
"Pak, surat saya mana?"
"Lah, surat apa?"
"Undangan, undangan pengumuman. Daritadi loh, Saya nunggu."
"Lah, kemana?" Pak Bowo pun kebingungan.
Ais menghela nafas kesal. Padahal, Ia sudah tak sabar ingin pulang, tapi justru ada saja penghalangnya.
"Tadi tuh ada. Kok ilang?"
"Lah, Mana Ais tahu, Bapak." jawab Ais yang mulai jengah.
Pak Bowo pun mulai mengotak atik laptopnya. Ia mencari lagi data milik Ais, dan mengetik ulang nama nya dalam sebuah undangan. Ia mencetaknya ulang, agar tak terjadi kesalah fahaman lagi antara mereka.
" Nih, jangan lupa besok lusa, orang tuamu datang." ucap Pak Bowo, memberikan secarik kertas pada Ais.
Nisa mengambilnya, dan langsung melipatnya dengan rapi.
"Ais tahu, Ais nakal. Tapi, jangan dibedain gini lah. Sama-sama bayar sekolah, juga.".
"Jangan ngomel, Ais. Tadi tuh ada." sergah Pak Bowo, terpancing kekesalannya.
Nisa langsung menyeret sahabatnya untuk pergi. Ia menghentikan taxi, dan mengajak Ais masuk ke dalam dan segera pulang kerumah masing-masing.
"Udah, gue aja yang bayar. Duit itu, lumayan buat beli paket data." Ais merebut dompet Nisa, dan memberikan selembar merah padanya.
__ADS_1
"Lah, kenapa malah ditambahin?"
"Ngga papa, sesekali. Kak Lim izinin kok, kalau buat Loe. Yang ngga boleh, kalau gue pakai foya-foya sama orang lain."
"Tengkyu...." cubit Nisa di pipi Ais.
Tiba dirumah Nisa, tampak sang Ibu tengah duduk di teras dengan beberapa pakaian untuk di jahit.
"Banyak pesenan?" tanya Ais.
"Lumayan, paling bentar lagi gue bantu. Thanks ya." lambai Nisa padanya.
Ais kembali pada perjalanannya. Pulang ke rumah, dan bertemu sang Papi mertua untuk memberikan undangan kelulusan. Pada saat itulah, hatinya begitu perih. Ia ingin sang Mama yang hadir, meski pasti akan mendapat omelan karena nilainya yang pas-pasan.
Tapi, kecupan pasti Ia dapat, sebagai tanda bangga dari sang Mama padanya.
"Iya, Ma."
"Maaf, Mama ngga bisa dateng. Jaraknya begitu jauh."
"Ngga papa, ada Papi Tama. Paling, ujung-ujungnya Pak Wil lagi yang dateng."
"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi, Lim ajak kamu kesini. Kita ketemu."
"Iya..." Ais akhirnya menangis di dalam taxi.
Ia pun mengelap air matanya, agar Lim tak tahu akan tangisan itu ketika bertemu.
__ADS_1
Taxi pun berhenti, tepat di rumah Papi Tama. Dan Ais segera membayar taxinya dan masuk ke dalam rumah.
"Pak Wil?" panggilnya.
"Ya, ada apa, Nona?"
"Papi mana? Nih, ada surat undagan buat ambil kelulusan."
"Kapan?"
"Lusa. Kalau Papi ngga bisa, Pak Wil aja ngga pala. Lumayan, ada yang dateng." jawab ais.
Pak Wil hanya mengangguk. Tampak dari wajah Ais yang tenang, tapi sebenarnya Ia tengah sangat sedih. Ia pun berbalik dan menyerahkan undangan itu pada Papi Tama.
"Lah, lusa itu kan ada terapi. Gimana?"
"Biar saya saja yang berangkat, Tuan. Karena setahu saya, Lim juga ada rapat penting hari itu."
"Astaga, kasihan sekali menantuku itu. Andai jadwalku bisa..."
"Tidak, Tuan. Jadwal itu tidak bisa diganggu gugat. Bisa kacau nanti."
Papi hanya menghela nafas panjang, dengan segala penyesalan yang ada.
Ais yang lesu, langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tanpa mengganti pakaiannya, Ia menatap foto keluarganya ketika sang Papa masih hidup.
" Ais kangen... Ketika semua berkumpul untuk mengucapkan selamat, Ais bahkan tak dapat melihat kalian sama sekali." tangisnya begitu perih.
__ADS_1