
"Nisa, mana Ais?"
"Di dalam, Kak. Lagi mandi." jawab Nisa tanpa menoleh. Ia terlalu fokus dengan laptopnya, tapi masih menyadari keadaan di sekitar.
Lim berlari ke atas, sembari melepas dasinya. Penemuan sore ini, membuat nafasnya sesak. Bahkan, Ia membuka kemajanya dan terlentang di ranjang untuk meredam rasa sakit di dadanya.
"Eh, astaga... Kakak kapan pulang?" Ais tersentak ketika melihat suaminya di bertelanjang dada.
"Barusan, tolong obatku?" pinta Lim dengan nafas terengah.
Ais yang mengenakan Kimono nya, lalu menuruti sang suami untuk meredakan obatnya.
"Kakak kenapa?" Ais begitu cemas padanya.
Seketika Lim meraih tubuhnya, lalu memeluk Ais dengan begitu erat.
"Berjanjilah... Apapun yang terjadi, kau tak akan pernah pergi dariku."
"Hah, kenapa?" Ais masih tampak begitu kebingungan.
"Aku mohon, apapun yang terjadi, kau jangan pernah pergi."
__ADS_1
"He'emh, Ais janji."
Lim sedikit tenang, hanya memeluknya semakin erat. Kepala nya terbenam di leher Ais, mencium aroma wangi yang ada di tubuh istrinya itu. Di hirupnya dalam-dalam, memejamkan mata bagai sedang relaksasi.
"Lim, ini ada..... Ah, maaf." Pak Wil membalik badan, ketika melihat aktifitas mereka yang intim itu.
"Aku akan keluar." ucap Lim.
Pak Wil mengangguk, lalu menutup pintu itu kembali dan pergi.
Ia turun, dengan segala dokumen yang ada di tangannya. Langkahnya terhanti, manakala melihat Nisa yang menggaruki kepala nya menatap laptop dengan segudang materi tugas yang tersedia.
"Nisa kenapa?" Pak Wil menghampiri dan menyapanya dengan ramah.
"Mana? Bapak bantu." Pak Wil lalu duduk di sebelah Nisa, tanpa alas dan bersila dengan begitu nyaman.
Satu persatu Ia ajarkan. Karena memang itu lah tugasnya selama ini. Hanya, Papi Tama menariknya untuk menjadi Asisten pribadi selama sepuluh tahun lebih. Ia pun sudah tak terlalu banyak berkutat dengan materi yang Ia pelajari.
"Pak Wil hebat." Nisa mengacungkan jempol, pada Pria berusia 39 tahun itu.
"Ya, dulu nya, itulah pekerjaan saya." senyum Pak Wil padanya.
__ADS_1
"Nisa boleh tanya?"
"Apa? Jangan susah tapi, ya?" balas Pak Wil.
"Engga. Hanya mau tanya, apakah Pak Wil ngga ada keluarga?"
Pertanyaan Nisa, melunturkan senyum manis yang jarang diberikan Pak wil pada siapapun. Ia seketika murung, dan menatap dengan mata yang nanar.
"Pak, maaf. Kalau berat, ngga usah di jawab ngga papa."
"Kalau, Ibu, Ayah, dan adik saya meninggal. Lima belas tahun lalu karena kebakaran. Pernah dengar, sebuah kampung yang terbakar habis?" tanya Pak Wil, berusaha mengembalikan air muka cerahnya.
"Pernah denger. Tapi, simpang siur. Katanya karena sengketa 'kan ya?"
"Ya... Saat itu sengketa dengan sebuah perusahaan besar. Kampung dinilai milik mereka dan akan dibangun pabrik. Tapi, malah membunuh sebagian isi kampungnya. Termasuk keluarga kami."
"Bapak selamat? Beruntungnya."
"Karena, Bapak saat itu sudah wara wiri mengikuti Tuan Tama. Jadi, tak stay disana." jawabnya.
Air mata tampak mengalir di pipi Pak Wil. Nisa mengusapnya dengan tangan kosong, memberi simpati akan orang yang begitu Ia hormati dalam rumah itu.
__ADS_1
Sosok yang kuat, tegas, penyayang. Rupanya Ia memiliki masa lalu yang begitu kelam. Dan bahkan, sudah sejak lama Ia pendam.
"Bahkan, untuk menatap foto keluarga saja, Bapak tak mampu sekarang. Mereka ditemukan dalam keadaan mengenaskan."