
Masuk ke area perkotaan. Terdengar semua suara hiruk pikuk yang memekakkan telinga. Ais bangun, dan menggeliatkan tubuhnya.
"Dah sampai?"
"Sebentar lagi." jawab Lim.
Mereka tengah di sebuah lampu merah saat ini. Menunggu perjalanan berlanjut. Lim tampak begitu lelah, karena menyetir sendiri dari kemarin.
"Besok, Ais belajar nyetir, ya?"
"Buat apa?"
"Ya, biar bisa gantian lah, kalau lagi pergi jauh."
"Ya, besok ku ajari jika ada waktu senggang."
"Tumben? Biasanya suruh Kak Dim."
"Ais...."
"Iya, Ais diem."
Perjalanan pun berlanjut, hingga mereka sampai dirumah.
Mobil terparkir di garasi. Nisa segera menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
"Yey, akhirnya ngga jadi pergi." peluk Ais padanya.
__ADS_1
"Dan setelah ini, Gue akan menjadi pengawal yang akan nemenin Loe kemanapun. Apa perlu, Gue panggil Nona, atau Nyonya muda?"
"Ish, apa sih. Ngga perlu lebay gitu. Kita tetep sahabat, bukan Nyonya dan asisten pribadinya." jawab Ais.
"Aku ke kemar, istirahat." Lim melewati mereka berdua.
Nisa pun menyuruh Ais naik ke kamarnya. Memintanya agar Ia beristirahat dengan sang suami. Ia tahu, jika Ais pemabuk jika mengendarai mobil, dan pasti begitu lelah jika perjalanan sangat panjang.
"Biar gue beresin barangnya." ucap Nisa.
Ais mengangguk, lalu mengejar Lim keatas.
Bruuughhh! Ais menjatuhkan dirinya di ranjangnya yang empuk itu.
"Kenapa kesini? Bukannya masih mau sama Nisa?" tanya Lim, yang tengah mengganti pakaiannya.
"Capek, pengen tidur." Ais memeluk guling kecil yang begitu Ia rindukan
Namun, bukannya tidur, Ais justru membalik badan. Ia menghadap pada Lim sekarang, dan tangan jahilnya menggelitik dada Lim naik turun.
" Aku lelah, ingin tidur sebentar."
"Tapi, katanya tadi...."
Lim pun membuka matanya. Ia menggenggam tangan Ais lalu menindihkan tubuh diatasnya.
"Apa?" lirik Lim.
__ADS_1
Ais tak menjawab, hanya menggigit bibir, dan tangannya justru melunjur ke dalam kaos oblong yang Lim pakai. Ia pun menariknya keatas, lalu membukanya dan melempar ke sebelahnya.
Itu menjawab semua pertanyaan. Lim langsung menyergap bibir manis itu dengan liar. Ais membalas, dengan mengalungkan lengannya di leher Lim.
"Ini siang hari."
"Ya, Sangat panas." bisik Ais.
Lim dengan begitu semangat membuka helai demi helai yang Ais pakai. Ia mulai menyesap semua bagian tubuh mungil itu. Dia bukan anak-anak lagi, dia sudah menjadi wanita dewasa. Yang hanya ingin melayani suaminya sebaik mungkin.
Hawa panas semakin menggelegar, di bumbui dengan ******* demi ******* yang tercipta dari gairah yang mereka rasakan. Lim bahkan mengangkat kaki Ais ke punggungnya, dan mengecupinya berkali-kali.
Ais mengereang, sembari menarik seprai yang Ia dapatkan, dan perlahan melepasnya setelah hasratnya pun lepas bersamaan dengan Lim yang kembali merebahkan tubuh diatasnya.
"Tidurlah, aku sangat lelah."kecup Lim di keningnya.
Ais menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu memeluk tubuh Lim dengan erat di sebelahnya. Ia begitu bahagia, ketika telah bisa menuntaskan kewajibannya sebagai seorang istri.
***
"Nisa, Lim sudah pulang?" tanya Dimas lewat teleponnya.
"Sudah, lagi istirahat. Kenapa, Kak?"
"Tidak... Tadi hanya mencoba menelponnya, tapi tak Ia jawab."
"Hmmm, nanti Nisa sampai kan pesannya. Jika sudah bangun."
__ADS_1
Nisa menutup teleponnya. Ia kini tengah mengambil barang-barang Ais dan Lim yang ditinggal di dalam mobil. Tak lupa, Ia membersihkan mobil yang berantakan itu. Selain tidur, Ais suka ngemil selama perjalanan. Itu menghindari rasa mual yang berlebihan.
"Eh, ini foto siapa? Cantik sekali?" Nisa menemukan sebuah foto wanita. Berambut panjang, berkulit putih begitu cantik.