
"Kalian yakin, mau pulang hari ini?" tanya Mama Linda.
Kesedihan tampak dari wajahnya yang masih ayu itu. Rasa rindu, masih begitu dalam pada anak semata wayangnya. Tapi bagaimana lagi, resiko ketika memiliki anak perempauan adalah harus siap ditinggal untuk mengikuti suaminya.
"Maaf, Ma. Lim banyak pekerjaan. Dan Ais, juga masih mengurusi urusan akhirnya di sekolah. Apalagi, mendaftar kuliah."
"Nisa sekarang tinggal sama kita loh, Ma. Nisa jadi asisten Ais." bangganya dengan sang Mama, ketika Ia kini tak lagi sendirian.
"Nisa?"
"Ya, Ibunya ngga bolehin dia kuliah. Jadi Papi ajak dia buat ikut kita." Ais menjawab dengan begitu antusias.
Mama Linda melirik pada Lim. Bukan karena apa-apa, tapi resiko itu ada disetiap keadaan. Yang tampak baik, belum tentu sebaik kelihatannya.
"Lim? Mungkin tidak. Dia saja, perlu waktu lama untuk dapat melupakan Almira. Ataupun, hingga sekarang belum bisa." fikirnya.
Keduanya bersiap pergi seusai sarapan. Tak lupa, Mama Linda membekali Ais dengan bungkusan makanan untuknya dan Lim.
"Ngga usah, Ma." ucap Lim.
"Ngga papa, biar kalian ngga kelaperan di jalan. Jarak antara sini, hingga ketemu cafe akan lama. Apalagi, takut kalau Ais mabuk di jalan."
"Ais kemarin ngga mabuk loh." bangganya pada sang mama.
"Iya, kau tidur sepanjang jalan."
Ais hanya melirik dan memainkan bibirnya begitu kesal dengan ucapan suaminya itu.
Ais dan Lim pergi. Tinggal lah Mama Linda sendirian. Meski terselip kekhawatiran, tapi Ia tetap berusaha tenag. Yakin, jika anaknya adalah wanita yang tak mudah terpengaruh oleh keadaan.
*
"Hay Nisa."
__ADS_1
"Ais, udah dimana?"
"Ini, baru mau jalan pulang. Loe udah di rumah 'kan?"
"Ya, dari semalem. Loe mau dimasakin apa? Nanti gue masakin makanan enak."
"Ih, kamuh bisa aja." Ais tersipu dengan tawaran itu.
Lim hanya fokus menyetir, sembari menggelengkan kepalanya sesekali melihat kelakuan sang istri.
"Sudah terbiasa. Tapi, masih saja heran."
Ais mematikan Video callnya. Ia pun menyandarkan tubuhnya di bahu kursi dan berusaha mencari posisi ternyaman.
"mau tidur lagi? Masih pagi."
"Suuzon aja, sama istri. Ais cuma pengen cari posisi aja. Takut, pinggang Ais nanti sakit."
Buuughhh! Sebuah bogem mendarat di bahu Lim dengan kuat.
"Ais... Aku lagi nyetir!"
"Anak kecil mulu yang dibahas. Ais udah Sembilan belas tahun. Lagian, udah jadi istri yang sempurna 'kan? Kenapa selalu dianggap anak kecil? Ngeselin."
"Ya, karena kau gadis kecil kesayanganku."
Wajah cemberut itu berubah menjadi wajah yang tersenyum dengan sangat manis. Ais pun kemudian menggeser tempat duduknya dan menggandeng lengan Lim dengan begitu erat.
"Ah, sudahlah. Asal dia senang saja. Yang penting, aku aman." fikirnya.
Sepanjang jalan seperti itu. Tapi sesekali Ais melepas genggamannya. Apalagi ketika melihat Lim kurang nyaman. Bukan karena dia, tapi karena kondisi jalanan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Sayangnya, ketika lepas genggaman itu, mata Ais pun kembali terpejam dengan sendirinya.
__ADS_1
"Dasar, muka bantal." ledek Lim.
Ia pun menghentikan mobilnya sejenak, untuk memasangkan sabuk pengaman untuk gadis kecilnya. Wajahnya kini tepat dihadapan Ais yang tampak pulas dan menikmati tidurnya. Tangannya membelai pipi mulus itu, lalu turun ke bibir.
" Hayo, mau ngapain?" tanya Ais, yang mengagetkan Lim kala itu.
"Hanya, ingin memasang sabuk pengaman." Lim tampak gugup.
Ia pun berusaha menyingkirkan tubuhnya dari hadapan Ais. Tapi, Ais menahan bahunya.
"Kenapa?"
"Ngomong dulu...."
"Apa?" Lim semakin gugup.
"I Love You..." pinta Ais.
"Ais, jangan main-main."
"Ngomong dulu. Ngga akan Ais lepasin loh."
Lim menghela nafasnya begitu panjang, " I Love You."
"Apa? Ngga dengar?"
" I Love You,"
"Ooouuwwwwh, lagi... Lagi...." pinta Ais dengan hati yang begitu berbunga-bunga.
" I Love You, Aishwa Ulfiana Putri."
Tangan Lim naik ketengkuk Ais. Ia pun menyerang bibir mungil itu secara brutal. Begitu gemas, dan Ais sudah mampu menyesuaikan diri dengan apa yang Ia terima.
__ADS_1