan membawa laptop masing-masing, yang
mana laptop yang dipakai oleh Momo adalah milik Cleo yang dipinjam kepadanya
karena dia tidak membawa laptopnya.
Dan disinilah keduanya berada saat ini, Momo yang duduk di
lantai beralaskan karpet bulu dan menatap layar laptop untuk membaca laporan
mengenai restorannya sambil nyemil cemilan yang baru dia pesan. Sedangkan Cleo
duduk di sofa yang berada tepat di belakang Momo sambil memangku laptopnya dan juga
sedang mengerjakan pekerjaannya. Keduanya bekerja dengan serius namun tetap saling
membantu dan mengobrol satu sama lain.
“Koko help me, please.” Kata Momo dan mengalihkan perhatian
Cleo dari laptop padanya. Dia menunjukkan layar laptop berisi laporan keuangan
restoran yang membuatnya sedikit bingung.
Setelah memperhatikan sebentar, Cleo langsung menemukan
letak kesalahan pada laporan tersebut. Dia mengernyitkan dahinya karena pembuat
laporan cukup cerdik untuk menutupi kesalahan tersebut, dan jika tidak teliti
saat memeriksa mungkin akan kesulitan menemukan celahnya. Dan sayangnya, dia
adalah Cleo, CEO jenius yang bersinar di usia mudanya, sehingga dengan
ketelitian dan kemampuan analisisnya dia mampu menemukan kesalahan dan celah kecurangan
sekecil apapun.
“Siapa yang membuat laporan ini?” Tanya Cleo sebelum
memberikan pendapatnya karena dia cukup penasaran dengan orang itu yang
sebenarnya cukup cerdas namun salah menggunakan kemampuannya, dan itu membuat
Cleo kesal karena itu berhubungan dengan gadis kesayangannya.
“Oh, ini dari sekertaris manager restoran cabang kota B.”
Jawab Momo.
“Coba Ayy analisis bagian ini, pasti akan menemukan
celahnya.” Kata Cleo sambil menunjukkan bagian yang terdapat kesalahan yang
sepertinya disengaja tersebut.
“Oke deh.” Jawab Cleo sambil memperhatikan dan menganalisis
bagian yang ditunjukkan oleh Cleo dengan teliti.
Setelah beberapa saat, akhirnya Momo menemukan masalahnya.
Ternyata laporan itu sudah dimanipulasi oleh sekertaris itu. Ekspresi Momo
berubah menjadi heran dan sedikit marah.
“Pecat aja Ayy. Orang itu berniat menghancurkan restoranmu.”
Kata Cleo jelas.
“Huh sayang sekali. Dia padahal cukup cerdas, apa alasannya sampai
berani memanipulasi data. Apa karena aku yang jarang memeriksa langsung.
Bener-bener ngeselin.” Balas Momo yang marah namun sebenarnya cukup bingung
dengan situasi ini karena menurutnya sekertaris yang cerdas itu terlalu berani dalam
mengambil kuburnya sendiri.
“Tapi menurutku ada yang janggal disini. Dia udah lama kerja
di restoranku dan selama ini cukup jujur dan loyal. Menurut Koko, dengan sikap
disiplinnya, apa dia bisa aja ngelakuin itu?” Tanya Momo meminta pendapat Cleo.
“Mungkin aja Ayy, siapa yang tahu apa yang dipikirkan orang
lain kan. Mungkin karena kamu udah ngasih kepercayaan dia jadi lebih berani
ngambil langkah gitu.” Jawab Cleo memberikan pendapatnya.
“Tapi ini terlalu beresiko kalau memang dia sengaja manipulasi
laporan.” Kata Momo yang masih belum percaya.
Cleo tertawa ringan karena merasa lucu dengan ekspresi Momo
saat ini lalu berkata lagi.
“Selidiki lagi diam-diam masalah ini. Sekarang Ayy cukup
pura-pura gak tahu aja. Coba kasih project kecil ke dia, lihat gimana sikapnya
dalam menyelesaikan pekerjaan dari kamu, setelah itu Ayy bisa langsung
memutuskan langkah selanjutnya.” Saran Cleo.
“Hm, itu satu-satunya cara yang bisa kupakai sekarang.
Thanks Koko udah bantu ngasih saran dan solusi buat masalah ini.” Kata Momo
yang merasa sangat bersyukur atas bantuan Cleo.
“Bukan masalah besar.” Balas Cleo dengan senyum tulus.
Momo menganggukan kepala dan membalas senyum Cleo. Kedunya
lalu kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
“Ngomong-ngomong, proyek Papa bareng Koko udah sampai tahap
apa?” Tanya Momo karena penasaran.
