Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Dia, tak akan pernah hidup lagi


__ADS_3

Hari telah semakin larut. Lim dan Dimas segera undur diri dari kediaman Aura. Apalagi, Ais pun sudah memanggil sejak tadi.


"Kakak dimana?"


"Aku, dijalan pulang. Tidurlah, sebentar lagi aku sampai."


"Ngga bisa tidur, kalau Kakak belum dateng."


"Hmm, tunggu saja. Tak sampai setengah jam, aku tiba."


Ais mematikan teleponnya, begitu juga Iam. Keadaan tampak tegang, dan Iam bersandar sembari berfikir dengan keras.


"Kau masih penasaran, Lim?" Dimas memulai pembicaraan.


"Aku penasaran? Itu jelas. Bukan karena ingin memeluknya, atau ingin kembali. Karena sudah ada Ais di sisiku. Tapi, hanya ingin tahu akan siapa wanita itu."


"Lebih kepada, menjaga Al yang telah tak ada?" potong Dimas.


"Cari dulu namanya. Jika beda, maka aku akan tenang. Tapi jika menggunakan nama yang sama... Aku harus mencarinya. Mencari tahu, siapa dia sebenarnya." jawab Lim.


Helaan nafasnya terasa kacau. Apalagi dengan ritme jantungnya, yang berdetak dengan begitu kuat. Tapi tak sakit, seperti ketika Ia dekat dengan Ais.


Lim langsung masuk, dan naik kekamar setelah tiba di rumah. Sedangkan Dimas memarkirkan mobilnys di garasi dengan rapi.


"Kak Dim...." Nisa memanggil, dan mendadak muncul di hadapannya..

__ADS_1


"Astaga! Nisa kenapa disini?"


"Ngga papa, mau sambut Kak Dim pulang aja."


"Kenapa harus? Aku bisa masuk sendiri ke dalam. Dan kau, bukankan besok akan menjenguk Ibu? Harusnya kau istirahat malam ini." omel Dimas.


Ia dengan cuek melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Baru tersadar, jika Nisa masih tertunduk dan diam mematung ditempat semula.


"Hais, anak ini." Dimas kesal dan kembali menghampirinya.


"Kenapa malah diam?" tanya Dimas sedikit kesal.


"Nisa cuma mau sambut, ngga ada maksud lain. Nisa yang pegang kunci, karena Pak Wil sudah istirahat. Jadi, Nisa mau sekalian kunci. Bukan cuma iseng." Nisa menunjukkan rentengan kunci rumah pada Dimas.


" Maaf. " sesal Dimas.


Nisa mendongakkan kepalanya, memberi senyum yang seketika muncul setelah kata maaf dari Dimas.


" Sebagai permintaan maaf, ku temani kau mengunci seluruh rumah."


"Ayok...." Nisa menggandeng tangan Dimas dan membawanya berlari keliling rumah besar itu.


Sesekali, ketika mereka dapat jalan-jalan berdua saja, meski hanya di dalam rumah. Moment berharga bagi Nisa untuk Dimas.


*

__ADS_1


Lim keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan rambut masih begitu basah.


"Kakak darimana?"


"Dari rumah Aura."


"Ngapain?" Ais mengambil handuk kecil, lalu mengeringkan rambut yang basah itu.


"Aku dan Dimas, menemukan wanita yang sangat mirip dengan Al."


Seketika Ais menghentikan aktifitasnya. Duduk lesu, tepat dibelakang Lim.


Lim pun berbalik, mengangkat dagu dan menatap wajahnya, "Hanya mirip, karena Al sudah meninggal."


"Tapi, mirip itu bisa menbangunkan masa lalu yang sudah tertidur pulas." ucap Ais.


"Dia tidur, dan tak akan pernah bangun lagi. Meski detak jantungnya, masih ada dan hidup hingga saat ini. Mengerti, maksudnya?"


"Ngerti." jawab Ais.


Lim mengusap rambut Ais, dan memberikan beberapa kecupan padanya.


Ais kemudian turun dari ranjang, menyiapkan piyama untuk Suaminya. Kembali ceria seperti biasa, meski Lim tahu jika ada banyak tanya di benak sang istri padanya.


"Dia tak akan pernah hidup lagi. Tapi, yang ada akan merusak nama baiknya. Aku harus mencegah itu, terlepas dari apa tujuanya kembali kemari."

__ADS_1


__ADS_2