
"Assalamualaikum, Nisa." panggil Ais, di dampingi Dimas.
"Ais? Ayo masuk. Kak Dimas juga." ajak Nisa.
Mereka masuk, bertemu dengan Ibu Nisa untuk meminta izin menginap padanya.
"Emang, harus Nisa menginap?" tanya Ibu Nisa.
"Ais, cuma cari temen aja. Soalnya, Kak Lim pergi keluar kota, beberapa hari." jawab Ais.
"Bu, boleh, ya? Nisa sesekali nginep. Besok, belum tentu ketemu Ais lagi." rengek Nisa.
"Yaudah, pergilah. Besok kita ketemu di sekolah, untuk ambil surat kelulusan."
Nisa dan Ais kegirangan. Ia segera menyiapkan perlengkapannya, beserta seragam yang akan Ia pakai esok hari. Mereka pergi setelah pamit dengan sang Ibu.
Dimas menjadi supir mereka. Serasa tengah menjadi pengasuh dari dua orang remaja itu. Bahkan, Ais memintanya mengantar ke mall untuk beremain.
"Ais, kata Lim apa?"
"Kakak, Ais mohon. Pengen main sebentar aja. Jarang banget loh, bisa main berdua. Ngga akan marah, nanti Ais izin. Bujuknya.
" Ayo lah, Kak Dim... "Nisa mengedip-ngedipkan matanya.
"Haish, Dua remaja labil ini." cebik Dimas. Ia memutar arah, lalu menuruti keduanya menuju sebuah mall di tengah kota.
Kesenangan makin menjadi-jadi. Ais menggandeng Nisa dan berlari ke wahana permainan. Dimas berjalan santai, mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
"Seperti Om-om yang sedang mengasuh keponakannya." gerutu Dimas.
Ia pun terus mengawasi mereka dengan permainannya. Tak lupa, membayar jajanan mereka, karena Ais lupa membawa dompetnya.
"Tuan Lim, kau harus mengganti semua uangku." gerutunya kesal. Ia pun duduk, di sebuah kursi kosong sembari menunggu.
Tak lama kemudian, Hpnya berbunyi. Lim menelpon, dan digantinya ke dalam mode video call.
"Dimana kau?" tanya nya.
"Aku? Aku sedang mengawasi istrmu dan sahabatnya bermain. Kau lihat itu?" Dimas mengarahkan videonnya pada Ais yang tengah menari-nari di wahananya.
"Kau lihat? Aku seperti pengasuh hari ini. Aku lelah, banyak pekerjaan. Dan satu lagi, mereka sudah banyak menghabiskan uangku. Kau harus menggantinya."
"Ya, akan segera ku kirim. Titip mereka, aku besok pulang." Lim mematikan Hpnya.
"Ais... Sudahlah." pekiknya.
Ais menggeleng, tapi Dimas tak kehilangan akal. Ia mengeluarkan foto Lim berwajah tajam di hpnya.
"Iya, iya.... Ancemannya sadis." gerutu Ais.
"Udah, daritadi juga. Waktunya pulang, terus kita saling curhat di rumah."gandeng Nisa.
Ais teringat akan sesuatu, dan Ia pun pergi sebentar menuju tempat penjualan makanan. Ya, Ais lupa membeli Ice untuknya malam nanti, yang akan dinikmati berdua dengan sahabatnya itu. Tinggallah Nisa berdua bersama Lim.
" Kak? "
__ADS_1
" Ya, kenapa?" tanya Lim, sembari memainkan Hpnya.
"Ngga papa, cuma pengen denger suara Kakak aja."
"Jika ada yang mau kamu tanya, silahkan tanya. Saya akan jawab." ucap Dimas.
"Kakak jomblo?"
"Ya..."
"Beneran? Seganteng Kakak, jomblo?"
"Menurutmu?" lirik Dimas.
Nisa seakan tak mampu berkata apa-apa. Bahagia, tapi juga bingung dengan perasaannya. Padahal, Ais sudah mengatakan sejak awal jika Dimas memang jomblo akut.
"Apalagi?" tanya Dimas.
"Tipe wanita yang Kakak sukai, kayak apa?"
Dimas sejenak meninggalkan Hpnya. Ia kemudian melirik ke semua penjuru mall, dan menunjuk seorang wanita yang langsing, tinggi semampai, pandai berdandan, dan merawat dirinya.
"Itu..."
Nisa pun seketika melihat dirinya sendiri. Membandingkan dirinya dengan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Jauh sekali..." fikirnya.
__ADS_1