
"Ais, ayo cepetan bangun." Nisa menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu.
"Apa, kenapa?"
"Kesiangan. Ayo, cepet mandi."
"Gue ke atas, bentar lagi balik." ucap Ais. Ia segera berlari ke atas, tanpa
perduli ada Pak Wil di lewatinya.
Segera Ia membersihkan diri, dan berdandan rapi dengan seragamnya. Terdengar suara motornya tengah di panaskan dengan kencang.
"Yesss, bawa motor lagi." senangnya.
Ia pun kembali ke bawah, menghampiri Papi Tama dan Nisa yang telah menunggu di meja sarapan.
"Pagi, Papi..."
"Pagi sayang. Sudah siap?"
"Ya, siap banget. Meskipun ambil pengumuman sendiri." jawab Ais.
"Minta Dimas, ya?"
"Jangan, Kak Dim sibuk. Biarin lah, sama aja kok. Papi fokus aja sama terapinya." ucap Ais dengan mulut penuh makanan.
Ia pun pamit, begitu juga Nisa. Mengendarai motornya seperti biasa dengan penuh suka cita.
Lim pernah mengirim supir pribadi untuknya, tapi Ais menolak. Jiwa bebasnya masih menggila, dan Ia tak ingin terlalu di awasi saat ini. Lim menghargai keinginannya dengan sebuah persyaratan.
__ADS_1
Suasana sekolah sudah begitu ramai. Semua siswa menggandeng orang tuanya masing-masing. Nisa pun berlari menggandeng sang Ibu, yang menunggu nya di pintu depan aula. Hanya Ais, yang datang sendirian.
"Ais, ayo..." panggil Lila.
Ia pun berjalan pelan, sembari sesekali menghela nafas panjang. Lalu mengurai senyum seperti biasa.
Orang tua diajak masuk ke dalam ruangan. Para siswa di luar menunggu mereka. Ais masih di luar, berharap ada seseorang yang datang. Tapi tak kunjung ada.
"Eh, lihat nih. Si Ais, mabok ngegodain anak tirinya." ucap Zia, memamerkan sebuah foto. Dimana Ais tengah di peluk dan dibawa ke sebuah kamar hotel.
"Mana mana? Kok gitu? Udah sama Bapaknya, kenpa anaknya juga? Ih, Menjijikan." cibir yang lain. Menatap Ais dengan penuh rasa jijik.
"Loe, ketemu foto ini dimana?" tanya Ais.
"Informan gue banyak," jawab Zia ketus.
"Informan Loe, khusus mantau gue?"
"Lah, Loe tahu gue salah minum. Atau..."
Ais mengingat kembali, sosok yang memberi minuman padanya. Sosok yang sama, bertemu dengan mereka untuk membukakan pintu kamar.
"Eh Zia! Loe, jadi pelayan hotel?" tanya Ais.
Seketika Zia pucat pasih. Tampak begitu gugup, dan sulit berucap.
"Enak aja! Ngapain gue jadi pelayan. Ngawur." sergahnya.
Ais mengecek Hp itu, dan melihat rincian foto itu diambil.
__ADS_1
"Ini, Loe yang ambil secara langsung. Ketika gua masuk ke kamar. Dan disana, cuma ada pelayan itu. Ngaku Loe!"
"Stop! Loe mempermalukan gue!" pekik Zia.
"Playing victim! Jijik gue. Itu suami Gue, bukan anak tiri. Bisa aja Loe, gue kibulin."
Ais pun masuk ruangan, meninggalkan Zia dan yang lain. Ia menunggu namanya di panggil untuk menerima hasil kelulusan. Jantungnya berdebar begitu kuat. Ia begitu takut jika hasilnya sangat mengecewakan untuk keluarganya.
" Tolong, setidaknya jangan terlalu membuat kecewa." renungnya dan berdoa.
Semua sudah menerima suratnya. Tinggal Ais yang terakhir. Bahkan, para siswa tadi sudah masuk dan membuka hasilnya. Tampak begitu bahagia memeluk sang bunda dengan erat.
"Aishwa Ulfiana Putri... Ada?"
"A-ada, Bu...." jawab Ais, tapi dipotong oleh seseorang.
"Ada, saya walinya." Pria tampan nan gagah itu mengambil hasil ujian Ais.
"Anda?"
"Saya suaminya, Halim Arya Pratama." balasnya. Ia pun menatap sang istri yang masih bengong di tempat duduknya.
"Tak senang aku datang?" lirik Lim, dengan tatapan datarnya. Tapi bibirnya tersenyum mempesona.
"Kakak suamiii!" Ais lari dan memeluknya dengan erat.
Semua mata terpana. Apalagi yang baru menghina Ais barusan. Semua melirik, bahkan mencibir Zia karena telah menyebar fitnah.
"Dasar, penguntit. Bisanya fitnah doang."
__ADS_1
"Jangan-jangan bener, dia pelayan itu? Dia dong, yang kasih minuman Ais? Dasar, psyko."