Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Jantung ini..


__ADS_3

Lim memejamkan matanya. Tak tidur, hanya menenangkan diri di suasana yang begitu ramai.


"Kak, sudah..." panggil Ais, dengan beberapa paper bag di tangannya.


"Banyak? Katamu, sekolah hanya tinggal sebentar. Kenapa sebanyak ini?"


"Kasih Nisa Satu, ya? Boleh?"


"Ya, berikanlah. Aku bayar dulu semuanya."


Ais hanya mengangguk, lalu bergantian duduk di sofa dengan memijiti kakinya yang lelah.


"Ayo..."


"Kemana?" Ais mendongakkan kepalanya.


"Ikut saja. Bukankah, ingin tahu tentang diriku?"


Ais mengangguk, lalu meraih tangan Lim dalam genggamannya. Kembali memulai perjalanan, hingga tiba di sebuah klinik pribadi milik seorang dokter jantung.


"Kakak, mau apa?" tanya Ais, yang mulai takut.


"Hanya konsultasi. Kalau takut, di luar tak apa. Tapi, jangan pergi kemanapun."


"Iya..." angguk Ais, menurut. Ia pun duduk, disebuah kursi yang trsedia disana...


"Selamat sore, Aura?" sapa Lim, ketika masuk ke sebuah ruangan.


"Lim, aku takjub kau kembali kemari. Ada apa?"


Aura mempersilahkan sehabat lama nya itu duduk, dan mereka saling tanya kabar untuk sejenak.

__ADS_1


"Aku dengar, kau sudah menikah?"


"Ya, sudah hampir sebulan. Tapi....." lim menundukkan kepala, sembari memegangi dadanya.


"Jantungmu, kenapa?"


"Aku bukan tak ingin melupakannya. Tapi, ketika aku mendekati istriku, kenapa terasa begitu sakit? Bahkan, nafasku sesak dibuatnya."


"Lim... Tenanglah. Jantung itu sudah melekat dan bersemayam di dalam tubuhmu. Itu sudah menjadi milikmu."


"Tapi, Al ada disini? Hanya..."


"Aku tahu kau ingin menjaga detak jantung itu. Tapi, kau tak mungkin menjadi seperti Al. Al memang orang yang tenang, Al orang yang begitu perhatian. Jantung yang ada dalam tubuhmu, akan menyesuaikan diri pada karaktermu. Aku tahu, kau menahan diri agar tak menyakiti jantung itu 'kan?"


" Ya... Aku hanya ingin menjaganya berdetak dengan sempurnya. "


" Tapi hidupmu yang tertekan. Kau selalu menjadi dingin, bahkan terlalu takut untuk membuat jantung sedikit memiliki adrenalin. Percayalah, semua baik-baik saja." ucap Aura.


Aura berpindah tempat, mendatangi Lim dan duduk tepat di hadapannya.


" Santai lah Lim. Bahkan Al tak akan lagi dapat merasakan, bagaimana detak jantung itu. Ini sudah sekian lama. Jalani hidupmu sendiri. Buat dirimu bahagia, apalagi dengan kehidupan barumu." ucapnya, sembari mengusap dada Lim.


Kreekk! Pintu terbuka tiba-tiba. Ais menatap mereka dengan nanar.


" Kak Lim..." panggil Ais.


" Ais, aku bisa jelaskan." tatap Lim.


" Istrimu?"


" Iya, maaf." jawab Lim.

__ADS_1


" Tak apa, santai saja. Aku bukan lah orang yang terlalu bawa perasaan."


"Kak, pulang yuk. Ais capek." ajak Ais


"Baiklah, kau tunggu di luar."


"Jangan lama." pinta Ais, tanpa menatap mata Lim. Tampak, Ia tengah menahan kecemburuan yang mendalam.


"Pulanglah, Lim. Istrimu sepertinya salah faham dengan kita."


"Baiklah, terimakasih atas konsultasinya."


"Ya... Ingat, jadilah dirimu sendiri, Lim. Al sudah sangat tenang disana." ucap Aura.


Lim hanya mengangguk, dan mundur untuk menyusul Ais. Sedikit berlari, meski nafasnya mudah terengah. Mencari istri kecilnya, yang ternyata sudah bersandar di mobil.


"Ais?"


"Ayo pulang. Panas nih." ajak Ais.


Lim pun membuka pintunya, lalu Ais masuk dengan wajah yang tampak murung. Bahkan, sepanjang perjalanan Ais hanya diam seribu bahasa.


"Ais kenapa?"


"Ngga papa. Jalan aja, cuma pengen cepet pulang."


"Ais...."


"Jalan aja! Ngga usah banyak tanya, kenapa sih?" sergahnya.


Lim kemudian ikut diam. Suasana pun sunyi, bahkan hingga mereka tiba dirumah.

__ADS_1


"Ais capek... Mau ke kamar terus istirahat." ucapnya, meninggalkan Lim yang berjalan santai dibelakangnya.


__ADS_2