“Masih pembangunan, ya kira-kira 30 persen lagi sebelum
finishing. Ini big project dan Koko bener-bener pengen semuanya perfect, jadi
akan makan waktu sedikit lebih lama dibanding proyek biasa lainnya.” Jawab
Cleo.
__ADS_1
“Tapi Koko gak boleh terlalu memaksakan diri sampai sakit gini.
Papa juga gak akan seneng liat Koko sampai sakit gini karena terlalu fokus sama
proyek itu.” Kata Momo memberi saran sekaligus mengomeli Cleo.
“It’s ok Ayy. Kemarin kecelakaan aja, kan kita gak bisa
prediksi cuaca yang bisa tiba-tiba berubah. Koko juga bukannya terlalu fokus
atau gimana, Koko cumin gak mau ngecewain Papa dan para investor tentunya.”
Balas Cleo.
“Iya Momo ngerti, tapi kesehatan Koko yang lebih penting.
Kalau Koko sakit kan juga akan menghambat pekerjaan.” Kata Momo lagi.
“Iya deh cantik, Koko akan lebih hati-hati kedepannya.”
Balas Cleo untuk menenangkan Momo.
“Awas aja kalo kejadian semacam ini terjadi lagi.” Ancam
Momo serius karena tidak ingin melihat Cleo sakit lagi.
“Koko seneng kamu selalu perhatian sama Koko. Jangan kasih
perhatianmu buat orang lain ya.” Kata Cleo sambil menatap dalam pada Momo yang
juga sedang menatapnya.
Karena kata-kata Cleo itu membuat Momo terdiam. Dia tidak
tahu harus menjawab apa dengan ucapan tiba-tiba Cleo itu yang secara tidak
langsung memintanya untuk tidak menaruh perhatian pada pria lain selain
dirinya.
Karena merasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa,
Momo akhirnya hanya terbatuk dengan canggung dan memutuskan pandangan keduanya
terlebih dahulu dan berbalik menatap laptop dengan gugup dan salah tingkah,
lalu berpura-pura membaca laporan lagi padahal sebenarnya pikirannya sedang
kacau balau (wkwk, si eneng salting).
Sedangkan Cleo masih menatap lembut pada Momo dan setiap
gerak-gerik tubuhnya dan tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Apalagi melihat Momo yang tampaknya menghindari ucapannya tadi, membuatnya
sadar bahwa semuanya tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru, harus perlahan.
Terkadang Cleo kesal sendiri karena keduanya terpisah terlalu lama tanpa adanya
komunikasi sehingga momen canggung seperti ini akan terjadi saat dirinya mulai
bersikap serius.
Cleo akhirnya hanya bisa menghela napas dan melanjutkan
pekerjaannya. Dan keduanya kembali terdiam dalam lamunan dan pikiran masing-masing.
Berbeda dengan Cleo yang tidak fokus lagi bekerja dan hanya
keduanya cepat diresmikan, Momo malah merasa bersalah karena menghindari ucapan
Cleo tadi. Dia sebenarnya tidak berniat menghindar, itu hanya tindakan refleksnya
yang merasa kaget dan tidak tahu harus memberi respon seperti apa untuk Cleo.
Dia takut salah bicara dan malah membuat keduanya semakin akward makanya akhirnya
malah terlihat seperti menghindar. Di saat seperti ini, Momo merasa menjadi
sangat bodoh dan harus banyak belajar dari Cessa sahabatnya. Jangan salahkan
dirinya yang seperti itu karena memang dia tidak pernah berpengalaman dalam hal
percintaan, bahkan pria yang dekat dengannya secara personal hanya Cleo. Dia
jadi merindukan Cessa tanpa alasan.
Keheningan di antara keduanya ternyata berlangsung lama
sampai bunyi bel apartemen terdengar. Cleo sudah bisa menebak siapa yang datang,
sedangkan Momo dengan cepat menuju pintu untuk melihat siapa yang datang,
padahal alasan sebenarnya adalah ingin terbebas dari suasana akward keduanya.
Melihat di tampilan layar samping pintu, Momo melihat ternyata yang datang
adalah Kevin sehingga dia langsung membuka pintu.
Alangkah kagetnya Momo ketika dia membuka pintu, yang
terlihat malah wajah Cessa yang sengaja mengagetkannya.
“Hai Momoy sayang.” Teriak Cessa di depan wajah Momo dan berhasil
mengagetkan Momo tentu saja, padahal tadi dirinya tidak terlihat di layar.
“Astaga, Cessa!” Geram Momo setelah menenangkan diri dari
keterkejutannya.
“He he, sorry beb. GImana, kaget ya? Pastilah. Hahaha,
seneng banget bisa buat si ice queen terkejut. By the way, kita ganggu gak?
