Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Selamat ulang tahun, Ais.


__ADS_3

"Ayo ngaku, ini punya siapa? Ais tahu, kalau Ais belum jadi istri yang baik. Tapi, bukan gini caranya! Eeerrrrggggh.!"


Ais benar-benar marah kali ini. Lim sampai kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.


"Itu... Itu buat Ais."


"Hah! Apa?"


"Iya... Itu buat Ais. Ku beli bersana dress itu." jawabnya datar.


Ais lalu melemparkan lingerie itu ke lantai mobil. Ia geli, apalagi membayangkan dirinya sendiri memaki pakaian tipis itu.


"Dasar, otak mesuuum..." lirik Ais padanya.


"Wajar, aku lelaki yang telah memiliki istri." jawab Lim, dengan nada yang begitu tenang.


Ia pun mulai menjalankan mobilnya, menuju hotel dimana pertemuan dilaksanakan. Semua kolega sudah menunggu, dan Dimas pun ada disana.


Di lantai dasar sebuah hotel, Lim memarkirkan mobilnya di parkiran vip. Dimas yang baru saja datang pun menyambut dan menggampirinya. Tatapan ke Ais begitu takjub, tampak semakin cantik dari biasanya.


"Dim, kau sendiri?" tanya Lim, mengejutkan.


"Eh, iya. Aku sendiri. Dengan siapa lagi?" jawabnya.


"Coba ajak Nisa, pasti mau banget." celetuk Ais.


"Belum pantas, kami tak ada hubungan." jawab Dimas.

__ADS_1


Lim memberi isyarat mereka agar berhenti, lalu menggandeng Ais naik keatas, dan Dimas turut di belakangnya. Mereka memasuki lorong demi lorong hotel, dan tiba di sebuah ruangan yang telah dipenuhi orang-orang dewasa beserta pasangannya masing-masing..


Dimas bengong. Ia merasa sebatang kara saat ini. Merasa sepi, ditengah semua keramaian.


"Ingin pulang dan kabur saja rasanya."


Lim menghampiri beberapa tamu, dan menyapa mereka dengan ramah. Tak lupa, memperkenalkan Ais sebagai istrinya. Meski sebagian tahu, tapi banyak yang kaget ketika melihat Ais yang masih begitu muda.


"Menikahi gadis kecil, Tuan?" tanya seorang kolega.


"Tak terlalu kecil, 19 tahun." jawab Lim.


"Wow, beda Sepuluh tahun." balasnya. Antara kagum atau mengejek.


"Saya memang anak kecil, tapi saya juga udah siap punya anak." celetuk Ais. Dan mulutnya segera dibungkam oleh Dimas.


"Jangan bilang begitu, ngga sopan." bisik Lim padanya.


Beberapa orang  menatap mereka sedikit aneh, dan beberapa tertawa karena kepolosan Ais.


Lim  memiringkan kepalanya, meminta Dimas mengajaknya menyigkir sejenak. Dimas pun segera menurutinya, dan membawa Ais ke sebuah ruangan.


" Kenapa kesini?" sergah Ais.


"Ais perlu belajar tata krama sedikit."


"Emang ada yang salah?"

__ADS_1


"Banyak. Kalau begini, Lim bisa malu. Ayo lah, belajar sedikit saja. Kakak tahu, kakak Yang salah karena belum sempat mengajarimu."


melihat semua ketulusan Dimas, akhirnya Ais luluh. Ia menurut, dan duduk manis sesuai dengan segala anjuran yang Dimas berikan padanya. Tak hanya sikap, tata bicara pun demikian.


"Sudah, setidaknya ada sedikit perubahan."


"Kenapa bukan kak Lim yang mengajari?" tanya Ais.


"Mengertilah, Dia itu begitu sibuk. Suatu saat kau akan faham itu."


Dimas kembali mengajaknya keluar, dan menemui Lim lagi. Ais seperti menjadi sosok yang sedikit berbeda, meski aneh bagi pengelihatan matanya.


"Bisa manis juga?" ledek Lim.


"Diem... Ais lagi mendalami peran." sergah nya.


Lim mengulas senyum diujung bibirnya. Memuji Ais yang sebenarnya dapat dengan segera menyesuaikan diri pada yang lain.


"Kak, pulang." pinta Ais.


"Tak pulang, kita menginap di hotel malam ini."


"Hah, kenapa menginap? Guling Ais ngga bawa."


"Ada aku," bisik Lim. "Selamat ulang tahun yang ke 19. Kau akan mendapatkan hadiahmu malam ini."


Ais mendelik, sebuah bucket bunga besar datang menghampirinya. Bukan hanya bucket bunga, tapi bucket berisi lembaran uang yang begitu banyak.

__ADS_1


"Ais bahkan lupa, kalau hari ini Ais ulang tahun." haru nya.


__ADS_2