
“Moy, anak-anak punya urusan apa emang di sini?” Tanya Cessa penasaran. Jarang sekali orang-orang itu meninggalkan negara atau kota mereka selain untuk menyelesaikan misi, dan alasan mereka datang kali ini cukup membuat Cessa penasaran. Mereka pasti memiliki tujuan sendiri jika sudah datang kesini.
“Kerjaan paling. Mereka gak ngasitau.” Jawab Momo.
Momo sendiri penasaran dengan kedatangan mereka di negaranya kali ini, apakah benar hanya urusan pekerjaan, atau ada misi khusus lain yang harus mereka kerjakan disini, dia harus memastikan sendiri pada mereka nanti.
“Kalau missal mereka lagi ngerjain misi, kamu bakal ikutan gak Moy? Aku rasa Ko Cleo gak bakal ngizinin kamu.” Tanya Cessa. Jika Momo ikut dalam misi itu, sudah pasti dirinya akan ikut bergabung, kecuali jika tidak mendapat persetujuan dari Momo maka dia hanya bisa berdiam diri dan membantu sebisanya. Orang-orang itu berbahaya, dan misi yang mereka jalani juga sama berbahayanya, dia hanya akan menjadi beban nantinya jika memaksa ikut bergabung, beda dengan Momo yang memiliki kemampuan.
“Koko gak pernah ngebatesin aku.” Jelas Momo. Itu benar bahwa Cleo tidak pernah melarang atau membatasi gerak-geriknya sejak dulu sampai sekarang, karena Cleo tahu dengan baik kemampuannya. Cleo juga mengenal baik wataknya, sehingga Kokonya itu hanya akan selalu mendukung dan membantunya.
“Syukurlah kalau gitu. Kamu kan paling gak suka dibatasi.” Kata Cessa yang sangat mengenal kepribadian sahabatnya.
Momo tersenyum tanpa menjawab lagi. Di saat keduanya sedang mengobrol santai, Cleo dan Kevin mulai membicarakan masalah serius yang tengah mereka hadapi.
“Yo, sepertinya orang itu belum bergerak. Apa kamu bisa menebak rencananya?” Tanya Kevin.
“Dia masih mencari tahu.” Jawab Cleo.
“Apa dia udah tahu tentang Momo?” Tanya Kevin.
“Belum.” Jawab Cleo.
“Bagus, kita bisa membuat persiapan lebih kalau begitu. Tapi apa kamu gak terlalu santai menanggapi masalah ini?” Tanya Kevin serius. Disa sangat bingung dengan tindakan Cleo kali ini yang menurutnya terlalu santai, padahal orang itu adalah masalah yang sangat serius. Apa otak sahabatnya itu sedang bermasalah pikirnya.
“Dia gak bisa ngapa-ngapain.” Jelas Cleo singkat.
“Oh, aku paham.” Kata Kevin.
Dia akhirnya paham dengan kata-kata Cleo. Keluarga Cleo maupun keluarga Alexandra bukanlah orang-orang yang mudah disinggung atau disentuh hanya karena ingin, kedua keluarga itu adalah keluarga terkuat dan orang-orangnya pun sangat misterius dan tidak bisa ditebak, itulah alasan mereka menjadi keluarga teratas. Kevin akhirnya bisa sedikit tenang.
Karena Kevin dan Cleo sudah selesai membahas urusan mereka, mereka akhirnya bergabung kembali dengan para gadis. Mereka berempat saling bercanda dan mengobrol ringan, sampai datang seorang tamu tak diundang.
“Halo Momo kita ketemu lagi.” Sapa orang itu pada Momo.
Momo berbalik dan melihat seorang pria tampan yang tersenyum lebar padanya.
“OMG, Gerald ya, wah kebetulan banget ketemu di sini, lagi makan malem ya?” Tanya Cessa heboh.
“Oh, halo Cessa, iya nih lagi makan bareng anak-anak kantor.” Jawab Gerald.
__ADS_1
Setelah tahu identitas orang itu, Momo akhirnya balas menyapa. Tadinya dia tidak mengenali pria itu, karena memang dia tidak memiliki kesan khusus untuknya, apalagi dia hanya seorang mitra kerja, belum bisa masuk kualifikasi untuk diingat oleh Momo.
“Oh, halo.” Balas Momo dengan senyum kecil yang bahkan tidak mencapai mata.
“Udah mau balik nih?” Tanya Cessa lagi.
“Iya, acaranya udah selesai soalnya.” Jawab Gerald.
“Gabung sama kita aja, sekalian obrolin masalah restoran.” Tawar Cessa.
“Boleh nih?” Tanya Gerald yang merasa tidak enak pada dua orang pria yang juga sedang melihatnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun dia merasa senang, karena bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Momo.
“Boleh dong, udah duduk sini.” Kata Cessa lalu menariknya untuk duduk di sampingnya. Kebetulan kursi yang ada di meja mereka berjumlah lima buah, jadi bisa diberikan pada Gerald.
“Btw, kenalin ini Ko Cleo, yang disampingku ini Kak Kevin, mereka orang terdekat Momo dan aku juga tentunya.” Kata Cessa mengenalkan dua pria yang bersama-sama sejak awal pada Gerald.
“Dan ini Gerald, salah satu klien restoran Momo.” Lanjut Cessa lagi mengenalkan Gerald pada Cleo dan Kevin.
“Oh, salam kenal.” Kata Kevin yang sepertinya mulai welcome dengan kehadiran Gerald setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan rekan bisnis Momo.
“Salam kenal.” Balas Gerald.
