
"Kakaaak, kapan kita bulan madu?"
"Kau tahu apa tentang bulan madu?"
"Bulan madu itu, jalan-jalan 'kan? Ais ngga pernah Kakak ajak jalan-jalan. Padahal, udah setahun lebih menikahnya." Ais merengek, dengan tetap duduk di samping Lim yang fokus dengan laptopnya.
Sejak kasus Ayu yang menjadi Al, semuanya menjadi berantakan. Nama Al nyaris tercoreng, karena Ayu memakainya untuk segala hal aneh demi obsesinya. Lim dan Dimas serta Aura, berusaha membersihkan hal itu kembali. Bahkan cangkok jantung pun kembali diusut dengan segala bukti yang ada.
"Bulan madu itu, tak hanya sekedar jalan-jalan, sayang. Tak semudah yang kau fikirkan." Iam menggenggam tangan Ais, dan menatapnya tajam. Begitu tajam, bagai pisau belati yang menusuk jantung.
Gleeek! Ais menelan salivanya ketika membalas tatapan Lim padanya.
" Ma-maksudnya?"
" Bisa jadi, setelah bulan madu, kau akan segera hamil." Lim mengedipkan matanya dengan genit, dibalas Ais yang mengedip-ngedipkan matanya penuh tanya.
"Kita akan bermalam dihotel, melakukan apapun berdua, sesuka hati kita. Kau tahu, pasti aku akan sangat menggila disana."
"Jadi, kalau bulan madu, Ais ngga boleh ajak Nisa?" pertanyaan yang membuat Lim seketika melepas genggamannya.
__ADS_1
"Kenapa harus Nisa lagi? Nisa sudah ada Dimas, Ais."
"Iya, maaf. Kan, Nisa ngga pernah jalan-jalan."
"Biarkan Dimas berjuang mencari uang untuk mereka sendiri. Kenapa harus mengganggu kita? Ada-ada saja kau ini."
Raut wajah Lim tampak cemberut. Ia pun kembali ke laptop dan mendiamkan Ais yang masih diam di sampingnya.
"Kakak," panggil Ais dengan lembut, hanya di balas Lim dengan berdehem lirih.
"Kakak marah?"
Ais menopangkan dagunya di pundak Lim. Tangannya merangkul lembut pinggang suaminya, dan mendekapnya dengan erat. Terasa oleh Lim, hembusan nafas yang mengenai tengkuk lehernya. Membuatnya merinding dari ujung kepala, hingga ujung kaki.
"Ais, aku sedang bekerja. Nanti tak fokus." tegur Lim, berusaha kuat dengan godaan yang Ia dapatkan.
Ais hanya menggeleng, tanpa mengucap sepatah kata pun padanya.
"Ais," Lim menoleh, dan kembali melirik tajam padanya. Tampak wajah Ais yang memang semakin dewasa akhir-akhir ini. Wajah yang semakin bersih, rambutnya yang panjang tapi makin rapi. Tangan Lim akhirnya bergerak, mengusap pipi mulus itu dengan lembut. Ais hanya terdiam dan sedikit memejamkan matanya.
__ADS_1
"Kau, makin cantik." pujinya.
"Demi Kakak suami, Ais jadi sering ke salon. Semua atas arahan Nisa. Makanya, Ais serasa berhutang banyak dengan dia."
"Hutangmu, biar aku yang bayar. Itu adalah salah satu tugasnya sebagai sahabat dan asisten pribadimu." bisik Lim dengan lembut. Dan bibir itu, beralih mendekat pada bibir Ais yang semakin ranum dengan lipstik Pink yang Ia pakai.
"Bukan strowbery lagi?"
"Tidak, takut kalau gatal. Ini rasa leci."
"Baiklah, aku menyukainya." Lim menarik pinggang Ais, dan membawa tubuh mungil itu kedalam pangkuannya. Tangan Ais yang tadinya di pinggang, kini beralih ke tengkuk leher Iam dan naik ke rambutnya.
"Kenapa kau selalu menggodaku sekarang?"
"Karena Ais ngga mau, Kakak tergoda oleh wanita lain." jawaban yang singkat, tapi benar-benar datang dari hatinya. Lim hanya tersenyum menyunggingkan bibir, sembari tangan memainkan rambut Ais yang terurai panjang itu.
"Kau tahu? Aku sangat mencintaimu saat ini. Tak ada satu wanita pun, yang bahkan membuat jantung ini berdenyut begitu kuat. Hanya kau, yang selalu mengujinya dengan tingkah konyolmu itu."
Lim pun bergerak, berdiri mengangkat tubuh Ais untuk masuk ke kamar mereka. Dan tak lupa, untuk segera menguncinya.
__ADS_1