Gaklah ya. Jadi boleh masuk gak nih?” Tanya Cessa dengan segala kalimat
bualannya yang tidak jelas.
“Elah, cerewet amat ini manusia. Sedetik aja ga diam keknya
bisulan.” Kata Kevin yang kesal dengan keabsurdan Cessa.
“Halo Momo. Cleonya ada?” Tanya Kevin yang mengalihkan
perhatiannya pada Momo yang memperhatikan keduanya dengan tatapan curiga.
Momo tidak menjawab tetapi melebarkan pintu untuk mempersilahkan
keduanya masuk. Kevin masuk terlebih dahulu, sedangkan Cessa masih ditahan oleh
Momo untuk diinterogasi.
__ADS_1
Kevin pun masuk dan menyapa Cleo yang sedang menatap laya laptopnya.
“Yo, gimana keadaanmu, udah mendingan?” Tanya Kevin.
“Hm, lumayan.” Jawab Cleo, padahal dirinya sudah sembuh.
“Syukurlah. Ohiya, ini aku sekalian beli makan siang tadi
sebelum kesini, aku ke dapur dulu siapin makanannya.” Kata Kevin menunjukkan bos
berisi makanan yang dibawanya.
Cleo pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban lalu kembali
fokus pada layar laptonya.
Sedangkan di sisi Momo dan Cessa saat ini, dimana melihat
tatapan curiga yang ditunjukkan Momo, Cessa menjadi gugup dan hanya tertawa
canggung sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal sambil terus
menghindari tatapan Momo.
“Kok bisa?” Tanya Momo singkat namun langsung dipahami
maksudnya oleh Cessa.
“Tadi pagi diajak sama Kak Kevin buat nemenin dia kesini,
katanya gak enak dating sendiri karena ada kamu, jadi sekalian ngajak aku gitu.
Gak papa kan Moy?” Jelas Cessa dengan suara pelan karena gugup dengan tekanan
dari Momo.
“Kirain udah jadian.” Kata Momo setelah menghela napas begitu
mendengar penjelasan Cessa.
Keduanya lalu menyusul Kevin menuju ruang tengah.
“Loh, Kak Kevin mana?” Tanya Momo pada Cleo yang berhasil
memecah kecanggunggan keduanya sejak tadi dan membuat Cleo akhirnya tersenyum.
“Ke dapur nyiapin makanan yang mereka beli tadi buat makan
siang.” Jawab Cleo.
Momo menganggukan kepalanya paham, sedangkan Cessa langsung
pamit menuju dapur dengan alasan membantu Kevin.
“Moy, aku ke dapur ya bantuin Kak Kevin, kan gak enak dia
sendirian yang nyiapin makan siang, hehe.” Bisik Cessa pada Momo.
Momo mengganggukan kepala tanda setuju, dan Cessa pun
menyusul Kevin ke dapur yang ditunjuk Momo.
Sedangkan Momo memilih duduk di samping Cleo sambil menunggu
kedua orang yang baru datang itu menyiapkan makan siang untuk mereka karena
memang sudah waktunya makan siang sekarang.
“Koko udah tahu mereka datang?” Tanya Momo sambil
menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Hm, tadi si Kevin yang maksa datang. Dan karena dia tahu Ayy
ada disini, udah pasti bakal ngajak temenmu.” Jawab Kevin yang sudah menebak
semuanya.
“Aku kira mereka udah jadian karena datang berdua.” Kata
Momo sambil menertawakan dirinya karena tidak bisa menebak.
“Ayy mau pesen makanan tambahan lagi?” Tanya Kevin
mengalihkan pembicaraan karena dia tidak pernah tertarik dengan kehidupan orang
lain selain Momo.
“Gak usah Ko. Ayo susul mereka ke dapur, Momo udah laper.”
Ajak Momo.
Keduanya lalu menyusul Kevin dan Cessa yang kebetulan juda
sudah selesai menyiapkan makanan.
“Silahkan duduk Tuan Muda dan Nona Muda, lalu ayo kita makan.
Selamat menikmati hidangan yang telah kami siapkan dengan sepenuh hati” Kata
Cessa dengan semangat.
Keempatnya kemudian memulai acara makan siang bersama itu.
Di sela-sela makan, Cessa mulai membuka pembicaraan.
“Moy, mau tau gak ada cerita lucu sampai akhirnya aku ikut
Kak Kevin kesini?” Tanya Cessa antusias.
“Apa?” Tanya Momo karena melihat antusias Cessa yang sangat
ingin menceritakan kejadian sebelum keduanya kesini.
Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan
update terbaru dari author.
Para readers sekalian…
Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting
jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk
author, agar Author menjadi makin semangat nulisnya.
Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..
.
Salam hangat Author receh.. hehe
.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya.