Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Kau yakin malam ini?


__ADS_3

Ais spontan memeluk Lim, tak menyangka dengan kejutan yang Ia berikan. Meski sedih, karena ini hari ulang tahun pertamanya tanpa sang mama.


"Kakak inget aja."


"Jelas, karena Mama selalu mengingatkan."


"Bukan, inisitif sendiri?" tanya Ais, dengan mendongakkan kepalanya.


"Menurutmu? Mama hanya mengingatkan." jawab Lim, tak perduli orang lain memperhatikan mereka.


"I Love you." ucap Ais.


Senyum Lim begitu lepas kali ini. Mengecup dahinya dengan mesra.


Mereka berdansa sejenak, menikmati alunan lagu yang di putar. Ais tak ingin melepaskan hadiah pertamanya dari Lim, karena itu sangat berharga.


Seorang pelayan memberikan minuman ketika Lim menghampiri sahabatnya. Ais dengan senang hati meminumnya hingga tandas. Tapi, Ia merasa ada yang aneh dengan sirup itu.


"Kok, rasanya sepet-sepet gini ya?" Ais beberapa kali mengecap bibirnya sendiri.


"Ais kenapa?" tanya Dimas, yang menatapnya aneh.


"Abis minum sirup, tapi kok aneh?"

__ADS_1


"Sirup? Mana ada sirup disini, Ais. Kamu jangan sembarangan minum." tegurnya.


Dimas pun meraih gelas Ais, dan menghirup aromanya beberapa kali.


"Astaga, ini alkohol. Kamu minum sampai abis?"


"Iya, Ais haus. Tapi, kok malah tambah panas?" Ais mengibas-ngibaskan gaunnya di bagian dada.


Ais tampak oleng dengan bucket bunga yang masih dalam pelukannya. Ia nyaris jatuh, untuk di sangga Dimas yang dekat dengannya.


"Lim, kau dimana?" panggil Dimas.


"Kenapa?"


"Ais salah minum, Dia mabuk."


"Kau gantikan pertemuan ini. Aku membawanya ke kamar." ucap Lim.


Dimas hanya mengangguk, lalu Lim menggendong Ais ke kamarnya.


Kunci yang telah ada di kantongnya, sedikit susah di raih. Apalagi, dengan tangannya yang menyangga tubuh Ais yang lunglai. Akhirnya, Ia memanggil seorang pelayan wanita yang kebetulan lewat disana.


"Ya, Tuan?"

__ADS_1


"Bukakan pintuku."


Pelayan itu menurut, dan Lim langsung masuk setelah pintunya terbuka.


"Ais, bangun. Kenapa mabuk?"


"Eeenghhh... Ais ngga pernah minum itu, kepalanya pusing. Panas, pengen mandi." ucapnya setengah sadar.


Lim langsung membuka gaun itu. Dengan berusaha menahan segala hasratnya, Ia membawa Ais ke kamar mandi, dan mengguyurnya dengan air hangat. Kemudian, memakaikannya dengan handuk yang tersedia.


" Tidur lah dulu, agar kembali fit. Aku, akan mencarikan baju ganti untukmu." Lim beranjak pergi, tapi Ais menariknya hingga jatuh tepat di atasnya.


Ais mengalungkan lengannya ke leher Lim, dan menatapnya dengan sayu.


"Ais sudah 19 tahun. Sudah bisa 'kan, menjadi seorang istri seutuhnya? Ais juga pengen dapat pahala, karena dapat melayani suami lahir dan batin,"


"Tapi, tidak dengan cara ini, Ais. Kamu mabuk."


"Ais ngga mabuk, Ais sadar. Apalagi, masalah lingerie tadi. Ais tahu, jika Kakak suami, telah begitu berat menahan rasa selama ini." ucapnya.


Lim terenyuh. Apa yang dikatakan Ais memang benar. Ia sudah begitu menahan rasanya selama pernikahan mereka. Terpaku dengan sebuah janji, yang sebenarnya halal.


Lim semakin menurunkan tubuhnya mendekati Ais. Ia mulai menyentuh bibir itu dengan lembut, meski masih sedikit berbau alkohol disana. Ia terusĀ  meluumat bibir Ais, dan sesekali memainkan lidahnya. Sedangkan tangan Ais, begitu aktif membuka kancing kemeja Lim.

__ADS_1


"Kau yakin, ingin malam ini?" tanya Lim lagi.


Ais tak menjawab, hanya menarik kepala Lim dan membalas lumaatannya. Ia bahkan sedikit menjambak rambur Lim, ketika merasakan sebuah sensasi yang sedikit tak biasa dari dirinya.


__ADS_2