
Nisa mengirimkan foto itu pada Dimas, dan Dimas segera menelponnya sekali lagi..
"Dapat dimana?"
"Di mobil Kak Lim. Dia siapa?"
"Masa lalu, tapi Ais sudah tahu. Simpan saja fotonya, dan bersihkan yang tersisa dalam mobil itu."
Tepat setahun pasca kelulusan. Ais masih juga belum menemukan fakultas yang cocok untuknya. Sedangkan Nisa, telah masuk sebagai mahasiswa Akuntansi di sebuah universitas ternama.
"Enak ngga, kuliah?"
"Enak lah, nambah ilmu. Loe kanapa sih, belum juga menentukan pilihan? Ini udah setahun."
"Ya, ngga tahu. Kayaknya enakan gini. Dirumah, bermanja sama Kakak suami. Bebas pergi kemana-mana ikut dia tanpa hambatan, besok jadwal, besok ujian." Ais berbicara sembari memainkan gerak tangannya dengan lincah.
"Iya, tapi Loe ngga minder, kalau orang-orang Kak Lim nanya pendidikan? So, mereka kalangan berpendidikan tinggi."
"Kak Lim terlalu pandai membela Gue. Mungkin, itu yang bikin gue nyaman."
"Au ah..." Nisa memijat dahinya. Kepalanya sedikit pusing, akibat semua tugas yang membebaninya.
__ADS_1
Papa Tama, kini sedang berada di luar kota. Tubuhnya sudah kuat untuk menjalani beberapa pekerjaan di temani Dimas. Sedangkan Lim, disini di bantu Pak Wil mengurus perusahaan inti.
"Ehm, Gue hari ini jenguk Ibu, ya? Boleh?"
"Emang gue pernah ngelarang? Besok kan hari minggu, yaudah pergi aja ngga papa."
Nisa memberi senyum manisnya. Memang sudah hampir sebulan tak menjenguk sang Ibu di rumahnya. Bukan hanya rindu, bahkan setahun ini Ia terus berusaha mencari jejak sang Ayah. Ia selalu memancing Ibunya bicara, meski kadang selalu di alihkan dengan bahan yang lain.
Nisa pergi setelah memasak. Dibantu Bi Narti dan yang lain yang juga membersihkan rumah. Ais masih saja duduk menggalau, dengan berbagai selebaran dari universitas beserta jurusannya masing-masing.
"Mau kuliah apa sih?" pekik Nisa dari dapurnya.
"Emang masih? Bukannya udah sembuh?"
"Masih sesekali terasa. Namanya juga jantung donor, ngga akan sesempurna jantung bawaan. Dahlah, mau mandi. Nanti Kakak suami pulang, masa Burik."
Nisa masih di meja, duduk dilantai dengan segala tugasnya. Itu yang membuat Ais masih ragu memutuskan kuliah. Karena Ia masih ingin fokus dengan suaminya.
***
Lim tengah dijalan saat ini. Di persimpangan lampu merah, dalam perjalanan pulang setelah aktifitasnya seharian. Pak Wil di sebelahnya, masih dengan beberapa file di tangannya. Ia sudah begitu biasa, bekerja meski masih di dalam mobil.
__ADS_1
"Kau harus lebih teliti lagi dengan semua rencana. Ini masih banyak kesalahan yang harus diperbaiki."
"Ya, nanti ku perbaiki. Lagipula, itu tugas Dimas."
"Kalau Dimas pergi, itu jadi tugasmu. Berhenti membebani orang lain." tepuk Pak Wil dengan map yang Ia pegang.
Lampu telah berganti hijau. Lim perlahan menyetir mobilnya maju. Tapi, berpas-pasan disebelahnya, Ia melihat seorang wanita yang begitu familiar. Meyetir mobilnya sendiri, dengan rambut panjang ikal dan kaca mata hitamnya.
"Al?" lirihnya.
Mobil wanita itu belok kiri, sementara Lim sudah terlanjur lurus. Ingin berbelok dan mengikuti arah wanita itu, tapi sudah tak bisa. Ia akan merusak perjalanan orang lain.
"Kau kenapa? Kehilangan kemampuan menyetir?" omel Pak wil.
"A-aku...."
"Lihat apa kau? Lekas berjalan. Daripada nanti polisi menyambangi kita."
Lim mengangguk, meski tatapannya masih kemana-mana. Ia berusaha mencerna kembali, apa yang baru saja Ia lihat.
"Rambutnya, hidungnya, gayanya membawa mobil. Persis Al. Tapi, bagaimana mungkin?"
__ADS_1