Gerald menangkap tatapan penuh cinta dari Cleo untuk Momo dan hatinya merasa sakit dan cemburu, dia bisa mengetahui perasaan Cleo pada Momo hanya dari tatapan itu, dan dia merasa cemburu. Dia sudah jatuh cinta pada Momo sejak pertama kali melihat gadis itu di panti asuhan. Karena ini adalah pertemuan ketiga mereka, dia harus mulai mendekati Momo secara terang-terangan, apalagi Momo yang tidak terlihat terganggu dengannya.
“Momo, aku boleh minta nomor teleponmu? Ah, jangan salah paham, ini supaya lebih enak konsultasi masalah restoran.” Kata Gerald hati-hati.
Karena ucapannya, perhatian Cleo jadi teralihkan. Cleo mengernyitkan dahinya lalu menatap penuh tanya pada Gerald. Cleo merasa Gerald sepertinya punya maksud tertentu pada Momo, dan itu membuatnya tidak senang dan sedikit merasa terancam. Bagaimana tidak, Momo tidak menunjukkan reaksi terganggu pada pria ini dan terlihat santai, itu membuktikan bahwa pria ini cukup baik di mata Momo, dan jika dilihat dari penampilannya, orang ini juga tidak memiliki niat buruk pikir Cleo.
“Anda bisa menghubungi managernya.” Kata Cleo dengan Bahasa formal dan nada yang tidak bersahabat.
Momo tidak mengatakan apapun karena sudah diwakili oleh Kokonya. Dia akan membiarkan Kokonya yang menghadapi Gerald untuknya, sehingga dia bisa bersantai.
“Sebenarnya juga untuk urusan pribadi.” Jelas Gerald.
Momo terheran mendengar ucapan Gerald, urusan pribadi apa pikirnya. Beda dengan Cleo yang makin tidak senang dengan ucapan tersebut, rasanya dia ingin memukul pria tidak tahu malu ini.
“Maksud anda?” Tanya Cleo dengan nada dingin. Hawa di sekitar menjadi lebih dingin akibat aura tidak menyenangkan yang keluar dari tubuh Cleo.
Semua orang merasakan hawa dingin itu namun tidak tahu dari mana asalnya, kecuali Momo dan Kevin yang malah menggelengkan kepala karena menyayangkan keberanian Gerald.
__ADS_1
“Sepertinya bukan urusan anda, tuan.” Jawab Gerald sedikit gugup. Dia bisa merasakan nada tidak bersahabat dari Cleo, dan itu cukup membuatnya takut. Ini pertama kalinya dia merasakan ketakutan seperti ini, namun demi kehidupan asmaranya dia akan mengabaikan itu untuk sementara.
“Bukan urusanku? Heh.” Tanya Cleo sinis.
“Jelas ini adalah urusanku, Momo adalah pacarku, apa aku akan membiarkanmu mendekatinya.!” Jelas Cleo dengan tatapan tajam dan nada tegas.
Bukan hanya Momo yang terkejut dengan pengakuan tiba-tiba itu, tetapi semua orang yang ada di meja itu pun ikut terkejut. Kevin yang sedang minum wine bahkan tersedak karena mendengar ucapan sahabat sekaligus bosnya, beda lagi dengan Cessa yang hampir terjatuh karena syok mendengar ucapan Cleo. Sedangkan Gerald, pria itu
sudah terpaku mendengar kalimat yang keluar dari mulut Cleo dengan tegasnya. Dia tidak ingin mempercayai pendengarannya, namun melihat reaksi semua orang, sepertinya dia tidak salah mendengar. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, namun rasanya sakit di saat yang bersamaan. Gerald sudah tidak bisa berkata-kata lagi sekarang, semua kalimat yang ingin diucapkan hanya tertelan di tenggorokannya dan sepertinya tidak ingin dikeluarkan oleh mulutnya.
“What? Are you serious?” Tanya Cessa heboh setelah membenarkan duduknya. Dia bertanya pada Cleo tetapi menatap pada Momo karena tidak berani menatap pria itu.
“Hm.” Jawab Momo sambil menganggukan kepalanya santai. Dia hanya terkejut karena Cleo yang sangat berterus terang, namun tidak mempermasalahkan itu.
“Oh my God. Jadi ini makan malam perayaan jadiannya kalian?” Tanya Cessa lagi yang diikuti dengan anggukan Kevin yang juga penasaran.
“Gak, ini emang makan malam biasa.” Jawab Momo santai.
Perasaan Cessa benar-benar campur aduk sekarang. Dia senang karena Momo akhirnya berdamai dengan rasa gengsinya dan akan bahagia mulai sekarang, namun dia juga sedih dan kesal karena fakta itu. Cessa sedih karena waktunya bersama Momo akan mulai terbatas karena Momo pasti lebih banyak bersama kekasihnya, apalagi
menilai dari sikap bucin dan posesif Cleo, kesempatan keduanya untuk berduaan pasti akan sedikit sekarang. Juga, dia kesal karena Momo bahkan tidak memberitahunya berita baik ini, bagaimana bisa Momo menyembunyikan gakta penting ini darinya, apakah Momo tidak menganggapnya sebagai sahabat lagi, atau dia tidak pantas dipercayai lagi, pikirnya. Namun dia segera membuang semua pikiran konyolnya itu, karena Momo bukan orang yang seperti itu.
“Sejak kapan? Tega banget Moy, gak ngasitau aku.” Tanya Cessa dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.
Para readers sekalian…
Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author, agar Author menjadi makin semangat nulisnya.
Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..
.
Salam hangat Author receh.. hehe
.
Sampai jumpa di episode berikutnya.
__ADS_1