Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Trauma dengan orang kaya


__ADS_3

Zia terpojok. Wajahnya pucat pasih, dengan kaki yang gemetaran. Apalagi, Sang Mami pun turut menghakiminya. Memarahinya di depan umum, dan bahkan tak segan memukul kepalanya. Ia berlari jauh, menjauh dari semua orang yang ada disana.


"Kalian semua jahaaaat!" pekiknya.


Nisa menghampiri Ais dan Lim. Ibu Nisa pun ikut, meski wajahnya kurang menyenangkan.


"Bu, apa kabar?" sapa Lim dengan ramah.


"Baik, masih tetap seperti ini." balasnya.


Nisa dan Ais membuka amplopnya bersamaan. Mereka pun bersorak bahagia dengan hasil yang diperoleh, karena keduanya lulus bersamaan.


"Selamat ya..." ucap masing-masing dalam sebuah pelukan hangat.


Keduanya bergandengan keluar, untuk saling mengambil foto terakhir dengan seragamnya. Sementara Lim mengikuti mereka dari belakang.


"Katanya, Nisa mau di kuliahkan, benar?" tanya Ibu Nisa pada Lim.


"Benar, jika Nisa dan Ibu bersedia. Papi, tak pernah main-main dengan ucapannya, meski spontan."


"Saya hanya trauma dengan orang kaya. Mereka hanya suka memanfaatkan kelemahan orang miskin seperti kami. Setelah puas, mereka akan meninggalkan seenaknya."


Lim tertegun. Ini alasan Ibu Nisa selalu ketus dengannya, Dimas dan Ais. Meski, nyatanya Ais berasal dari keluarga yang sederhana seperti dirinya.


" Jika Ibu bersedia, kami akan mengurus kuliahnya secepat mungkin. Bersama dengan Ais." tawar Lim.


" Bagiamana bisa? Bahkan Ais belum menentukan jurusan pilihannya. Kalian, tak memaksanya, bukan?"


"Tidak..." jawab Lim, yang lagi-lagi harus kalah beradu kata dengan seorang Ibu.

__ADS_1


"Kakak, ayo foto."tarik Ais pada tangannya.


Seketika Lim menarik nafas lega, karena terselamatkan dari debatnya.


Usai dengan semua fotonya, Nisa pamit kembali kerumahnya. Ia berjanji, akan memohon dengan sang Ibu agar diizinkan kuliah. Karena itu cita-citanya.


" Pulang." ajak Lim.


"Hadiah, lulusnya?" tanya Ais.


Ia menadahkan tangan dengan penuh harap, agar Lim memberinya hadiah sekali lagi setelah ulang tahunnya.


Lim hanya menatapnya, lalu bergerak untuk menggendongnya memasuki mobil mewah yang terparkir di halaman sekolah itu. Tak perduli orang menatapnya, mereka halal, dan bebas melakukan apa saja.


Lim meletakkan Ais di kursinya, duduk dengan manis dan mengikatkan sabuk pengaman untuknya.


"Kita mau kemana? Kok pakai sabuk?"


"Wait... Sekarang?" kaget Ais.


"Sudah lancar berbahasa inggris rupanya." ledek Lim.


Ia berputar, berpindah menuju kursi setirnya. Setelah itu, mulai lah Ia menyetir dengan kekuatan yang luamayan cepat.


"Ngga pamit Papi dulu?"


"Sudah..."


"Motornya?"

__ADS_1


"Bima akan ambil."


"Ngga bawa baju ganti? Ais masih pakai seragam loh ini?"


Lim hanya menoleh sesaat, memberi kode pada sang istri. Pakaian Ais sudah di bereskan oleh Bik Narti sedari Ia pergi. Dan Lim mampir kerumah hanya untuk mengambilnya.


Ais membuka sabuk pengaman.


"Kenapa dibuka?" tanya Lim.


"Mau ganti baju." jawab Ais, melangkahkan kakinya ke bagian belakang.


"Hey, nanti kita mampir ke kamar mandi umum."


"Repot, Kak. Ais ganti disini aja."


Ais pun melepaskan pakaiannya satu persatu. Lim hanya bisa menelan ludah, mencuri pandang dari kaca depan.


"Haish, anak ini." gerutunya kesal.


Lim serasa begitu mudah terpancing sekarang. Apalagi, melihat kemolekan tubuh istri kecilnya itu. Sejak kejadian malam itu, Ais terasa semakin menggodanya. Memacu adrenalin dari detak jantungnya yang masih bergerak menyakitkan.


" Sudah..." Ais kembali melangkah ke depan.


Ia duduk dengan manis, sembari mengikat rambutnya yang panjang. Tak lupa, memoles bibirnya sedikit dengan lip balm agar tak kering di perjalanan.


"Tumben dandan?"


"Ais ngga dandan. Ini cuma pelembab. Enak deh pakai ini, ada rasa-rasa buahnya. Ini, rasa strowbery." jawab Ais.

__ADS_1


Lim seketika menghentikan mobilnya. Ia lalu mendekap pipi Ais dengan kedua tangannya, lalu melumaat bibirnya. Sedikit lama, hingga Lip balm yang di pakai Ais terasa habis oleh bibirnya.


"Aku, hanya tak ingin kau alergi lagi." jawab Lim, setelah mukbang.


__ADS_2