
Malam terasa indah. Bintang dan bulan bersinar dan berkilau diatasĀ langitnya yang gelap. Lim masih berkutat dengan Hpnya, sembari duduk di Hammock yang dipasang diantara pohon di depan rumah.
"Ma, Kakak suami mana?" Ais baru keluar dari kamarnya, karena baru saja menghubungi Nisa.
"Di depan, lagi ngurusin kerjaan."
"Hish, katanya mau liburan. Kenapa kerjaan terus?"
"Ya wajar lah, Ais. Dia memang harus bekerja keras demi perusahaan. Toh, kamu juga menikmati." jawab Sang Mama.
Ais menghentakkan kakinya kesal. Kemudian berjalan dengan cepat menuju keluar dan menghampiri suaminya.
"Kenapa kemari? Tak tidur?" rupanya Lim tahu akan kedatangan sang istri.
"Kakak kenapa diluar?"
"Kerja. Ngga lihat? Di dalam ngga ada sinyal." jawabnya datar.
"Tapi kita lagi liburan, jangan kerja terus lah."
Lim mengalihkan perhatian dari Hpnya. Ia memijit dahinya sejenak lalu menoleh pada Ais yang tengah berkacak pinggang di hadapannya.
"Maunya, bagaimana?"
"Peluk...." Ais merentangkan tangannya dengan manja.
Lim hanya tersenyum renyah, lalu mengulurkan tangannya pada Ais.
__ADS_1
"Sini," ajaknya.
Ais memasang wajah bahagia, lalu nenyambut tangan Lim dan berbaring di sampingnya. Sedikit ngeri, karena Hammocknya tak henti bergoyang. Tapi, ketika telah berada dalam pelukan Lim, semua rasa takut itu hilang seketika.
"Sudah?"
"Belum lah, begini aja terus. Sampai besok pagi juga ngga papa."
"Tidur disini? Kau, mau jadi santapan nyamuk semalaman?"
"Emang Kakak engga?"
"Aku, sudah memakai lotion anti nyamuk." Lim mengarahkan lengannya ke hidung Ais. Dan tercium bau lotion disana.
Ais mendongakkan kepalanya, menatap sengit pada sang suami
***
"Kak Dim, maaf."
"Untuk?"
"Yang tadi. Kak Dim harus melihat sesuatu yang tak mengenakkan hati."
"Tak apa. Resiko ku, jika harus banyak melihat sesuatu yang tak mengenakkan. Tapi... Boleh kah aku bertanya?" Dimas menoleh ke Nisa yang tertunduk lemah.
"Apa? Mengenai Ayah?" toleh Nisa padanya.
__ADS_1
Dimas mengangguk, tapi memberi celah agar Nisa dapat memikirkan permintaan itu.
"Jika tak mau menjawab, tak apa." ucap Dimas.
Nisa menghela nafas begitu panjang, dan melepaskannya dengan tenang.
"Ayah pergi, setelah Nisa lahir. Katanya, pergi untuk menikah dengan wanita kaya. Tapi Nisa ngga tahu, apa perkembangannya. Itu aja, Nisa dapet info dari tetangga Nisa, dulu. Mereka pun tahu alakadarnya."
"Sebegitu rapat, Ibu mu menjaga rahasia?"
"Ya, kata nya malah, Mama sempet mau buang Nisa. Pas dipungut tetangga, malah diambil lagi sama Mama. Lucu, ya?" tawanya, dibalik air mata yang mengalir.
Dimas hanya bisa tercengang. Satu lagi gadis unik yang Ia temukan, selain Ais. Ya, unik menurut Dimas, karena jarang sekali ada gadis yang dapat begitu jujur dengan kondisi hidupnya. Apalagi, di usianya yang seolah memaksa dewasa sebelum waktunya.
*
Mobil berhenti di halaman rumah Papi Tama. Dimas membawanya masuk dengan sambutan Papi dan Pak Wil. Begitu ramah, seolah menyambut anak perempuan mereka yang baru pulang dari perjalanan jauhnya.
"Selamat datang, di kediaman MC group." sambut Pak Wil.
"Iya, Om. Terimakasih." jawab Nisa. Yang lagi-lagi membuat Pak Wil terkesima dengan panggilan itu.
Dimas mengantarnya ke kamar. Mereka tak membedakan antar Ais dan Nisa. Hanya saja, Ais memang menantu yang akan menjadi Nyonya besar di rumah itu.
"Setelah ini, kamu akan jadi tangan kanan Ais. Kamu lebih faham tentang Dia, jadilah sahabat seperti biasa agar tak terkesan mengekang."
"He'em, Nisa faham," angguknya.
__ADS_1