Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Katakan, kau sayang padaku.


__ADS_3

"Diem Loe!" Zia kabur dengan meloncati gedung yang tak terlalu tinggi itu. Tinggal Alfin dan antek-anteknya yang nekat melawan Lim dan Dimas.


"Mau mundur gengsi, hajar aja. Kota rame, mereka berdua." ucap Alfin.


Lim dan Dimas beradu punggung, mereka dikepung para preman kampung yang sok kuat itu. Mereka mulai bersiap menyerang, sedangkan kedua pria itu masih santai mengeretukkan otot masing-masing.


" Seraaaang!"


Mereka kembali menyerang Satu persatu dengan segala kekuatan yang tersisa. Sedangkan Lim tampak membalas dengan santai. Bahkan, tampak tak beranjak dari tempat mereka berdiri.


"Woow..." kagum Ais pada Kakak suami.


Merasa kalah, mereka pun kabur dan lari terbirit-birit.


"Akhirnya, dapet bahan melemaskan otot." ucap Lim.


Dimas merapikan dirinya, setelah itu merapikan rambut dan jas Lim yang tampak berantakan dan kotor. Sedangkan Ais dan Nisa, duduk berdua di pojokan dengan wajah begitu berantakan.


"Kakak! Tolongin." pekik Ais, dengan Nisa bersandar di bahunya.


Dimas segera berlari menghampiri Ais dan Nisa. Sedangkan Lim berjalan dengan santai dibelakangnya.


"Ais ngga papa?" tanya Dimas, memeriksa semua luka Ais.


"Ais ngga papa. Nisa, tolongin. Bawa ke Rumah sakit." pinta Ais.


Dimas pun mengangguk, dan segera menggendongnya.


"Kakak..." rengek Ais, dengan merentangkan tangannya.


Tuing! Sebuah tonyoran mendarat di dahi Ais.


"Puas?"

__ADS_1


"Sakit!" pekik Ais, menepis tangan suaminya.


"Kenapa pergi tanpa memberitahu?"


"Jangan ngomel dulu, ini sakit loh ya. Gendoong." pintanya manja.


Lim membelakanginya, lalu Ais naik meloncat ke punggungnya. Lim menyangga Ais hanya dengan satu tangan, Ia membawa Ais menuju mobil, dan Dimas sudah menunggu disana.


"Kak Dim, makasih." ucap Nisa.


"Ya, sama-sama. Untung saja, Ibumu menelpon tadi."


"Ibu? Darimana Ibu tahu nomor Kakak?" tanya Nisa.


"Kamu beri nama apa, kontakku di Hpmu?" tanya Dimas, bernada sedikit aneh.


"Kak Dimas pujaan hati." tunduk Nisa.


"Pantas saja, difikirnya aku pacarmu. Lain kali jangan, ya? Takut terjadi salah faham."


"Dimas, ayo pulang." ajak Lim, menurunkan Ais di dalam mobilnya.


"Motor Ais?"


"Motorku... Kamu hampir membuatnya lecet. Tunggu hukumannya nanti." ancam Lim, dengan tatapan tajam, setajam pisau yang baru di asah.


Lim pun masuk ke dalam mobilnya, dan Dimas bergegas menyetir.


"Nisa antar ke Rumah sakit dulu ya, Kak Dim." pinta Ais pada Lim.


"Baik..." angguk Dimas. Sedangkan Lim sibuk menghubungi orang untuk mengurus motornya.


Tiba di Rumah sakit, Ais menggandeng Nisa masuk untuk mendapat pengobatan. Membantunya duduk di brankar ketika Nisa diberikan tindakan.

__ADS_1


"Sini...." tarik Lim padanya.


"Aaakh, sakit! Kasar banget."


Lim hanya diam. Ia pun membaringkan Ais di sebuah brankar dan mulai mencari bagian yang terluka.


"Ini... Ini.... Dan ini... Sebanyak ini lukamu, tapi kenapa kamu terus memikirkan Nisa? Kamu ngga sakit?"


"Nisa... Ngga sekuat Ais."


"Tapi kamu juga belum tentu terlalu kuat. Dia lemah, tapi kamu juga bisa hancur karena mereka. Harusnya lapor, dan meminta bantuan. Jangan datang sendirian."


"Maaf... Kakak tahu darimana Ais disana?"


"Di motor, ada GPSnya."


"Maaf..." ucap Ais lagi.


"Tahu kah kamu, betapa sakit nya jantung ini ketika tahu kamu ada dalam bahaya?"


"Aaaauuuwh, Kakak cemas sama Ais?" senyumnya mengembang..


"Jangan bercanda, aku serius."


"Iya serius? Kakak cemas sama Ais? Kakak sayang dong?"


"Ais...!"


"Iya, bilang aja kalau sayang. Ayolah, Ais pengen denger."


"Iya...." jawab Lim, dengan wajar datarnya..


"Iya? Ah, bahagianya. Kalau dengan membuat cemas, bisa menumbuhkan rasa itu, Ais akan...."

__ADS_1


"Jangan macam-macam..." ancam Lim, dengan tatapan tajamnya yang menakutkan.


__ADS_2