Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Jebakan demi jebakan


__ADS_3

Kedua pria itu melangkahkan kakinnya ke arah terpisah. Dimas menggunakan mobilnya mengikuti jalan Ais. Sedangkan Lim, menghentikan taxi untuk datang ketempat Al dan menghampirinya.


Fikirannya bercabang, diantara sang istri yang menyelamatkan sahabatnya. Tapi Ia yakin, jika Dimas akan melindungi Ia seperti yang seharusnya.


"Aku tahu kau kuat, Sayang." batinnya.


*


"Aku pergi. Disini banyak pengawal yang akan menghajarnya. Lagipula, apa yang bisa di lakukan gadis kecil lemah seperti dia. Yang tak mampu melawan ketika akan di nikahkan. Hhh"


"Lemah? Ais lemah kau bilang?" batin Nisa, tertawa dalam hati.


Almira pergi dengan gaya anggunnya. Sementara Nisa tengah menikmati makan siangnya di ruangan itu. Nisa tak lagi diikat, karena menurut mereka adalah sekutu. Hingga santai, duduk dan menonton acara pavoritnya dengan pengawasan penjaga.


Tak lama Al pergi, Ais tiba di rumah itu. Rumah kecil, dengan bangunan yang minimalis. Tak tampak ada penghuninya disana. Ais membuka pintu dengan paksa, memanggil Nisa yang ada didalam. Tapi, yang keluar justru beberapa preman yang menantangnya.


"Hey, bocah tengil. Beraninya datang sendirian, cari mati?"


"Ais, cari temen Ais. Bukan cari mati, Om." jawab Ais, menundukkan kepala dan memasang wajah takutnya.


"Cieee, belum apa-apa udah mau nangis. Sok ngegebrak pintu segala." ledek salah seorang dari mereka.


Mereka menyerang bersamaan. Ais hanya beberapa kali menghindar dan beberapa kali melawan dengan lemah. Hingga salah satu dari mereka memkulnya dari belakang.

__ADS_1


Buggghhh! Ais pun terjatuh dan memejamkan matanya.


" Mampus kau. Anak kecil, beraninya datang sendirian." ucapnya, dengan begitu bangga.


Mereka membawa Ais keruangan, dimana Nisa ada disana. Mereka mengikatnya, dan Nisa hanya menatapnya dalam diam.


"Sudah, mau diapakan dia? Bukankah, kalian akan bertukar posisi?"


"Bentar, Nisa mau kasih pelajaran buat dia." kedip Nisa.


Mereka hanya tertawa dengan kuat, hingga membangunkan Ais yang nyaris ketiduran..


"Nisa, tolongin Ais."


"Rugi gue nyelameti loe. Loe juga ngga ada untungnya buat gue. Mending loe pergi, biar gue bisa bebas deketin Kak Dimas yang selalu aja mikirin loe."


"Nisa, kok gitu sama Ais?" tatapnya nanar.


"Ambilin tongkat. Mau kasih pelajaran sama cewek lemah ini." pinta Nisa, dan mereka menuurtinya.


Sebuah tongkat diambil. Nisa pun tersenyum begitu lebar pada Ais, menatapnya tajam dengan beberapa kali memberi tendangan ringan dikaki sahabatnya itu.


"Loe tahu? Kakak suami yang Loe banggain itu, sekarang sedang berduaan dengan masa lalu nya di sebuah hotel. Eh, hotel mana?" tanya nisa pada antek-antek itu.

__ADS_1


"Hotel Nala, 204."jawabnya.


"Nga-ngapain mereka disana?" tanya Ais.


"Ya mikirlah, berduaan dikamar hotel ngapain?" sergah Nisa dengan nada yang keras.


"Ya, meski bukan asli, tapi tingkat kemiripan begitu sempurnya. Bahkan, dadanya lebih montok dari aslinya, semakin seksi. Siapa yang tak tergoda dengan bentuk seperti itu. Pasti, Kak Lim sudah...."


"Stop... Itu, menyakiti Ais. Jangan lanjutkan."


"Menyakiti? Ini baru menyakiti."


Nisa menatapnya semakin tajam, mengarahkan tongkat keras itu padanya. Semua sudah mulai tegang, mempersiapkan senyum kepuasan masing-masing..


Bugggghh! Bughhh! Pukulan diberikan berkali-kali oleh Nisa. Tapi bukan pada Ais. Melainkan, pada kedua preman tersebut.


"Woooy, kenapa Loe belok!" pekiknya kesakitan..


"Loe kira, gue akan dengan mudah menyakiti sahabat gue? Enak aja loe." sergah Nisa, memberikan pukulan terakhirnya.


Nisa kemudian melepaskan pengikat Ais, dan berusaha membawanya keluar. Tapi sayang, rupanya masih ada orang yang menghadang mereka.


"Kalian fikir, dapat bermain denganku?" ucapnya, dengan senyum penuh rasa benci yang teramat dalam.

__ADS_1


__ADS_2