Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Asal usul Nisa


__ADS_3

"Ratna, apakah, Nisa anakmu?" tanya Pak Wil, dengan sungkan.


"Ya, itu anak Wili dan aku. Katakan, dimana dia sekarang? Kenapa, samaa sekali tak pernah mengunjungi? Atau, hanya sekedar menghubungiku, atau menanyakan kabar anaknya?" sergah Bu Ratna, yang tengah mengalami Dua kali lipat rasa depresi dalam dirinya.


"Aku, sudah berusaha mencarimu selama ini. Tapi, kau bagai hilang ditelan bumi."


"Kenapa kau? Kenapa bukan dia?" Bu Ratna semakin tampak emosi.


Pak Wil mengusap wajahnya dengan kasar, begitu juga dengan hembusan nafasnya yang begitu berat. Ia bingung, harus memulai ceritanya darimana.


"Kau ingat, kebakaran beberapa puluh tahun lalu, di kampung kami?"


"Ya, aku dengar. Lantas?"


"Wili, ikut berusaha menyelamatkan penduduk disana. Tapi sayang, nyawanya tak tertolong. Kau tahu, dia punya sesak nafas, dan terjebak dalam kobaran api inti yang begitu besar."


Bu Ratna menutup mulutnya. Air matanya seketika mengalir denhan deras membasahi pipinya. Biasanya Ia menangis karena rasa benci akan pembuangan yang Ia rasakan. Tapi, kali ini Ia menangisi sebuah kehilangan yang Ia anggap sebuah penolakan terhadap dirinya dan Nisa.


"Saat itu, Aku dan Tama ingin menemaninya. Menemani, untuk melamarmu secara resmi pada keluarga besar. Tapi...."

__ADS_1


"Tapi semua telat. Kami pada saat itu tengah ada di luar kota, bersama Udin dan yang lain. Dan dia, sendirian disana membantu warga. Kami, dapat kabar ketika Wili telah meninggal." sambung Papi Tama.


Papi pun mengeluarkan sebuah kotak, berupa cincin emas yang tela lama Pak Wili siapkan. Meski telah melahirkan Nisa kala itu, tapi mereka hanya sebatas menikah siri, tanpa restu orang tua Pak Wili dan Pak Wildan, yang kenyataannya adalah saudara kandung.


Tak mampu menangis lagi. Dengan wajah setengah tersenyum, Ia Bu Ratna mengambil cincin itu dari Papi Tama.


"Sangat cantik...." pujinya. Meski cincin itu adalah barang yang sudah begitu lama, tapi masih begitu indah dan tampak selalu baru.


Ais hanya bisa menatapnya haru, dan menangis menatap kenyataan yang ada.


"Rupanya, memang sedekat itu. Tapi, kita sendiri yang ngga sadar. Sama seperti, dekatnya Ais dengan Papa. Yang selalu ada di dalam tubuh Papi." batinnya.


**


"Hey, Kakak, pssssst...." panggil Nisa, pada Almira.


"Kakak? Kau panggil aku Kaka?"


"Ya, daripada ku panggil Tante? Soalnya, wajahmu begitu menor, bahkan Ibuku jauh lebih muda daripada kau."

__ADS_1


Almira palsu geram, ingin menyerang Nisa. Tapi, Nisa justru mengajaknya tertawa.


"Kau meledekku?"


"Ah, tidak. Aku hanya mengajakmu membuat permainan, bagaimana?"


"Apa?" Almira menyipitkan matanya.


Nisa pun berbisik, Ia mengajak Almira untuk mengundang Ais datang bertemu dengannya. Setelah itu, Ia dapat menukar tempatnya dengan Ais. Dan Al, dapat menghabisi Ais saat itu juga.


"Kau sahabatnya, kenapa kau melakukan itu?" tanya Almira, terheran.


"Cckkk, aku membencinya. Dia selalu pamer suami, dan tak mau membantuku dekat dengan Kak Dim."


"Kau, suka Dimas?"


"Aku bahkan mencintainya. Tak hanya suka seperti anak kecil."


"Apa mau mu dariku? Tapi, jangan coba-coba membohongiku." tukas Al.

__ADS_1


"Kau tahu? Aku sudah mengorbankan semua milikku, hanya demi wajah ini. Aku memotong rahangku, memotong sedikit ususku agar dapat ramping seperti Al. Bahkan, membuang beberapa tulang rusukku, agar aku semakin sempurna untuknya. Dan kini, aku akan menikmati hidupku yang indah dengannya."


Al tampak begitu bahagia, dengan segala khayalan yang Ia buat sendiri..


__ADS_2