Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Sedikit mencair..


__ADS_3

"Salim..." Ais menadahkan tangannya.


"Tak perlu ku antar sampai masuk?"


"No... Ketika Kak Dim datang, mereka menatap seperti itu. Apalagi Kak Lim, pasti bisa copot matanya."


"Berarti, aku lebih tampan dari Dimas?" Bangga Lim, mengusap dagunya.


"Hiiissssh... Menyebalkan." cebik Ais. "Nanti jemputnya jangan lama. Ais tak sabar menunggu."


"Bagaimana dengan aku, berbulan-bulan harus diam menghadapimu yang aneh."


"Ah, sudahlah... Makin lama makin suka berdebat."


Ais keluar dari mobilnya, dan berlari memasuki gerbang sekolah.


"Ais, baru sampai?" sapa Naufal yang menghampirinya..


"Iya." Ais menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata pada teman kelasnya itu.


"Itu, siapa?"


"Suami... Udah, ya? Gue masuk kelas dulu." pamit Ais. Ia pun berlari menghindari semua mata yang tertuju padanya.


Naufal menatap ke arah mobil, mencari celah untuk melihat sosok suami Ais yang sebenarnya.


"Apa benar, gosip yang dikatakan Zia. Kalau, Ais menikahi pria tua? Kenapa?" fikirnya.


"Siapa pria itu? Mendekati istriku dan menatap kemari?" batin Lim.


Ia tak terlalu menggubrisnya, kembali menyetir mobil untuk pergi kekantor dengan segudang pekerjaan yang menanti.


"Diantar suami, ya? Mana suaminya, kok ngga turun?"


"Bacot...." ucap Ais, berlalu dari cibiran mereka.

__ADS_1


"Sok... Dapet Aki-aki aja bangga..."


"Bangga lah, Gue udah laku. Daripada Loe, ditolak mulu ama cowok." Ais menjulurkan lidahnya begitu puas


Zia mencebik begitu kesal. Matanya melotot semakin penuh rasa benci pada rivalnya itu. Menunggu waktu dan cara, kapan akan dapat membalas dan mempermalukannya.


"Tunggu aja."


*


Hari terasa begitu cepat. Mungkin, karena Ais memang telah menunggu waktu pulang dengan begitu semangat menggebu di dadanya.


"Bentar lagi pulaaang! Shoping time..." soraknya gembira.


"Shoping, sama siapa?" tanya Nisa.


"Kak Lim, mau ajak beli sepatu. Yang lain juga ah."


"Ikuuut..."


"Gue bosen di rumah. Ibu sekarang aneh, lebih suka marah-marah. Keuangan menipis. Andai aja Gue bisa kerja, pasti Gue kerja." curhat Nisa.


"Yaudah, nanti ikut aja. Meski cuma Gue ajak main doang nanti. Soalnya, Gue belum berani pakai duit."


Senyum terkembang di bibir mereka. Apalagi Nisa yang memang tampak sering murung akhir-akhir ini. Ais belum bisa bertanya, karena Ia sedang fokus pada ujiannya.


***


" Lara, jam berapa? "


" Jam Dua, Tuan."


" Setelah ini, jadwal kosong?"


"Iya, kenapa?"

__ADS_1


"Mau pergi, temenin Ais belanja."


"Tumben?" tanya Lara, yang memang faham dengan Bosnya itu.


"Menurutmu, apa sepatu yang pas untuk anak seusia Ais?"


"Tuan, Beliau bukan anak-anak lagi. Itu istri Tuan." tegur Lara.


"Tapi, usianya masih anak-anak. Jauh dibanding saya."


"Anak-anak, tapi bisa bikin anak."


"Lara....!"


"Iya, Tuan...."


Lara pun membuka Hpnya. Ia menunjukkan beberapa foto sebagai contoh model-model sepatu yang cantik seusia Bu Bosnya.


"Kamu, tak faham dia?"


"Kenapa?" tanya Lara bingung.


"Istri saya itu unik. Dia tak seperti gadis yang lain, Lara. Sepati cantik, boneka, dan tas lucu seperti ini? Mana dia mau?"


Lara menggaruki kepalanya. Ia lupa, jika Nyonya terlalu mudanya itu sedikit berbeda.


"Bawa, ke toko cowok saja jika begitu. Pasti, dia akan suka." jawaban terakhir Lara, setelah lelah berfikir.


"Baiklah... Aku pergi dulu, titip kantor dan semua pekerjaan pada Dimas."


"Baik..." Lara menundukkan kepala, lalu membantu Lim memakai jasnya.


Ya, Lim sesekali pergi untuk menuruti istrinya. Lara pun menghela nafas lega, karena Lim tampak sedikit berbeda kali ini.


"Mencair... Tapi, sedikit sekali. Semoga akan jadi hangat." harapnya.

__ADS_1


__ADS_2