
Ais tiba di rumah, menghampiri Papi Tama yang tengah duduk dengan koran di tangannya. Memeluknya dengan erat, dan memberi sebuah kecupan sayang untuknya. Papi Tama, sudah lama sekali tak merasakan itu dari anaknya.
"Hay Om, selamat sore." sapa Nisa, ramah.
Ais membawa sang mertua untuk duduk bersama di teras. Mengobrol bertiga, meski ada Dimas diantara mereka. Dimas hanya diam dan fokus dengan pekerjaannya.
"Dim, santai lah. Besok masih bisa dikerjakan." tegur Papi Tama padanya.
Dimas mengangguk, dan menghampiri mereka di tempatnya.
"Kenapa, Pi?"
"Mengobrollah bersama kami. Jangan terlalu fokus dengan kerjaanmu. Sesekali, kau juga harus bersenang-senang"
"Iya, Pi."
"Tadi Ais ajak ke Mall, tapi diem aja. Tetep sama Hpnya." sambung Ais.
Papi Tama hanya tertawa renyah, Ia terhibur dengan tingkah Sang menantu yang jujur itu. Pandangannya, beralih pada Nisa yang duduk dengan kikuk. Beliau pun mulai memberi perhatian padanya.
" Nisa, setelah lulus mau kuliah kemana?"
" Nisa, kayaknya ngga kuliah deh. Nisa mau kerja aja. Ibu, ngga ada biaya." jawab Nisa, tertunduk lesu..
"Ibumu, kerja apa? Ayahmu sudah ngga ada?"
__ADS_1
Nisa menggeleng, raut wajahnya tampak semakin sedih.
"Ayah, udah meninggal. Mama, hanya tukang jahit di rumah." jawabnya.
Papi Tama terdiam sejenak. Ia mengerutkan dahi sembari berfikir keras.
"Nisa kerja disini saja." ucapnya.
"Apa?" kaget Ais dan Dimas.
"Nisa, mau kerja apa disini?"
"Melayani Nona muda kami. Lalu, akan Papi kuliahkan kamu. Cari saja jurusan yang kamu mau. Nanti Dimas akan mengurusnya."
"Hah?" kaget Dimas.
Nisa tak menyangka, mendapat keluarga baru yang begitu baik seperti mereka. Terharu, tak menyangka dan benar-benar tak dapat di gambarkan oleh apapun. Bahkan Ia ingin menangis, tapi malu dengan Dimas.
Hari telah senja, mereka masuk ke kamar masing-masing. Ais membersihkan diri dan mengganti pakaiannya di kamar atas. Setelah itu, Ia menghampiri Nisa untuk ikut makan malam.. Terdengar dari luar, Nisa tengah meyakinkan Ibunya atas ucapan Papi Tama padanya.
"Serius, Bu. Papi Tama sendiri yang bilang begitu. Mana mungkin Nisa bohong. Besok, Kak Dimas akan kerumah untuk menjelaskannya."
"Jangan terlalu percaya dengan janji orang kaya, Nisa. Mereka itu kadang hanya mencari perhatian dan ingin di puji baik. Ibu sering melihat itu. Mereka akan menelantarkan, setelah bosan."
"Bu, Nisa yakin jika mereka dapat di percaya."
__ADS_1
"Terserah, Ibu sudah peringatkan kamu. Jangan menyesal ambil keputusan." sang Ibu menutup teleponnya.
Ais pun masuk, bersikap seolah tak mendengar apapun daritadi.
"Nis, makan yuk. Papi udah nungguin daritadi."
"Iya..." Nisa segera beranjak, dan mengikuti Ais dari belakang.
Mereka berdua duduk, bersma Papi Tama dan Pak Wil yang ada di sampingnya. Ais melayani sang Papi mertua untuk makan malamnya, begitu juga dengan pak Wil. Mesoi sering menolak, akhirnya Pak Wil pasrah dengan tingkah Nona mudanya itu.
"Terimakasih, Nona."
"Sama-sama." jawab Ais dengan begitu manis..
Makan malam begitu tenang. Mereka menikmati makan malam masing-masing tanpa bicara sedikitpun. Hanya sendok dan garpu yang saling beradu, hingga masing-masing menyelesaikan makan malam mereka.
"Kakak suami Time..." ucap Ais, berlari keatas menuju kamarnya.
Lim telah berjanji, akan menelpon setelah makan malam. Dan Ais tahu, Lim akan menepati janjinya itu.
"Halo, Kakak suami."
"Hay... Sudah makan malam?"
"Udah, barusan selesai. Nisa juga jadi nginep disini."
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Besok Pak Wil yang akan ambil kelulusan. Aku pulang sore, takut tak sempat. Jadi, jangan terlalu berharap."
"Iya, Ais tahu." Makin yakin aja mereka nanti, kalau Pak Wil itu suamiku.