
Memang hanya sedikit lagi perjalanan mereka. Hingga akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana di tengah kampung kecil yang ramai penduduk.
Mama Linda tampak tengah duduk di luar, dibawah sebuah pohon rindang yang begitu sejuk di pandang.
"Mama...!" Ais langsung turun dari mobil dan menghampirinya. Memeluk erat, sembari memberi ciuman rindu pada sang Mama.
"Ais, kok tiba-tiba disini?" Mama Linda terheran. Pasal nya, Ia tak diberi kabar sama sekali mengenai kedatangan itu dari mereka.
"Sengaja kasih kejutan. Dan rupanya berhasil 'kan?" Lim menghampiri, dan mencium tangan Mama mertuanya.
Mama Linda menggandeng mereka masuk dan beristirahat sejenak.
Bagi Ais, rumah ini adalah sebagian kecil memorinya bersama Sang Papa. Masa kecil yang begitu indah, dengan segala kasih sayang yang Papanya berikan. Foto bayi nya pun masih terpajang jelas, sederet hingga usianya Lima tahun. Setelah itu, Ia pergi menuju hiruk pikuk kota besar itu.
"Dari kecil, emang tengil rupanya?".
"Anak kecil, mana ada yang ngga tengil? Emang, Kakak dari kecil membeku begini?" Ais membalas ucapan itu dengan lirikan anehnya.
__ADS_1
Mama Linda mengeluarkan seteko es jeruk dingin. Begitu menyegarkan, hingga Ais menghabiskan bergelas-gelas dalam kerongkongannya. Lim pun segera menyembunyikan teko itu di belakangnya.
" Hari ini hari kelulusan. Ais baru saja mengambil pengumumannya." Lim mengeluarkan secarik kertas yang masih sangat rapi.
"Hasilnya?"
"Lulus lah, Ma. Masa iya ngga lulus. Meski nilai pas-pasan." Begitu bangga nya Ais menceritakan itu pada sang Mama.
Mama Linda, yang begitu faham akan kemampuan sang putri, hanya bisa tersenyum bangga padanya. Setidaknya, Ia telah bekerja keras dengan hasil yang maksimal, sesuai dengan kebisaannya.
" Selamat buat Anak Mama. Ini hasil kerja keras kamu, dan seberapapun hasilnya, harus tetap disyukuri." elusnya di rambut sang putri.
" Ais ngga kuat." rengeknya. Padahal air sudah ada ditengah ketinggian sumur itu.
" Ah, lemah. Sini...." rebut Iam.
Ais berjongokok, menerima gebyuran air dari sang suami. Menyabuni diri, dan menyampoi rambut nya dengan begitu bersih.
__ADS_1
"Gantian ngga?" tawar Ais.
"Udah sana. Ngga enak mandi dilihatin." usir Lim.
"Ya...." Ais pergi ke kamarnya.
Lim memang kaya raya, tapi Ia juga tak canggung dalam kesederhanaan. Bergaul dengan semua kalangan, meski sikap dinginnya kadang menjadi momok yang begitu menakutkan.
Usai mandi, mereka makan malam bersama. Tak hanya dengan Mama, tapi juga dengan beberapa kerabat lain yang datang. Mereka menyambut Lim dan Ais, menyapa dengan ramah meski ada juga beberapa yang begitu detail dalam bertanya.
"Kakak tidur duluan. Ais bantu Mama beres-beres."
"Hmmm? Aku istirahat sebentar. Mengontrol pekerjaan Dimas dari sini." jawab Lim, dan duduk dikursinya dengan santai.
Meski kampung kecil, tapi disana tak terlalu tertinggal. Sinyal masih kuat, jika hanya sekedar internet biasa.
Sedangkan disana, Dimas sedang berada di rumah Nisa untuk berdiskusi dengan Ibunya mengenai penawaran Papi Tama.
__ADS_1
"Bagaimana, Bu? Tadi sudah saya jelaskan, mengenai syarat dan ketentuannya. Tak ada yang akan di rugikan disini. Karena Nisa akan kuliah hingga selesai. Dan, jaminan bekerja di perusahaan kami."
Diskusi berjalan lambat. Ibu Nisa agaknya memiliki trauma dengan orang kaya. Terlampau sakit hati, atau bahkan ada rahasia lain mengenai Nisa. Hingga Ia terus meyakinkan agar Nisa menjauhi paea orang kaya yang mendekatinya.